batampos - Ancaman krisis air di Batam belum berakhir. Setelah Waduk Nongsa dan Muka Kuning mengalami penyusutan, kondisi serupa kini terlihat di Waduk Sei Harapan, Sekupang. Area yang sebelumnya tergenang mulai berubah menjadi tanah kering dan semak.
Waduk Sei Harapan di Kelurahan Tanjung Riau merupakan salah satu sumber air baku penting Batam. Dibangun pada 1978 dan mulai beroperasi setahun kemudian, waduk ini memiliki daerah tangkapan air (DTA) sekitar 993,02 hektare dengan kapasitas tampung sekitar 3,637 juta meter kubik.
Pantauan Batam Pos, Senin (28/9), menunjukkan garis bekas genangan telah menjauh dari bibir waduk. Air diperkirakan menyusut lebih dari 50 meter dari batas genangan sebelumnya.
Ilham, warga Tiban yang kerap memancing di sekitar waduk, mengatakan penyusutan telah terjadi hampir setahun terakhir.
“Sudah satu tahun ini, Waduk Sei Harapan terus mengalami penyusutan,” kata Ilham.
Ia khawatir kondisi tersebut berdampak terhadap ketersediaan air bagi masyarakat Sekupang dan sekitarnya.
Baca Juga: Cadangan Air Waduk Nongsa Tinggal 2 Pekan, Produksi Dipangkas
Pendiri Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, menilai penyusutan waduk tidak hanya dipengaruhi perubahan iklim dan berkurangnya curah hujan. Menurutnya, perlindungan kawasan DTA juga menjadi faktor penting dalam menjaga kemampuan waduk.
“Penyusutan waduk bukan hanya karena kurangnya perlindungan kawasan DTA. Ketika kawasan DTA dialokasikan untuk kepentingan lain, itu akan menggerogoti kemampuan dan umur waduk tersebut,” ujarnya.
Hendrik mengatakan Batam sangat bergantung pada waduk tadah hujan sehingga kawasan resapan harus dijaga. Jika sumber air terus mengalami tekanan, masyarakat akan menjadi pihak yang merasakan dampaknya.
“Ini menjadi peringatan bagi pemerintah bagaimana melindungi objek vital sumber daya publik. Di tengah krisis iklim, kita menghadapi krisis air yang nantinya bisa berkaitan dengan persoalan lain,” katanya.
Akar Bhumi berencana meninjau sejumlah waduk di Batam untuk menghimpun data kondisi DTA dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Untuk jangka panjang, Hendrik mendorong pemulihan kawasan resapan, termasuk penanaman pohon.
Di sisi lain, PT Air Batam Hilir (ABH) mengakui kondisi Waduk Sei Harapan perlu terus dipantau. Juru Bicara ABH Ginda Alamsyah mengatakan waduk tersebut menopang pelayanan air minum di sejumlah kawasan, termasuk Sei Harapan, Telkom, Kawasan Industri Sekupang, Patam Lestari, Tiban dan sekitarnya.
Per 27 September 2026, produksi air dari sistem Sei Harapan tercatat sekitar 242 liter per detik (LPS). Menurut Ginda, produksi sangat bergantung pada kondisi sumber air, terutama curah hujan dan volume tampungan waduk.
“Waduk yang mengandalkan air hujan sangat dipengaruhi oleh jumlah dan pola curah hujan di daerah tangkapan air,” ujarnya.
ABH bersama pihak terkait terus memantau kondisi sumber air dan menyesuaikan pengoperasian sistem. ABH berharap curah hujan kembali meningkat sehingga tampungan Waduk Sei Harapan dapat terisi dan ketersediaan air baku tetap terjaga. (*)
Editor : Yofi Yuhendri