batampos - Kabut asap masih terlihat di sejumlah wilayah Batam, Senin (28/9). Meski hujan turun dalam beberapa hari terakhir dan kondisi udara mulai membaik, sumber asap yang memengaruhi Batam kini lebih banyak berasal dari Jambi dan Sumatera Selatan.
Kepala BMKG Batam yang juga memimpin Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, mengatakan hujan mulai mengurangi aktivitas pembakaran dan konsentrasi asap. Sementara asap dari Kalimantan yang sebelumnya turut memengaruhi Batam kini tidak lagi memasuki wilayah Batam.
“Sumber-sumbernya masih dari Sumatera Selatan dan Jambi. Kalau asap yang tumbuh di Kalimantan itu sudah tidak memasuki wilayah Batam,” kata Ramlan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (28/9).
Menurut dia, kabut asap yang tersisa di Batam saat ini relatif tipis. Pergerakannya dipengaruhi arah angin dari wilayah sumber menuju Kepulauan Riau.
“Memang masih ada tipis-tipis karena hujan. Sumber asap saat ini lebih banyak di wilayah Jambi,” ujarnya.
Pantauan BMKG pada Senin pukul 11.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 di Batam mencapai 58 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut tercantum dalam kategori tidak sehat pada laman pemantauan kualitas udara BMKG.
Baca Juga: Kabut Asap, Sekolah di Kepri Boleh Terapkan BDR
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, yakni 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Pengukurannya dilakukan BMKG menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring dengan satuan µg/m³.
Forecaster BMKG, Rayi Anggraeni, mengatakan jarak pandang di Batam saat ini berkisar 3 hingga 5 kilometer. Kondisi tersebut masih tergolong cukup baik untuk aktivitas penerbangan, meski jarak pandang perlu terus dipantau apabila konsentrasi asap meningkat.
“Jarak pandang 3–5 kilometer,” kata Rayi.
Ramlan menjelaskan jarak pandang pada Senin pagi juga sudah membaik. Untuk penerbangan, jarak pandang di atas 2 kilometer masih relatif memadai. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi apabila jarak pandang turun di bawah 2 kilometer, terlebih mendekati 1 kilometer.
“Kalau tadi pagi sudah sangat membaik. Saat ini jarak pandang di atas 3-4 kilometer masih cukup bagus. Yang berbahaya itu di bawah 2 kilometer atau 1 kilometer,” ujarnya.
Data BMKG menunjukkan angin di Batam bergerak dengan kecepatan sekitar 9–18 kilometer per jam, dari arah tenggara hingga barat daya. Pola angin tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan asap dari wilayah lain terbawa menuju Kepulauan Riau.
Rayi mengatakan berdasarkan arah angin, masih terdapat kemungkinan asap berasal dari wilayah lain di luar Batam. Dalam pembaruan keterangannya, ia menyebut sumber asap berpotensi berasal dari Sumatera bahkan daerah lain.
Baca Juga: Asap Karhutla Kembali Terdeteksi di Kepri, PM2.5 Batam Capai 40,1
Citra sebaran asap BMKG pada 28 September juga memperlihatkan keberadaan asap di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Titik panas terpantau tersebar di berbagai daerah Indonesia, dengan konsentrasi cukup banyak di Sumatera dan Kalimantan.
Namun, berdasarkan keterangan terbaru Ramlan, asap dari Kalimantan tidak lagi memasuki Batam. Sumber yang saat ini lebih berpengaruh terhadap Batam adalah wilayah Jambi dan Sumatera Selatan. (*)
Editor : Yofi Yuhendri