batampos — Puluhan ibu rumah tangga dari Kavling Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Batam, menutup akses masuk Nongsa Digital Park, Senin (5/10) pagi. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas gangguan pasokan air yang menurut warga telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Warga membawa galon, ember, baskom, serta poster dan spanduk dalam aksi tersebut. Mereka duduk di depan gerbang kawasan dan mendirikan tenda sederhana sehingga akses masuk Nongsa Digital Park sempat tertutup.
Aksi dimulai sekitar pukul 06.00 WIB. Warga menuntut pasokan air kembali normal dan meminta solusi yang tidak bergantung pada distribusi air menggunakan mobil tangki.
Dewi, warga Kavling Bakau Serip, mengatakan warga telah mengalami gangguan pasokan air selama lebih dari tiga bulan. Di tengah kondisi tersebut, warga mengeluhkan tetap harus membayar tagihan air.
"Sudah tiga bulan lebih air tak mengalir. Tapi pembayaran air tetap mahal," kata Dewi kepada Batam Pos, Senin (5/10).
Menurut Dewi, warga tidak membutuhkan distribusi air tangki sebagai solusi utama. Mereka menginginkan jaringan perpipaan kembali mengalirkan air ke rumah-rumah.
"Kami melakukan demo supaya air kami mengalir. Kami tidak mau air tangki. Airnya kotor, keruh, bau. Intinya kami cuma mau air," ujarnya.
Warga Keluhkan Pasokan Air Tangki
Dewi mengatakan warga telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pengelola layanan air dan meminta solusi kepada pihak terkait. Namun, warga menilai penyelesaian yang diberikan belum memenuhi kebutuhan mereka.
Menurutnya, warga bahkan harus menunggu mobil tangki hingga malam atau dini hari. Kedatangan mobil tangki juga tidak selalu sesuai harapan.
"Setiap hari kami menunggu tangki sampai malam, sampai subuh. Kadang yang ditunggu zonk," katanya.
Gangguan pasokan air tersebut juga disebut mulai berdampak pada kondisi ekonomi keluarga. Sebagian warga harus membeli air secara mandiri sehingga pengeluaran rumah tangga bertambah.
Dewi menyebut warga dapat mengeluarkan sekitar Rp125 ribu untuk membeli satu tangki air. Namun, pasokan tersebut tidak bertahan lama karena kebutuhan air rumah tangga cukup besar.
"Kami sudah tiga kali beli air. Satu tangki Rp125 ribu. Dipakai tidak sampai lama karena kebutuhan banyak," katanya.
Keterbatasan pasokan juga membuat warga harus mengantre untuk mendapatkan air. Dewi khawatir kondisi tersebut memicu perselisihan antarwarga.
"Jangan sampai gara-gara air kami terpecah. Warga hampir saling berkelahi karena yang satu mau air, yang lain juga mau air," ujarnya.
Warga Soroti Aktivitas Data Center
Dalam aksi tersebut, warga juga menyampaikan keresahan terkait perkembangan kawasan Nongsa Digital Park, termasuk keberadaan sejumlah fasilitas data center.
Dewi mengklaim gangguan pasokan air mulai dirasakan warga setelah aktivitas data center berkembang di kawasan tersebut. Namun, hingga kini klaim tersebut belum disertai penjelasan teknis yang memastikan adanya hubungan langsung antara operasional data center dengan gangguan pasokan air ke permukiman.
"Sejak ada data center, air kami sudah berputar," kata Dewi.
Warga mengaku telah berupaya berkomunikasi dengan pihak pengelola data center untuk mencari solusi. Menurut Dewi, sebelumnya sempat ada rencana pertemuan dengan pengelola layanan air, tetapi tidak segera terealisasi.
"Orang data center menjanjikan kami mau ketemu dengan orang ABH. Tapi setelah kami tunggu tidak ada. Sampai hari ini kami turun, baru orang ABH datang," katanya.
Warga juga menyinggung rencana pemanfaatan air laut untuk memenuhi kebutuhan kawasan data center. Mereka mengetahui adanya wacana pembangunan fasilitas pengolahan air laut atau seawater reverse osmosis (SWRO).
"Data center harus mengalir, kami juga harus dialirkan," ujar Dewi.
ABH Sebut Produksi IPAM Nongsa Menurun
Manager Pelayanan Air Batam Hilir (ABH), Ismadi Alif, menjelaskan gangguan pasokan air tersebut berkaitan dengan penurunan produksi Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Nongsa.
Menurut Ismadi, terdapat tiga RT di kawasan Kavling Bakau Serip yang terdampak. Jumlah pelanggan yang mengalami gangguan meningkat seiring turunnya kapasitas produksi IPAM.
"Ada tiga RT yang terdampak, perkiraan sekitar 700 sampai 800 (warga)," kata Ismadi.
Ia menjelaskan, ketika produksi IPAM masih berada pada level 40 liter per detik, sekitar 70 rumah terdampak gangguan. Setelah produksi turun menjadi 30 liter per detik, jumlah rumah terdampak meningkat menjadi sekitar 160 rumah.
Selama penanganan gangguan, ABH berkomunikasi dengan ketua RT dan lurah untuk memastikan kebutuhan air warga tetap mendapat penanganan.
Terkait keluhan mengenai tagihan air, Ismadi mengatakan pihaknya perlu memeriksa kondisi pelanggan satu per satu.
"Terkait keluhan warga, kita harus cek satu per satu. Tadi kami sudah ngomong ke warga, Pak RT bisa menghubungi saya. Nanti kita lihat rinciannya seperti apa," katanya.
Ismadi menjelaskan, pelanggan dengan pemakaian 10 meter kubik dikenai tagihan sekitar Rp33 ribu. Adapun keluhan mengenai tagihan pelanggan yang mengalami gangguan akan diperiksa berdasarkan data masing-masing pelanggan.
"Untuk 10 meter kubik tagihan Rp33 ribu," ujarnya.
ABH Mulai Interkoneksi Jaringan
Untuk mengatasi gangguan tersebut, ABH mulai mengerjakan interkoneksi jaringan dari instalasi pengolahan air lainnya, salah satunya dari IPAM Duriangkang.
"Per hari ini ada interkoneksi dari IPAM lain, salah satunya dari Duriangkang. Per hari ini sebagai solusi mulai bekerja untuk interkoneksi," kata Ismadi.
ABH berharap interkoneksi tersebut mulai membantu mengalirkan air ke kawasan terdampak pada Senin (5/10). Namun, Ismadi belum dapat menjamin pasokan air tersedia selama 24 jam.
"Mudah-mudahan hari ini mulai mengalir. Walaupun kami tidak menjamin 24 jam, setidaknya lebih baik pascainterkoneksi," ujarnya.
Sebelum kapasitas produksi IPAM Nongsa turun lebih jauh, ABH menyediakan sekitar delapan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan pelanggan terdampak.
Namun, menurut Ismadi, penurunan kapasitas produksi IPAM Nongsa menyebabkan cakupan wilayah dan jumlah pelanggan yang membutuhkan bantuan air ikut meningkat.
"Selama ini kebutuhan delapan tangki dan kami pastikan tercukupi. Tapi seiring menurunnya kapasitas IPAM Nongsa, tentunya pelanggan terdampak meluas," kata Ismadi. (*)
Editor : Putut Ariyo