batampos - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Batam masih bergerak fluktuatif. Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam mencatat 412 kasus pada 7 Oktober 2026, dengan kelompok usia dewasa menjadi penyumbang terbanyak.
“Kasus ISPA ini terus kita pantau dari laporan puskesmas. Perkembangannya memang masih naik turun,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam, Melda Sari, Kamis (8/10) siang.
Data Dinkes Batam menunjukkan, dari 412 kasus tersebut, sebanyak 198 kasus dialami warga berusia 19–59 tahun. Berikutnya, kelompok anak usia 5–9 tahun dengan 69 kasus.
Sebanyak 64 kasus terjadi pada anak di bawah lima tahun, 50 kasus pada kelompok usia 10–18 tahun, serta 31 kasus pada warga berusia di atas 60 tahun.
Kasus tersebut tersebar di 21 puskesmas. Puskesmas Sei Panas mencatat kasus tertinggi, yakni 41 kasus. Disusul Mentarau 37 kasus, Sei Langkai 31 kasus, Sekupang 30 kasus, Tanjung Buntung 29 kasus, dan Lubuk Baja 26 kasus.
Sementara itu, puskesmas lainnya mencatat antara satu hingga 24 kasus. Galang menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling rendah, yakni satu kasus.
Baca Juga: Udara Batam Membaik, BMKG Prediksi Haze Masih Berpotensi Terjadi
Melda mengatakan, angka harian ISPA di Batam dalam beberapa hari terakhir belum menunjukkan pola penurunan yang konsisten. Dalam laporan Dinkes, jumlah kasus pada sejumlah periode tercatat 273, 266, 412, 438, 473, hingga 510 kasus.
“Jadi memang datanya dinamis. Kami melihat laporan dari masing-masing puskesmas untuk mengetahui perkembangannya, termasuk kelompok usia dan wilayah yang kasusnya cukup tinggi,” ujarnya.
Kondisi tersebut berlangsung ketika kualitas udara Batam juga menjadi perhatian. Dalam pemantauan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dibagi menjadi lima kategori, yakni sehat pada rentang 0–50, sedang 51–100, tidak sehat 101–200, sangat tidak sehat 201–300, dan berbahaya jika berada di atas 300.
Dinkes Batam sebelumnya mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi udara dan mengurangi paparan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker, menjaga daya tahan tubuh, serta membatasi aktivitas di luar ruangan menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Melda mengatakan, pemantauan akan terus dilakukan bersama puskesmas untuk melihat perkembangan kasus dari hari ke hari.
“Kita terus monitor. Kalau ada peningkatan, datanya akan kita lihat dari puskesmas dan kita tindak lanjuti sesuai kondisi di lapangan,” kata Melda. (*)
Editor : Yofi Yuhendri