Kabut Asap Selimuti Batam

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 05:55 WIB
Kabut asap kiriman terlihat makin pekat menyelimuti kawasan Kota Batam, Senin (28/9). Kabut asap ini menyebabkan kualitas udara jadi tak sehat. FOTO: Cecep Mulyana/Batam Pos
Kabut asap kiriman terlihat makin pekat menyelimuti kawasan Kota Batam, Senin (28/9). Kabut asap ini menyebabkan kualitas udara jadi tak sehat. FOTO: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Senin (28/9). Kualitas udara di sejumlah wilayah masuk kategori tidak sehat setelah konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 67,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 12.00 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut asap yang saat ini paling berpengaruh terhadap kondisi udara Batam berasal dari Jambi dan Sumatera Selatan.

Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas pendidikan. Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi belajar dari rumah (BDR) mulai Selasa (29/9) bagi siswa PAUD, SD, dan SMP, baik negeri maupun swasta.

Sementara itu, kebijakan untuk jenjang SMA dan SMK diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara di wilayahnya.

Langit Batam berubah abu-abu pada Senin siang. Kabut asap terlihat menutupi sebagian pandangan di sejumlah ruas jalan. Dari kawasan Fly Over Sei Ladi di Jalan Gajah Mada, bangunan di kejauhan tampak samar.

Kepala BMKG Batam yang juga memimpin Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, mengatakan hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir mulai membantu mengurangi aktivitas pembakaran dan konsentrasi asap.

Namun, asap dari Jambi dan Sumatera Selatan masih terbawa angin menuju wilayah Kepri.

“Sumber-sumbernya masih dari Sumatera Selatan dan Jambi. Kalau asap yang tumbuh di Kalimantan itu sudah tidak memasuki wilayah Batam,” kata Ramlan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (28/9).

Menurut Ramlan, asap yang berada di Batam saat ini relatif lebih tipis dibandingkan kondisi sebelumnya. Pergerakannya dipengaruhi arah angin dari wilayah sumber menuju Kepri.

“Memang masih ada tipis-tipis karena hujan. Sumber asap saat ini lebih banyak di wilayah Jambi,” ujarnya.

Meski demikian, kualitas udara masih perlu diwaspadai. Pantauan BMKG pada pukul 11.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 58 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat. Angka tersebut meningkat menjadi 67,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 12.00 WIB.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. BMKG mengukur konsentrasi partikulat tersebut menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring dengan satuan mikrogram per meter kubik.

Forecaster BMKG Rayi Anggraeni mengatakan jarak pandang di Batam berada pada kisaran 3 hingga 5 kilometer. Kondisi tersebut masih memungkinkan aktivitas penerbangan berjalan, tetapi tetap perlu dipantau apabila konsentrasi asap kembali meningkat.

“Jarak pandang 3–5 kilometer,” kata Rayi.

Ramlan mengatakan jarak pandang di Batam pada Senin pagi juga telah membaik. Untuk penerbangan, jarak pandang di atas 2 kilometer masih relatif memadai. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi apabila jarak pandang turun di bawah 2 kilometer, terlebih mendekati 1 kilometer.

“Kalau tadi pagi sudah sangat membaik. Saat ini jarak pandang di atas 3–4 kilometer masih cukup bagus. Yang berbahaya itu di bawah 2 kilometer atau 1 kilometer,” ujarnya.

Data BMKG menunjukkan angin di Batam bergerak dengan kecepatan sekitar 9–18 kilometer per jam dari arah tenggara hingga barat daya. Pola angin tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan asap dari wilayah sumber terbawa menuju Kepri.

Citra sebaran asap BMKG pada 28 September juga menunjukkan keberadaan asap di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Namun, berdasarkan keterangan terbaru Ramlan, asap dari Kalimantan tidak lagi memasuki Batam.

Sumber asap yang saat ini lebih berpengaruh terhadap kondisi udara Batam adalah Jambi dan Sumatera Selatan.

PAUD hingga SMP mulai BDR

Di tengah kondisi kualitas udara tersebut, Pemko Batam mengambil langkah untuk mengurangi paparan kabut asap terhadap peserta didik.

Pembelajaran tatap muka bagi siswa PAUD, SD, dan SMP dialihkan menjadi BDR mulai Selasa (29/9). Kebijakan tersebut berlaku bagi sekolah negeri maupun swasta dan belum menetapkan batas waktu berakhirnya.

Pembelajaran tatap muka akan kembali dilaksanakan setelah kondisi udara dinilai membaik.

“Surat edaran Wali Kota Batam itu berlaku mulai besok, dari PAUD, SD, SMP, sampai waktu yang belum ditentukan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Hendri Arulan saat dikonfirmasi Senin petang.

