Sampah Menumpuk Berbulan-bulan, Warga Terpaksa Membakar

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:29 WIB
Seorang warga memilah sampah yang menumpuk di pinggir Jalan Simpang Brigjen menuju Sei Lekop, Sagulung. Sampah menumpuk di bahu jalan dan sebagian dibakar, Jumat (2/10). F. Jamaluddin/Batam Pos
Seorang warga memilah sampah yang menumpuk di pinggir Jalan Simpang Brigjen menuju Sei Lekop, Sagulung. Sampah menumpuk di bahu jalan dan sebagian dibakar, Jumat (2/10). F. Jamaluddin/Batam Pos

 
batampos - Tumpukan sampah rumah tangga menggunung di sejumlah titik di wilayah Batu Aji dan Sagulung. Sedikitnya lima titik pembuangan sampah liar terlihat di pinggir jalan, bahkan sebagian tumpukan meluber hingga ke badan jalan.

Kondisi tersebut terlihat di sepanjang Jalan Simpang Brigjen menuju Sei Lekop, Sagulung. Beragam jenis sampah, mulai dari plastik kemasan, sisa sayuran, kardus bekas hingga limbah kelapa, menumpuk dan berserakan di tepi jalan.

Sebagian tumpukan tampak menghitam akibat dibakar. Asap putih pekat mengepul dengan bau menyengat yang mengganggu pengendara maupun warga sekitar.

Pembakaran sampah tersebut menambah persoalan pencemaran udara di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Batam. Asap pembakaran sampah rumah tangga turut menurunkan kenyamanan warga yang beraktivitas di sekitar lokasi.

Warga Sei Lekop, Rijal, mengatakan pembakaran sampah di kawasan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, warga terpaksa membakar sampah karena tumpukan yang tidak kunjung diangkut petugas kebersihan.

“Ini sebenarnya cukup disayangkan. Kami membakar sampah karena lambannya Dinas Lingkungan Hidup mengambil tumpukan sampah di depan rumah warga. Karena terus menumpuk, warga akhirnya membuang sampah ke pinggir jalan,” ujarnya.

Ia menyebut pengangkutan sampah di sejumlah titik juga kerap tidak teratur. Sampah yang telah menumpuk di pinggir jalan terkadang baru diangkut setelah sebulan.

Baca Juga: Media Sosial Ramai Tudingan Pungli Lapas Perempuan Batam

Menurut Rijal, pemerintah perlu memperbaiki frekuensi pengangkutan agar sampah tidak menumpuk di permukiman maupun sepanjang jalan.

“Seharusnya dari awal pemerintah mencegah penumpukan. Pengangkutan sampah di permukiman warga perlu dilakukan lebih sering, misalnya tiga hingga empat kali dalam sepekan,” katanya.

Rijal menilai pengangkutan yang baru dilakukan setelah sampah menggunung membuat persoalan terus berulang. Setelah dibersihkan, tumpukan kembali muncul dan sebagian warga kembali membakar sampah untuk mengurangi volumenya.

Warga Sei Lekop lainnya, Nur, mengatakan tumpukan sampah di lokasi tersebut telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Pembakaran dilakukan orang tak dikenal maupun warga sekitar sebagai upaya mengurangi volume sampah.

“Asapnya terbawa angin ke jalan utama dan permukiman warga, bahkan sampai ke dekat masjid,” kata Nur.

Ia mengatakan dalam beberapa bulan terakhir jadwal pengangkutan sampah kerap tidak terpenuhi. Dalam sepekan, sampah terkadang hanya diangkut sekali. Bahkan, pernah tidak ada pengangkutan sama sekali.

Kondisi itu menyebabkan volume sampah terus bertambah hingga meluber ke badan jalan dan mengganggu pengguna jalan yang melintas.

Baca Juga: Manifest Diduga Disamarkan, Tiga Mesin Pesawat Rp30 Miliar Masuk Batam

Nur berharap pengangkutan sampah kembali dilakukan secara rutin agar tumpukan tidak semakin meluas dan warga tidak lagi membakar sampah.

Persoalan sampah di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Meski pemerintah beberapa kali melakukan pembersihan, tumpukan kembali muncul di lokasi yang sama.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Dohar Mangalando Hasibuan telah dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat pada Kamis dan Jumat (1–2/10). Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan terkait keluhan warga mengenai frekuensi pengangkutan dan pembakaran sampah tersebut. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
Sampah Batam Batu Aji Sampah Liar Sagulung DLH Batam