Kabut Asap Kembali Selimuti Batam

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 07:07 WIB
Kabut asap tebal kembali menyelimuti Kota Batam, Rabu (23/9). Kondisi tersebut membuat kualitas udara kembali menurun, sehingga warga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Kabut asap tebal kembali menyelimuti Kota Batam, Rabu (23/9). Kondisi tersebut membuat kualitas udara kembali menurun, sehingga warga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos - Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), sejak Selasa (22/9) malam. Kondisi tersebut terpantau di sejumlah kawasan, termasuk Batuaji, Sagulung, Nagoya, dan Batuampar.

Kabut yang cukup pekat membuat jarak pandang di beberapa lokasi terlihat berkurang. Sejumlah warga juga mengeluhkan mata terasa perih saat beraktivitas di luar ruangan.

Di tengah kondisi tersebut, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat di puskesmas Kota Batam justru menunjukkan kecenderungan menurun. Dari 517 kasus pada 16 September 2026, jumlahnya menjadi 273 kasus pada 22 September.

Pantauan di lapangan pada Selasa malam hingga Rabu (23/9) siang menunjukkan kabut cukup pekat di wilayah Batuaji dan Sagulung. Kondisi serupa terlihat di kawasan Nagoya dan Batuampar.

Kondisi udara tersebut membuat sebagian warga khawatir, terutama terhadap jarak pandang pengendara dan dampaknya terhadap kesehatan.

Andika, warga Batam, mengatakan kabut asap yang kembali pekat membuat masyarakat khawatir.

“Kalau asapnya semakin pekat tentu kita khawatir. Mata juga terasa perih dan jarak pandang pengendara bisa terganggu. Kami berharap ada tindakan nyata dari pemerintah,” ujar Andika.

Ia berharap pemerintah segera mencari solusi apabila kabut asap terus berulang. Menurutnya, masyarakat juga membutuhkan informasi mengenai sumber asap dan langkah penanganannya.

Kekhawatiran terutama muncul terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak, apabila kualitas udara memburuk dan kabut asap bertahan dalam waktu lama.
Kasus ISPA Batam Turun dari 517 Menjadi 273

Di sisi lain, data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam menunjukkan jumlah kunjungan warga ke puskesmas dengan keluhan ISPA mengalami fluktuasi, tetapi secara umum cenderung menurun sepanjang periode 16-22 September.

Pada 16 September tercatat 517 kasus ISPA. Jumlah tersebut turun menjadi 358 kasus pada 17 September dan kembali turun menjadi 258 kasus pada 18 September.

Kasus kemudian tercatat 267 pasien pada 19 September. Angka tersebut kembali meningkat menjadi 390 kasus pada 21 September sebelum turun menjadi 273 kasus pada 22 September.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batam Melda Sari mengatakan data harian dari puskesmas menunjukkan kasus ISPA cenderung menurun.

“Kasus ISPA dari tanggal 16-22 September berdasarkan laporan harian dari puskesmas cenderung mengalami penurunan,” kata Melda kepada Batam Pos, Rabu (23/9) siang.

Dari 273 kasus pada 22 September, kelompok usia 19-59 tahun menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan 117 pasien.

Berikutnya kelompok usia 10-18 tahun sebanyak 55 kasus, balita 43 kasus, usia 5-9 tahun sebanyak 39 kasus, serta warga berusia di atas 60 tahun sebanyak 19 kasus.
Mentarau Catat Kasus ISPA Terbanyak

Berdasarkan wilayah pelayanan puskesmas, kasus ISPA terbanyak pada 22 September tercatat di Puskesmas Mentarau dengan 34 kasus.

Selanjutnya Puskesmas Sei Panas mencatat 23 kasus, sedangkan Puskesmas Batuaji dan Botania masing-masing 21 kasus. Puskesmas Tanjung Uncang mencatat 20 kasus.

Melda mengatakan setiap pasien yang datang ke puskesmas tetap mendapatkan penanganan sesuai gejala dan keluhan yang dialami.

“Pasien yang berkunjung ke puskesmas ditangani sesuai dengan gejala dan keluhan pasien, dan edukasi ke pasien tetap terus dilakukan,” ujarnya.
Dinkes Pantau ISPA dan Kualitas Udara

Meski kasus ISPA menunjukkan kecenderungan menurun, Dinkes Batam tetap melakukan pemantauan harian. Data dari seluruh puskesmas dilaporkan melalui sistem SIKAT ISPA Batam atau Situasi Kasus, Analisis dan Tindak Lanjut ISPA.

Sistem tersebut digunakan untuk memantau perkembangan kasus ISPA dan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut apabila terjadi perubahan kondisi di lapangan.

Selain memantau kasus kesehatan, Dinkes Batam berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memantau kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Dalam kategori ISPU, angka 0-50 masuk kategori baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan lebih dari 300 masuk kategori berbahaya.

Melda mengatakan pemantauan kasus ISPA dan kualitas udara dilakukan secara beriringan untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan masyarakat.

“Sampai saat ini Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan dengan melakukan pelaporan cepat dengan istilah SIKAT ISPA Batam, yaitu Situasi Kasus, Analisis dan Tindak Lanjut ISPA, yaitu pelaporan harian data kasus ISPA dari puskesmas, dan tetap berkoordinasi dengan dinas terkait dalam pemantauan kadar kualitas udara atau ISPU,” katanya.

Kabut asap yang disebut warga sebagai asap kiriman tersebut masih menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama jika jarak pandang menurun. Pemerintah dan instansi terkait diharapkan terus memantau kualitas udara serta perkembangan kasus gangguan pernapasan di Batam. (*)

Editor : Putut Ariyo
kualitas udara kesehatan ispa batam kabut asap