batampos – Setelah hampir tiga tahun menunggu, keran air kembali mengalir di rumah-rumah warga Tanjung Sengkuang, Batu Ampar, Batam. Sejak 20 September 2026, pasokan air bersih kembali menjangkau 11 RW dengan lebih dari 1.200 sambungan pelanggan yang sebelumnya terdampak.
Pemulihan pasokan tersebut menjadi bagian dari penguatan jaringan distribusi air yang dilakukan Badan Pengusahaan (BP) Batam dari sisi hulu hingga hilir.
Di tengah pemulihan jaringan, BP Batam juga menghadapi tantangan lain, yakni menjaga pasokan air masyarakat saat curah hujan rendah sekaligus memenuhi kebutuhan industri baru, termasuk data center.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan kebutuhan air harus dihitung seiring dengan pertumbuhan investasi. Untuk industri dengan kebutuhan air besar, BP Batam mendorong penggunaan sumber air mandiri melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
“Untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,” kata Amsakar.
SWRO merupakan teknologi desalinasi yang mengolah air laut menjadi air tawar. Di Batam, pemanfaatannya diarahkan antara lain untuk pengembangan data center di Kabil dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa.
Dari sekitar 10 rencana pengembangan data center di Batam, satu di antaranya disebut telah beroperasi, yakni Nongsa Digital Park (NDP). Pengembang lainnya diarahkan menyiapkan sumber air secara mandiri sehingga kebutuhan industri tidak sepenuhnya bergantung pada air baku dari waduk.
Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kapasitas SWRO di Kabil dan KEK Nongsa diproyeksikan mencapai sekitar 750 liter per detik pada tahap awal dan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik.
“Ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan pelaku usaha, tanpa mengganggu kapasitas produksi waduk untuk masyarakat Kota Batam ke depan,” ujar Amsakar.
Waduk Batam Dipantau Setiap Hari
Kebijakan diversifikasi sumber air tersebut menjadi penting karena kondisi sumber air baku Batam tengah menghadapi tekanan akibat rendahnya intensitas hujan.
Waduk Nongsa, misalnya, berada pada Tinggi Muka Air (TMA) 5,96 meter. Air baku masih berada pada cekungan yang dapat dimanfaatkan untuk produksi Instalasi Pengolahan Air (IPA). Namun, pengambilan air dikendalikan agar cadangan waduk dapat bertahan lebih lama.
BP Batam memantau penurunan TMA setiap hari. Jika laju penurunan terlalu cepat, pengambilan air baku akan dikurangi hingga hujan kembali turun.
Kondisi serupa terjadi di Duriangkang, Sei Ladi, Sei Harapan, Tembesi, dan Muka Kuning. Penurunan tampungan terjadi akibat rendahnya intensitas hujan.
Secara umum, cadangan air baku masih diperkirakan mampu bertahan lebih dari dua bulan, meski tingkat ketahanannya berbeda di setiap waduk.
Saat ini kebutuhan air bersih Batam berada di kisaran 3.700 liter per detik. Produksi rata-rata sekitar 4.500 liter per detik dengan tingkat kehilangan air 16 persen. BP Batam menyebut masih terdapat surplus sekitar 80 liter per detik.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah berada dalam situasi yang sama. Nongsa dan Sei Harapan menjadi kawasan yang terus dipantau karena sumber airnya berkaitan langsung dengan pasokan sejumlah wilayah, seperti Nongsa, Sekupang, Tiban, dan Tanjung Riau.
Untuk Nongsa, produksi saat ini dipertahankan sekitar 45 liter per detik karena penurunan lebih jauh berpotensi berdampak terhadap masyarakat di sekitarnya.
Siapkan Skenario Hadapi Kemarau
Menghadapi kemungkinan kemarau yang berlanjut, BP Batam menyiapkan sejumlah skenario. Salah satunya berkoordinasi untuk pelaksanaan tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna membantu mengisi kembali waduk.
BP Batam juga menyiapkan pemanfaatan sejumlah embung. Dua opsi yang dikaji adalah memompa air dari embung untuk mengisi waduk terdekat atau membangun IPA baru di sekitar embung untuk langsung menyalurkan air ke jaringan distribusi utama.
Sementara itu, skema distribusi air secara bergilir masih dikaji. BP Batam mempertimbangkan dampaknya terhadap sistem perpipaan serta tingkat kesulitan pemulihan aliran apabila pengaturan bergilir diterapkan.
Dari sisi jaringan, pembangunan segmen pipa jaringan sentral Sukajadi-Awal Bros (M3G) serta segmen Simpang Jam-Tangki Ozon-Bukit Senyum kini mencapai sekitar 91 persen.
Penguatan jaringan tersebut diharapkan meningkatkan daya suplai ke Bengkong, Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Jodoh, dan wilayah sekitarnya.
BP Batam juga membangun IPA baru Sei Ladi berkapasitas 50 liter per detik untuk menambah daya dorong sekaligus menjaga kontinuitas pasokan.
Dari Waduk ke Air Laut
Dalam jangka panjang, BP Batam tidak hanya mengandalkan waduk sebagai sumber air baku. Konsep Batam Integrated Total Water Management disiapkan untuk memperbanyak sumber air sekaligus memperkuat sistem penyediaan air bersih.
BP Batam menargetkan sumber air melalui SWRO mencapai 2.500 liter per detik pada 2045. Sementara itu, bauran air dari sistem daur ulang ditargetkan 500 liter per detik, sedangkan pemanfaatan embung dan stormwater juga ditargetkan 500 liter per detik.
Selain itu, BP Batam masih melakukan studi untuk pengembangan waduk laut serta kemungkinan impor air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana sekitar 3.000 liter per detik.
