batampos - Arus perdagangan luar negeri Kota Batam sepanjang Januari-Agustus 2026 menunjukkan ketimpangan. Nilai impor melonjak 19,30 persen menjadi US$13,97 miliar, sementara ekspor justru turun 0,89 persen menjadi US$12,83 miliar.
Dengan capaian tersebut, nilai impor Batam dalam delapan bulan pertama 2026 lebih tinggi sekitar US$1,14 miliar dibandingkan ekspor.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat, nilai impor Januari-Agustus 2026 mencapai US$13.970,20 juta. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$11.716,72 juta.
Sebaliknya, ekspor hanya mencapai US$12.831,49 juta, turun dari US$12.947,10 juta pada Januari-Agustus 2025.
Kepala BPS Kota Batam Devi Indriastuti mengatakan, pelemahan ekspor secara kumulatif terutama dipengaruhi turunnya kinerja ekspor nonmigas.
“Penurunan ekspor Januari-Agustus 2026 dibanding periode tahun lalu disebabkan oleh menurunnya ekspor sektor nonmigas,” kata Devi.
Baca Juga: BPS Catat Inflasi September 2026 Capai 3,28 Persen, Harga Pangan Jadi Pemicu
Nilai ekspor nonmigas tercatat US$12.223,79 juta, turun 1,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$12.423,80 juta.
Meski secara kumulatif menurun, kinerja ekspor pada Agustus 2026 justru menunjukkan pertumbuhan. Nilainya mencapai US$1.608,59 juta atau naik 4,33 persen dibandingkan Agustus 2025.
Ekspor nonmigas pada Agustus mencapai US$1.524,77 juta, tumbuh 2,90 persen. Sementara ekspor migas mencapai US$83,81 juta atau melonjak 39,61 persen secara tahunan.
Dari sisi komoditas, mesin dan peralatan listrik masih menjadi tulang punggung ekspor Batam. Golongan barang HS 85 tersebut menyumbang US$6.634,05 juta atau 54,27 persen dari total ekspor nonmigas selama Januari-Agustus.
Berikutnya mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$1.538,69 juta, berbagai produk kimia US$636,70 juta, minyak dan lemak hewan/nabati US$571,82 juta, serta benda-benda dari besi dan baja US$528,58 juta.
Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar Batam dengan nilai US$3.580,37 juta atau 27,90 persen. Namun, ekspor ke negara tersebut secara kumulatif turun 5,04 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025.
Singapura berada di posisi kedua dengan nilai US$3.068,42 juta atau 23,91 persen. Selanjutnya India, Tiongkok, Jepang, Australia, Uni Emirat Arab, Jerman, Malaysia, dan Thailand.
Dari sisi impor, mesin dan peralatan listrik juga mendominasi dengan nilai US$5.931,74 juta atau 42,72 persen dari total impor nonmigas.
Baca Juga: Dari Brimob ke Kapolda Kepri, Suhendri Kembali ke Tanah Melayu
Tiongkok menjadi pemasok terbesar barang impor Batam dengan nilai US$5.842,85 juta atau 41,82 persen.
Tingginya arus impor tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan industri Batam terhadap mesin, peralatan, serta berbagai barang penunjang produksi dari luar negeri.
Pelabuhan Batu Ampar menjadi pintu utama arus perdagangan tersebut. Sepanjang Januari-Agustus 2026, ekspor melalui pelabuhan itu mencapai US$8.865,10 juta, sedangkan impornya US$8.418,97 juta.
Selain Batu Ampar, Pelabuhan Sekupang mencatat ekspor US$2.096,26 juta dan impor US$4.167,26 juta. Sementara Pelabuhan Kabil/Panau mencatat ekspor US$1.105,52 juta dan impor US$767,44 juta.
Kondisi ekspor yang cenderung stagnan di tengah lonjakan impor menjadi gambaran penting bagi ekonomi Batam. Pertumbuhan impor perlu diikuti peningkatan produksi dan ekspor agar tingginya arus barang masuk dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap kinerja industri dan perdagangan daerah. (*)
Editor : Yofi Yuhendri