Pelayanan Air Bersih Batam Disorot DPR, BP Batam Akui Ada 18 Stress Area

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 16:42 WIB
ilustrasi air
ilustrasi air

batampos - Persoalan pelayanan air bersih di Batam mendapat sorotan Komisi VI DPR RI. Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan BP Batam di Jakarta, Kamis (17/9), anggota Komisi VI DPR RI Mufti Aimah Nurul Anam meminta penjelasan Kepala BP Batam Amsakar Achmad terkait keluhan warga yang masih kesulitan mendapatkan air.

Sorotan tersebut muncul ketika BP Batam menargetkan pendapatan Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan pengelolaan limbah mencapai Rp572,36 miliar atau 23,48 persen pada 2027.

Pada saat yang sama, BP Batam mengalokasikan Rp29,41 miliar untuk pengembangan fasilitas air bersih dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Mufti mempertanyakan target pendapatan tersebut di tengah masih adanya warga yang kesulitan memperoleh pasokan air. Bahkan, sebagian warga disebut harus menunggu hingga dini hari agar air mengalir ke rumah.

“Banyak masyarakat Batam yang menunggu air mengalir sampai jam 1 dini hari. Di berbagai tempat juga, sampai berhari-hari tidak dapat air,” kata Mufti dalam rapat tersebut.

Politikus PDI Perjuangan itu meminta BP Batam memberikan kepastian mengenai akses air bersih bagi masyarakat. Menurut dia, persoalan tersebut menjadi semakin penting seiring pesatnya pertumbuhan investasi di Batam.

“Kalau memang kondisi air di Batam mengkhawatirkan, ini cukup tragis. Di tengah investasi yang marak, seperti AI dan data center yang cukup banyak membutuhkan air, ternyata banyak masyarakat yang masih membutuhkan air bersih,” ujarnya.

“Kami minta jawaban atas hal itu,” lanjutnya.

 

BP Batam Akui Ada 18 Stress Area

Menjawab sorotan tersebut, Amsakar mengungkapkan sedikitnya terdapat 18 wilayah di Batam yang saat ini mengalami tekanan pelayanan air atau masuk kategori stress area.

Menurut Amsakar, salah satu persoalan utama pelayanan air bersih Batam adalah kondisi jaringan perpipaan yang sudah berusia puluhan tahun.

Sebagian jaringan pipa, kata dia, telah berumur sekitar 30 hingga 40 tahun. Bahkan, terdapat jaringan yang dibangun sejak era 1970-an.

“Sehingga ketika ada satu kebocoran, kita perbaiki di satu titik, ternyata di ujung mulai bermasalah,” ujarnya.

Kondisi jaringan yang menua membuat perbaikan harus dilakukan secara bertahap. BP Batam mulai melakukan revitalisasi pada sejumlah titik, terutama jaringan utama yang mengalirkan air menuju kawasan permukiman.

“Itu sudah kami mulai,” katanya.

Untuk menangani gangguan pasokan dalam jangka pendek, BP Batam juga menyalurkan air menggunakan mobil tangki ke permukiman yang terdampak.

Amsakar mencontohkan adanya kelompok warga yang sempat berencana menggelar aksi demonstrasi akibat persoalan air. Rencana tersebut batal setelah dirinya turun langsung ke permukiman dan memastikan kebutuhan air warga dipenuhi melalui suplai mobil tangki.

Waduk Batam Tak Lagi Cukup

Persoalan air bersih di Batam tidak hanya berkaitan dengan jaringan distribusi. Sumber air baku yang selama ini mengandalkan waduk juga menghadapi tekanan seiring meningkatnya kebutuhan.

Dalam rapat yang sama, Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mengatakan Batam memiliki tujuh waduk yang sumber airnya bergantung pada curah hujan dan selama ini menjadi sumber air baku masyarakat.

Namun, pertumbuhan penduduk dan investasi membuat kebutuhan air terus meningkat, sementara kapasitas sumber air baku memiliki keterbatasan.

“Makanya data center masuk, kami mengharuskan (perusahaan) data center (untuk menyiapkan) SWRO,” kata Li Claudia.

BP Batam kini menyiapkan sejumlah skenario untuk mengatasi kebutuhan air, mulai dari langkah jangka pendek hingga rencana jangka panjang.

Salah satu opsi yang dikaji adalah mendatangkan air baku dari Kabupaten Lingga ke Batam.

“Karena tidak mungkin kita harapkan waduk. Dulu cukup, sekarang tidak,” ujarnya.

Amsakar mengatakan BP Batam juga tengah mengkaji kemungkinan mendatangkan air baku dari Lingga untuk memenuhi kebutuhan Batam.

“Kami akan mengundang investor jika nanti berminat untuk suplai air baku ke Batam,” ujarnya.

Selain mendatangkan air baku dari luar Batam, BP Batam menyiapkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai salah satu alternatif sumber air.

Amsakar memastikan kebutuhan air untuk pengembangan data center tidak akan mengganggu ketersediaan air yang bersumber dari waduk.

Jaringan Tua Jadi Tantangan

Selain keterbatasan sumber air baku, kondisi jaringan perpipaan yang telah berusia puluhan tahun juga menjadi tantangan dalam meningkatkan pelayanan air bersih.

Li Claudia mengatakan peremajaan jaringan harus dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu pasokan air yang masih tersedia.

“Kalau dilakukan secara cepat dan keseluruhan, belum tentu air di Batam cukup untuk didistribusikan ke masyarakat,” katanya.

Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah kawasan di Batam yang belum memiliki jaringan instalasi air yang memadai.

“Di Batam banyak daerah tertentu tidak ada air, instalasinya pun tidak ada. Nah, kita mulai merapikan. Mudah-mudahan di zaman kami banyak yang bisa didapatkan,” ujarnya.

BP Batam juga tengah melakukan penataan terhadap sejumlah kawasan permukiman yang berada di luar jaringan pelayanan. Penataan tersebut dilakukan agar sistem distribusi air dapat dibangun secara lebih teratur dan aman.

Di tengah tekanan pelayanan tersebut, kebutuhan air Batam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan investasi. Data center menjadi salah satu sektor yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.

Kondisi tersebut membuat BP Batam harus menjalankan dua pekerjaan sekaligus, yakni mencari sumber air alternatif dan membenahi jaringan distribusi yang sudah tua.

Dengan demikian, persoalan air bersih Batam bukan hanya menyangkut ketersediaan air di waduk, tetapi juga kapasitas pengolahan serta kemampuan jaringan menyalurkan air hingga ke rumah warga.

Keberadaan 18 wilayah yang masuk kategori stress area menunjukkan tekanan pelayanan sudah dirasakan di tingkat masyarakat. Sementara rencana SWRO, opsi pasokan air baku dari Lingga, serta revitalisasi jaringan menjadi bagian dari langkah BP Batam untuk menghadapi kebutuhan air yang terus meningkat. (*)

Editor : Putut Ariyo
data center bp batam amsakar achmad Swro Air Bersih Batam