Hendri mengatakan kebijakan tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan kualitas udara di Batam. Jika kondisi membaik, Dinas Pendidikan akan kembali mengeluarkan pemberitahuan mengenai pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

“Kalau seandainya memang sudah membaik, ya kita tentu surati kembali untuk pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

Selama BDR, sekolah diberi keleluasaan mengatur metode pembelajaran. Pada hari pertama, sekolah dapat memberikan penugasan kepada siswa. Pada hari berikutnya, pembelajaran dapat dilakukan secara daring atau menggunakan metode lain sesuai kondisi masing-masing sekolah.

“Jadi mungkin sifatnya penugasan besok. Tapi hari berikutnya kita atur. Kepala sekolah di surat itu menyebutkan, artinya sekolah masing-masing mengatur proses pembelajaran seperti apa, mengontrol para guru, dan proses pembelajaran itu tetap berlangsung,” kata Hendri.

Meski siswa belajar dari rumah, guru tetap diminta masuk ke sekolah. Fasilitas pembelajaran dan pengelolaan kegiatan belajar tetap berada di satuan pendidikan.

Pemko Batam juga meminta orang tua mengawasi aktivitas anak selama BDR. Hendri mengingatkan agar kebijakan belajar dari rumah tidak membuat anak justru lebih banyak beraktivitas di luar rumah.

“Kami harapkan kepada orang tua tetap memantau dan membatasi aktivitas anak. Walaupun anak-anak ini belajar dari rumah, kalau bisa jangan dibiarkan anak ini nanti Pemerintah Kota Batam mengarahkan mereka belajar di rumah, tapi nanti di rumah mereka keluar juga. Kan percuma,” ujarnya.

Orang tua diminta memastikan anak tetap berada di dalam rumah dan mengurangi aktivitas di ruang terbuka. Jika harus keluar untuk keperluan tertentu, anak dianjurkan menggunakan masker.

SMA dan SMK menyesuaikan kondisi udara

Sementara itu, kebijakan untuk jenjang SMA dan SMK di Kepri tidak diseragamkan. Dinas Pendidikan Provinsi Kepri menyerahkan keputusan kepada masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara di wilayahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kepri Andi Agung mengatakan kualitas udara di tujuh kabupaten dan kota di Kepri berbeda-beda. Karena itu, kebijakan pembelajaran perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

“Pada satuan pendidikan masing-masing, apakah tetap belajar langsung atau belajar dari rumah, biarkan daerah yang mengambil langkah,” ujar Andi Agung saat ditemui di Batam Centre, Senin (28/9).

Sekolah diminta tidak hanya mengandalkan pengamatan visual terhadap kondisi kabut asap. Kepala sekolah dapat berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mengetahui kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

“Kalau memang di atas 110 itu berpotensi ISPA bagi anak. Kesehatan anak-anak yang utama bagi kita,” kata Andi Agung.

Menurut dia, kebijakan pembelajaran tidak dapat diseragamkan karena kondisi cuaca, geografis, dan tingkat paparan asap di setiap daerah berbeda.

Natuna, misalnya, masih menerapkan BDR. Kebijakan tersebut dapat berbeda dengan daerah lain yang memiliki kondisi kualitas udara relatif lebih baik.

“Mungkin seperti Natuna masih BDR. Kita tidak bisa samakan beberapa daerah,” ujarnya.

Andi Agung mengatakan terdapat dua surat edaran yang menjadi pedoman pemerintah daerah dalam menyikapi kegiatan pembelajaran di tengah kabut asap, yakni surat edaran Disdik Kepri dan surat edaran yang dikeluarkan Sekretaris Daerah Kepri.

“Kalau sudah mengganggu betul bagi anak-anak, kita serahkan semua keputusan ke satuan pendidikan,” katanya.

“Intinya pertimbangan kesehatan itu yang utama,” tegas Andi Agung.

Polisi imbau pengendara waspada

Selain sektor pendidikan, kondisi jarak pandang yang menurun juga menjadi perhatian kepolisian. Direktur Lalu Lintas Polda Kepri Kombes Pol Gathut Bowo meminta masyarakat memastikan kendaraan dalam kondisi baik sebelum bepergian.

“Yang pertama tentunya cek kondisi kendaraan, terutama lampu. Lampu kendaraan harus hidup,” kata Gathut, Senin (28/9).

Ia juga mengingatkan pengendara untuk menjaga jarak aman dan tidak memacu kendaraan melebihi batas kecepatan.

“Jaga kecepatan, juga tidak boleh melebihi batas kecepatan. Tentunya harus berhati-hati dan yang paling penting adalah untuk jaga kesehatan dengan memakai masker,” ujarnya. (*)

Editor : Putut Ariyo
PM2.5 Belajar dari Rumah bmkg batam kabut asap