Langkah tersebut disiapkan untuk menghadapi kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 liter per detik pada 2045.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra sebelumnya menegaskan pengembangan data center harus dibarengi dengan pembangunan sumber air sendiri.
“Data center di Batam kami wajibkan untuk membangun SWRO sendiri agar tidak mengganggu kebutuhan air masyarakat Batam,” kata Li Claudia dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPR RI.
Bagi BP Batam, skema tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan industri. Air hasil produksi SWRO juga berpeluang dimanfaatkan lebih luas apabila kapasitas produksi mencukupi dan infrastruktur distribusinya memungkinkan.
Amsakar mengatakan pemanfaatan tersebut tetap bergantung pada kapasitas produksi, kualitas air, dan kesiapan jaringan.
“Jadi bukan hanya industrinya yang kita pikirkan. Kita juga melihat bagaimana investasi ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Kalau kapasitasnya memungkinkan dan infrastrukturnya siap, tentu ada peluang untuk dimanfaatkan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Amsakar, pertumbuhan investasi harus berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur dasar.
“Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan,” katanya.
Hampir Tiga Tahun Menunggu, Air Kembali
Di tengah strategi jangka panjang tersebut, dampak paling dekat dari penguatan sistem air dirasakan warga Tanjung Sengkuang.
Setelah hampir tiga tahun menghadapi persoalan pasokan, air kembali mengalir melalui jaringan perpipaan sejak 20 September 2026.
Aliran tersebut menjangkau RW 01, RW 02, RW 03, RW 04, RW 05, RW 08, RW 10, RW 11, RW 12, RW 13, dan RW 17. Jumlah pelanggan terdampak sebelumnya diperkirakan lebih dari 1.200 sambungan.
Ketua RW 08 Tanjung Sengkuang Arofah mengatakan perubahan paling terasa karena warga tidak lagi harus mengandalkan permintaan air melalui mobil tangki.
“Alhamdulillah semua lancar dan sudah mengalir semua. Karena sudah tidak ada lagi mengajukan permohonan WT (water tank) ke ABH dari masing-masing korlap di wilayah RW,” kata Arofah saat ditemui di rumahnya, Rabu (23/9).
Di RW 08, sebanyak 227 pelanggan yang sebelumnya terdampak kini kembali mendapatkan pasokan air bersih melalui sambungan pipa ABH.
Menurut Arofah, tekanan air yang masuk bahkan lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Sejumlah sambungan pipa warga sempat mengalami kebocoran atau terlepas, terutama pada malam hari ketika tekanan air meningkat.
“Air mengalirnya kencang sekali. Pressure (tekanan)-nya lebih tinggi sekarang daripada dulu. Hampir semua merasakan. Banyak sambungan pipa yang jebol, apalagi kalau malam,” ujarnya.
Pada sejumlah titik dengan kontur lebih tinggi, aliran terkadang melemah pada pagi hari. Namun, menurut Arofah, aliran kembali normal sekitar pukul 08.00.
“Pada dasarnya hidup terus 24 jam. Hanya di beberapa titik tertinggi, seperti di tempat saya, nanti sekitar pukul 06.00 mati. Tapi sekitar pukul 08.00 sudah hidup lagi,” katanya.
Sebelum pasokan kembali normal, warga Tanjung Sengkuang harus menghadapi distribusi air secara bergantian. Permintaan air yang awalnya disampaikan melalui layanan ABH kemudian berkembang menjadi koordinasi melalui RT, RW hingga koordinator lapangan ketika wilayah terdampak semakin luas.
Mobil tangki menjadi penopang utama selama jaringan perpipaan tidak berjalan normal. Keterbatasan armada membuat sebagian warga harus membeli air dari penyedia swasta.
Kini, situasinya berubah. Arofah berharap perbaikan pasokan tersebut dapat dipertahankan sehingga warga tidak kembali bergantung pada air tangki.
“Kami mengucapkan terima kasih karena wilayah kami, khususnya RW 08 dan Tanjung Sengkuang pada umumnya, sudah mengalir. Kami sangat mengapresiasi gerak cepat Pak Amsakar dan Bu Li Claudia dengan memperhatikan bagaimana percepatan mengalirnya air ke wilayah kami,” ujarnya.
Hal senada disampaikan warga Tanjung Sengkuang lainnya, Khatijah. Ia mengaku senang karena tidak lagi harus begadang hingga dini hari untuk menampung air untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) seperti sebelumnya.
Menurut dia, aliran air kini dapat dikatakan tersedia selama 24 jam, meski sesekali melemah pada jam-jam ketika penggunaan air meningkat.
“Misalnya pagi hari saat orang mau kerja atau sekolah, itu sekitar pukul 06.00 pagi sampai pukul 08.00, atau sore pas pulang kerja dari mau magrib hingga usai isya, setelah itu mengalir lagi,” katanya.
Bagi BP Batam, pekerjaan menjaga ketersediaan air tidak berhenti ketika keran kembali mengalir. Pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, dan data center akan terus meningkatkan kebutuhan air.
Karena itu, penguatan dilakukan dari dua sisi sekaligus, yakni memperbaiki jaringan dan kapasitas produksi yang ada sembari mencari sumber air baru di luar ketergantungan terhadap waduk.
Dari waduk, embung, air daur ulang hingga air laut, BP Batam mulai menyiapkan bauran sumber air untuk memenuhi kebutuhan Batam hingga 2045.
Targetnya, pertumbuhan investasi berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur dasar, termasuk memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat tetap terjaga. (*)
Editor : Putut Ariyo