Data Center Batam Makin Banyak, Airnya dari Mana?

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:27 WIB
Pembangunan kantor data center DayOne di Nongsa, Batam. Foto: DayOne via LinkedIn/datacenterdynamics.com
Pembangunan kantor data center DayOne di Nongsa, Batam. Foto: DayOne via LinkedIn/datacenterdynamics.com

batampos – Batam tengah berpacu menjadi salah satu pusat data digital di Asia Tenggara. Empat fasilitas data center ditargetkan sudah beroperasi pada 2026.

Namun, di tengah derasnya investasi bernilai triliunan rupiah tersebut, kebutuhan utilitas menjadi tantangan baru. Salah satunya adalah pasokan air yang dibutuhkan untuk mendukung operasional pusat data.

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan, dua fasilitas data center baru yang ditargetkan beroperasi tahun ini berada di kawasan Kabil, yakni DayOne dan NeutraDC Nxera Batam.

Keduanya akan melengkapi dua fasilitas yang telah lebih dahulu beroperasi, yakni DayOne DC di Nongsa Digital Park (NDP) dan Golden Digital Gateway.

”Tahun ini kita berharap sudah bisa beroperasi itu empat (total), ya. Data center dengan DayOne di Kabil, data center Neutra yang di Kabil,” kata Fary usai menghadiri Manufacturing Indonesia Series – Batam Chapter 2026 di Radisson Golf & Convention Center Batam, Selasa (29/9).

Target tersebut menunjukkan cepatnya ekspansi industri data center di Batam. BP Batam mencatat terdapat 16 proyek data center dalam pipeline investasi.

Dari jumlah tersebut, dua fasilitas telah beroperasi, lima proyek berada dalam tahap konstruksi, tiga dalam persiapan konstruksi, dan enam lainnya masih dalam proses negosiasi.

Data Center Batam Butuh Pasokan Air Besar

Pertumbuhan industri pusat data tidak hanya membutuhkan lahan dan listrik dalam skala besar. Air juga menjadi salah satu utilitas penting untuk mendukung operasional fasilitas data center.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BP Batam menyiapkan skema pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut.

Teknologi tersebut mengolah air laut menjadi air tawar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.

”Kita sambil menyiapkan utilitasnya untuk listrik dan juga air kan melalui Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yakni teknologi yang mengolah air laut menjadi air tawar,” ujar Fary.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi meningkatnya kebutuhan air seiring ekspansi industri data center. BP Batam sebelumnya mendorong industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar untuk memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO.

Dengan skema tersebut, kebutuhan industri diharapkan tidak menambah tekanan terhadap sumber air baku dari waduk yang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

BP Batam memproyeksikan pembangunan SWRO di kawasan KEK Nongsa dan industri Kabil dapat menghasilkan sekitar 750 liter air per detik pada tahap awal. Kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik pada tahap berikutnya.

Fary mengatakan, kebutuhan utilitas kini menjadi bagian yang harus diperhitungkan sejak awal ketika investasi data center masuk ke Batam.

”Ke depannya kita sudah buat semacam kebijakan, setiap investasi data center dia membawa teknologi kebutuhan energi dan kebutuhan air,” katanya.

Kebutuhan Data Center Capai 1,47 GW

Skala kebutuhan utilitas tersebut terlihat dari kapasitas industri data center yang tengah dikembangkan. BP Batam menyebut kapasitas eksisting, komitmen, dan pipeline data center di Batam telah mencapai sekitar 1,47 gigawatt (GW) IT.

Karena itu, BP Batam mulai menerapkan paradigma utility first, investment follows. Artinya, kesiapan utilitas menjadi salah satu fondasi sebelum investasi baru dikembangkan.

Selain air, listrik menjadi kebutuhan utama industri data center. Salah satu gambaran skalanya terlihat dari proyek DayOne di Kabil.

Pada April 2026, DayOne menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik dengan PLN Batam dengan kapasitas 511 MVA atau sekitar 450 MW. Pasokan tersebut akan digunakan untuk pengembangan fasilitas DayOne secara bertahap pada 2026–2027.

Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan data center akan memberikan dampak terhadap sistem utilitas Batam, mulai dari kelistrikan, air, hingga jaringan telekomunikasi.

Potensi Investasi Data Center Rp500 Triliun

Dalam hampir tiga tahun terakhir, potensi investasi sektor data center yang masuk ke Batam disebut mencapai sekitar Rp500 triliun.

DayOne menjadi salah satu proyek terbesar dengan nilai investasi sekitar USD12 miliar atau sekitar Rp216 triliun.

Selain itu, terdapat PT Equator Gate System Batam (EGSB) dengan rencana investasi sekitar USD5 miliar atau Rp88 triliun di Nongsa.

Kemudian Altiva DC dengan rencana investasi sekitar USD3 miliar atau Rp54 triliun, BW Digital sekitar USD1,5 miliar atau Rp27 triliun, NeutraDC Nxera Batam sekitar USD400 juta atau Rp7,2 triliun, serta Golden Digital Gateway sekitar USD50 juta atau Rp900 miliar.

Besarnya nilai investasi tersebut membuat pengembangan data center tidak lagi sekadar persoalan membangun gedung dan memasang server. Infrastruktur pendukung harus disiapkan agar pertumbuhan industri dapat berjalan secara berkelanjutan.

Ekosistem Data Center Jadi Tantangan Berikutnya

Fary mengatakan, Batam juga perlu membangun ekosistem pendukung agar industri data center tidak berkembang secara terpisah dari sektor lainnya.

”Dan tentu kita tidak hanya berharap bahwa data center itu berdiri sendiri, nanti akan diikuti dengan industri pendukung data center,” katanya.

Karena itu, BP Batam perlu memastikan sejumlah kebutuhan dasar industri, seperti pasokan listrik, air, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Untuk kebutuhan air, SWRO membuka alternatif sumber air dari laut. Namun, teknologi desalinasi juga memiliki konsekuensi lingkungan yang perlu dikelola.

Salah satunya adalah brine, yakni air dengan konsentrasi garam tinggi yang merupakan produk samping proses desalinasi. Pengelolaan dan pembuangan brine perlu dilakukan dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan laut.

Fary mengatakan teknologi pengolahan juga disiapkan untuk menekan dampak tersebut.

”Ada teknologi yang mereduksi itu juga,” ujarnya.

Dengan ekspansi data center yang terus berlangsung, tantangan Batam kini tidak hanya menyangkut berapa banyak fasilitas yang dapat dibangun dan berapa besar investasi yang masuk.

Kesiapan listrik, air, jaringan telekomunikasi, serta pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting dari keberlanjutan industri pusat data di Batam.

Ketika pusat data terus bertambah, infrastruktur pendukungnya juga harus berkembang. Air, listrik, jaringan, dan sistem pengelolaan lingkungan menjadi faktor yang menentukan apakah ekspansi industri data center dapat berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat dan daya dukung lingkungan. (*)

Editor : Putut Ariyo
data center bp batam investasi batam Swro