batampos - Aktivitas proyek pematangan lahan di kawasan Nongsa dikeluhkan pengguna jalan dan warga di sepanjang Jalan Hang Kesturi. Ceceran tanah dari kendaraan proyek memicu debu yang beterbangan dan mengganggu jarak pandang serta kenyamanan pengendara.
Kondisi tersebut bahkan dinilai lebih mengganggu dibandingkan kabut asap yang belakangan menyelimuti Batam. Kepulan debu semakin pekat saat truk proyek berukuran besar melintas dengan kecepatan tinggi.
Pantauan di lapangan, pengangkutan material tanah didominasi truk roda sepuluh. Sejumlah kendaraan terlihat membawa material tanpa penutup bak. Tanah yang tercecer kemudian berserakan di badan jalan dan menjadi sumber debu ketika dilintasi kendaraan lain.
Hardi, warga sekaligus pengguna Jalan Hang Kesturi, berharap kondisi tersebut segera mendapat perhatian pihak terkait. Menurut dia, ruas jalan tersebut merupakan akses umum yang setiap hari digunakan masyarakat sehingga kebersihan dan kenyamanannya perlu dijaga.
“Ini jalan umum, bukan hanya digunakan kendaraan proyek. Seharusnya sama-sama dijaga supaya masyarakat yang melintas juga nyaman,” ujar Hardi.
Keluhan serupa disampaikan Anita, warga yang tinggal di sekitar ruas jalan tersebut. Ia mengatakan debu tidak hanya mengganggu pengendara, tetapi juga masuk ke rumah-rumah warga. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan, terutama anak-anak yang lebih rentan mengalami gangguan pernapasan.
Selain menimbulkan debu, ceceran tanah dari kendaraan proyek juga mengganggu kondisi permukaan jalan. Tanah yang tertinggal di atas aspal menggumpal sehingga membuat sejumlah bagian jalan terasa bergelombang.
Baca Juga: Truk Tanah di Batam Kian Dikeluhkan Warga
Kondisi paling parah terlihat mulai dari depan kawasan industri Horizon hingga simpang kawasan industri Kodja Bahari. Ruas tersebut menjadi jalur hilir mudik truk pengangkut material tanah.
Warga berharap pengelola proyek dan pihak terkait segera mengambil langkah pengendalian. Di antaranya memastikan bak truk ditutup, membersihkan tanah yang tercecer di badan jalan, serta mengatur kecepatan kendaraan proyek.
Langkah tersebut dinilai penting agar aktivitas pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan dan keselamatan masyarakat yang menggunakan Jalan Hang Kesturi. (*)
Editor : Yofi Yuhendri