batampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam menyiapkan lahan dan perizinan untuk pengembangan industri padat karya guna memperluas kesempatan kerja di tengah pesatnya investasi pusat data atau data center yang padat modal.
Langkah ini diarahkan agar pertumbuhan investasi di Batam tidak hanya meningkatkan nilai modal yang masuk, tetapi juga memperluas penyerapan tenaga kerja dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Investasi BP Batam, Irfan Syakir Widyasa, mengatakan pengembangan industri padat karya menjadi bagian dari strategi memperluas kegiatan industri sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
“Industri data center yang kita tahu sangat padat modal itu, nah di Batam juga diimbangi dengan berbagai industri padat karya,” kata Irfan dalam Workshop Kehumasan dan Media Gathering Kementerian Transmigrasi di Batam, seperti dikutip dari ANTARA, Jumat (9/10/2026).
Menurut Irfan, masuknya investasi pusat data menunjukkan semakin beragamnya sektor industri di Batam. Namun, pengembangan industri yang membutuhkan banyak pekerja juga perlu didorong agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas.
Saat ini, sejumlah kawasan yang diproyeksikan untuk pengembangan industri padat karya masih dalam tahap persiapan, terutama terkait penyediaan lahan dan penyelesaian perizinan.
“Nah, hanya saja yang padat karyanya ini masih proses penyiapan lahan, perizinan, dan penyiapan-penyiapan,” ujarnya.
BP Batam Siapkan Kawasan Industri Baru di Galang hingga Tanjung Sauh
Irfan menjelaskan, pengembangan kawasan industri berskala besar di Batam tidak hanya berpusat di Rempang Eco-City. Sejumlah wilayah lain juga diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan industri, di antaranya Galang, Galang Gesek, Pulau Tanjung Sauh, dan Pulau Setokok.
“Tidak hanya Rempang Eco-City, ada yang sama besarnya nanti di Galang, Galang Gesek, lalu di Pulau Tanjung Sauh sama besarnya, di Pulau Setokok sama besarnya,” ungkapnya.
Selain menyiapkan kawasan baru, BP Batam mendorong perluasan kawasan industri yang telah beroperasi. Langkah tersebut diharapkan memperkuat kapasitas industri sekaligus membuka peluang bagi masuknya kegiatan usaha baru.
“Kawasan-kawasan industri di Batam yang besar-besar itu sudah ekspansi menambah lokasi,” katanya.
Irfan memperkirakan sejumlah kawasan industri yang tengah dikembangkan akan mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu hingga tiga tahun mendatang. Namun, ia belum merinci jenis industri yang akan masuk ke setiap kawasan, nilai investasi yang disiapkan, maupun jumlah tenaga kerja yang berpotensi terserap.
Menurut dia, kesiapan kawasan menjadi salah satu faktor penting dalam menarik investor. Aspek tersebut mencakup ketersediaan infrastruktur, kepastian tata ruang, kemudahan perizinan, serta sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Dalam paparannya, Irfan menyebut Batam memiliki 31 kawasan industri, empat kawasan ekonomi khusus (KEK), dan tiga proyek strategis nasional (PSN) yang menjadi bagian dari ekosistem pengembangan investasi.
Ekosistem tersebut menopang beragam kegiatan ekonomi, mulai dari manufaktur, galangan kapal, logistik, hingga industri digital, termasuk pusat data.
Investasi Batam Capai Rp69,3 Triliun pada 2025
Realisasi investasi Batam pada 2025 mencapai Rp69,3 triliun, melampaui target sebesar Rp60 triliun. Capaian tersebut, menurut Irfan, perlu diimbangi dengan kesiapan kawasan industri dan tenaga kerja agar pertumbuhan investasi turut memperluas kesempatan kerja.
Karena itu, penyiapan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing Batam. Tenaga kerja dengan keterampilan sesuai kebutuhan industri, termasuk yang memiliki sertifikasi kompetensi berstandar internasional, diharapkan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi investor.
“Jadi ke depan Batam akan promosi bahwa kalau perusahaan buka di Batam, kita siap talent-nya, siap human resource-nya yang tersertifikasi, yang berstandar internasional,” ucapnya.
Terkait pengembangan Rempang Eco-City, Irfan mengatakan BP Batam bekerja sama dengan Kementerian Transmigrasi untuk menyiapkan masyarakat. Upaya tersebut mencakup pemetaan potensi, minat, dan keterampilan warga agar dapat mendukung kegiatan ekonomi di kawasan tersebut.
BP Batam Dorong Kuota Pekerja Lokal 20 Persen
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, sebelumnya menegaskan bahwa pertumbuhan investasi perlu diikuti penciptaan lapangan kerja dan kesiapan sumber daya manusia. Menurut dia, tenaga kerja lokal harus dipersiapkan agar mampu memenuhi kebutuhan perusahaan yang berinvestasi di Batam.
“Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan SDM yang bisa memenuhi kebutuhan pasar kerja yang ada,” kata Amsakar dalam pernyataan sebelumnya.
BP Batam juga mendorong perusahaan memberikan kesempatan lebih besar kepada warga lokal untuk memasuki dunia kerja. Salah satu upaya yang disampaikan Amsakar adalah menjajaki kerja sama dengan perusahaan melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), termasuk pengaturan kuota tenaga kerja lokal untuk kategori pekerjaan tertentu.
“Kita akan buat MoU dengan perusahaan di Batam untuk keberpihakan pada pekerja lokal, salah satunya mengunci kuota 20 persen tenaga kerja lokal khusus kategori unskilled,” tegas Amsakar.
Pernyataan tersebut merujuk pada rencana pengaturan kuota pekerja lokal untuk kategori pekerjaan tanpa keterampilan khusus (unskilled). Adapun penerapan kebijakan tersebut bergantung pada tindak lanjut kerja sama dengan perusahaan.
Amsakar juga menilai investasi pusat data dapat menggerakkan sektor ekonomi lain di luar perekrutan pekerja secara langsung. Pembangunan dan operasional fasilitas tersebut berpotensi mendorong aktivitas konstruksi, transportasi, kuliner, perdagangan jasa, hingga pariwisata.
Di sisi lain, pengembangan industri padat karya berpotensi membuka kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah lebih besar. Karena itu, penyiapan kawasan industri perlu berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan dan kompetensi masyarakat lokal.
Melalui pengembangan kawasan baru, perluasan kawasan industri yang telah beroperasi, serta penyiapan tenaga kerja, BP Batam berharap pertumbuhan investasi dapat diikuti bertambahnya kesempatan kerja dan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Namun, besaran penyerapan tenaga kerja dari kawasan yang masih disiapkan tersebut belum dirinci. Realisasi pembukaan lapangan kerja akan bergantung pada perkembangan pembangunan kawasan, masuknya investor, serta jenis industri yang nantinya beroperasi. (*)
Editor : Putut Ariyo