batampos - Bagi keluarga yang sedang berduka, waktu seolah berjalan lebih cepat. Ketika jenazah harus segera dimakamkan, ada pekerjaan yang harus lebih dulu diselesaikan sebelum iringan pelayat tiba di TPU Temiang. Di saat itulah para penggali kubur mulai bekerja, menggali tanah untuk menyiapkan tempat peristirahatan terakhir.
Mereka tak mengenal jam kerja. Pagi, siang, sore hingga selepas Magrib, para penggali kubur harus siap ketika kabar duka datang. Bahkan ketika liang belum tersedia dan pemakaman harus segera dilakukan, mereka mengaku tak pernah menolak.
“Kalau ada yang meninggal sore dan langsung dimakamkan, kami harus kembali lagi. Biasanya kami minta penerangan karena memang di sini tidak ada penerangan,” ujar salah seorang petugas penggali kubur TPU Temiang.
Di area makam muslim TPU Temiang, terdapat tujuh petugas. Setiap hari, enam orang bertugas menggali makam, sedangkan satu lainnya mendapat giliran libur.
Dalam sehari, mereka biasanya menggali empat hingga lima liang kubur. Namun, jumlah itu bisa melonjak ketika banyak kabar duka datang bersamaan. Mereka pernah menyelesaikan hingga 15 liang dalam sehari.
Baca Juga: Amsakar Minta Guru Al-Qur’an Tak Terpaku Metode Lama
Untuk satu liang kubur, dibutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Pekerjaan itu dilakukan menggunakan peralatan yang mereka miliki sendiri. Dukungan peralatan juga diberikan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), biasanya setiap tiga bulan.
Meski terlihat sederhana, menggali makam membutuhkan tenaga dan kesabaran. Terlebih ketika lokasi yang digali banyak ditumbuhi pepohonan.
“Ada juga kendala kalau banyak pohon. Biasanya banyak urat kayu di dalam tanah, jadi peralatan bisa patah,” katanya.
Sebaliknya, hujan beberapa hari terakhir justru membuat pekerjaan sedikit lebih ringan. Tanah yang sebelumnya keras menjadi lebih lunak.
“Kalau musim hujan begini, tanah agak lunak. Biasanya bagian atas saja yang keras, setelah itu ke bawah sudah lunak,” ujarnya.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya tanah, hujan, atau peralatan. Mereka harus siap bekerja ketika sebagian besar orang memilih pulang dan beristirahat.
Pernah pula mereka menggali makam selepas Magrib karena keluarga meminta jenazah segera dimakamkan. Dalam kondisi seperti itu, penerangan menjadi persoalan tersendiri karena lokasi makam belum memiliki penerangan yang memadai.
“Kalau diminta yayasan, kami harus siap. Kami tidak pernah menolak kalau mendadak dan makam belum digali,” katanya.
Sejauh ini, para petugas menyebut tidak ada kendala besar dalam menjalankan tugas. Rutinitas menggali makam telah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Empat, lima, bahkan belasan liang bisa mereka gali dalam sehari. Setelah pekerjaan selesai, mereka mungkin tak lagi terlihat ketika keluarga datang membawa jenazah dan para pelayat mulai berkumpul.
Baca Juga: Kabut Asap Kiriman Kalimantan Selimuti Batam, Ganggu Jarak Pandang
Namun, jejak pekerjaan mereka tetap tertinggal. Sebuah liang yang telah siap menjadi tempat peristirahatan terakhir seseorang.
Di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga, para penggali kubur bekerja dalam diam. Tak banyak yang mengenal mereka, apalagi mengetahui bagaimana mereka bekerja ketika kabar kematian datang di luar jam biasa.
Bagi mereka, tidak ada istilah menunggu besok.
Ketika seseorang meninggal dan keluarga membutuhkan tempat untuk memakamkannya, mereka harus siap menggali, seberapa pun dalamnya tanah dan kapan pun waktunya. (*)
Editor : Yofi Yuhendri