batampos - Kelompok usia produktif menjadi penyumbang terbesar kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Batam. Dari sekitar 500 kasus yang dicatat Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam pada 29 September 2026, warga berusia 19–59 tahun mendominasi kasus di hampir seluruh wilayah kerja puskesmas.
Kasus terbanyak pada kelompok usia produktif tercatat di wilayah kerja Puskesmas Sei Panas dengan 26 kasus. Berikutnya Mentarau 23 kasus dan Sei Pancur 19 kasus. Botania, Sambau, dan Sekupang masing-masing mencatat 15 kasus, sedangkan Sei Langkai 13 kasus.
Sementara itu, kasus pada kelompok anak-anak dan remaja relatif lebih rendah. Pada kelompok usia 0 hingga kurang dari 5 tahun, 5–9 tahun, dan 10–18 tahun, kasus di sejumlah wilayah kerja puskesmas berada pada kisaran satu hingga 11 kasus.
Kelompok lanjut usia di atas 60 tahun mencatat angka lebih rendah, sebagian besar nol hingga dua kasus di setiap wilayah kerja puskesmas.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Batam Melda Sari mengatakan dominasi kelompok usia produktif berkaitan dengan tingginya aktivitas dan mobilitas mereka.
“Usia produktif ini memang aktivitasnya lebih banyak di luar. Jadi mobilitasnya juga tinggi,” ujar Melda, Senin (5/10).
Baca Juga: ISPA Batam Tembus 500 Kasus, Udara Masih Tidak Sehat
Menurutnya, tingginya mobilitas membuat kelompok usia produktif lebih sering terpapar berbagai kondisi lingkungan saat beraktivitas di luar rumah. Karena itu, perlindungan diri perlu ditingkatkan, terutama ketika kualitas udara sedang kurang baik.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan masker. Melda mengatakan masih ada masyarakat yang tetap beraktivitas tanpa masker meski sedang sakit.
“Kadang orang sakit pun tidak memakai masker. Padahal, kalau sedang sakit sebaiknya menggunakan masker supaya tidak menularkan ke orang lain,” tuturnya.
Namun, Dinkes tidak menyimpulkan kabut asap sebagai satu-satunya penyebab kasus ISPA. Perubahan cuaca, kurangnya asupan cairan, pola makan, daya tahan tubuh, hingga tingginya aktivitas masyarakat juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan.
“Jadi bukannya karena asap saja. Cuaca di Batam kan juga kadang ada hujan, kemudian ada panas. Mungkin kurang minum air putih, kemudian pertahanan tubuhnya, makanannya, terus aktivitasnya kan lebih banyak usia produktif,” kata Melda.
Dinkes juga mengingatkan agar data per wilayah kerja puskesmas tidak langsung dimaknai sebagai gambaran domisili penderita. Pencatatan dilakukan berdasarkan tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan.
Sebagai contoh, warga yang tinggal di Batu Aji tetapi bekerja di kawasan Sei Panas dapat memilih berobat ke Puskesmas Sei Panas. Kasusnya kemudian tercatat dalam wilayah pelayanan puskesmas tersebut.
Dengan demikian, data per puskesmas lebih tepat dibaca sebagai gambaran lokasi pelayanan kesehatan, bukan peta pasti domisili penderita ISPA.
Baca Juga: Kasus ISPA Batam Turun, Usia Produktif Masih Mendominasi
Di sisi lain, jumlah kasus ISPA harian di Batam mulai menurun. Pada 30 September 2026, Dinkes mencatat sekitar 420 kasus, turun dari sekitar 500 kasus sehari sebelumnya.
Meski demikian, penurunan tersebut belum berarti persoalan ISPA selesai. Terlebih, kualitas udara Batam sempat memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Dinkes meminta masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan air putih, menjaga pola makan, serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika kualitas udara sedang kurang baik.
“Bagi masyarakat yang sedang mengalami gangguan pernapasan, penggunaan masker juga penting bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi mencegah penularan kepada orang lain,” pesan dia. (*)
Editor : Yofi Yuhendri