Kabut Asap Makin Pekat, Warga Batuaji dan Sagulung Keluhkan Sesak Napas

Eusebius Sara • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:02 WIB
ILUSTRASI warga mengenakan masker di tengah kabut asap yang semakin pekat. Kualitas udara Batam masih berada dalam kategori tidak sehat sejak beberapa hari terakhir. FOTO: Cecep Mulyana/chatgpt
ILUSTRASI warga mengenakan masker di tengah kabut asap yang semakin pekat. Kualitas udara Batam masih berada dalam kategori tidak sehat sejak beberapa hari terakhir. FOTO: Cecep Mulyana/chatgpt

 
batampos -  Kabut asap yang menyelimuti Kota Batam semakin pekat, Minggu (11/10). Kondisi ini mulai dikeluhkan warga, terutama di kawasan Batuaji dan Sagulung. Sejumlah warga mengaku mengalami mata perih hingga sesak napas akibat kualitas udara yang dinilai semakin tidak nyaman.

Pekatnya kabut asap masih bertahan meski hujan mengguyur Batam pada Minggu siang. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran masyarakat, terutama jika paparan asap terus berlangsung tanpa penanganan yang jelas.

Anita, warga Batuaji, mengaku kondisi udara saat ini mengganggu aktivitas sehari-hari. Kabut asap yang semakin tebal membuatnya khawatir, terutama terhadap kesehatan anak-anaknya.

“Anak-anak saya larang keluar rumah. Karena memang semakin pekat asap ini. Batuk-batuk, sesak napas kalau kebanyakan beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Dion, warga Sagulung. Ia merasakan kabut asap semakin pekat dan berharap persoalan tersebut segera mendapat perhatian serius. Menurutnya, kondisi ini tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga memicu kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat.

Warga menilai hujan yang turun pada Minggu siang belum cukup membantu mengurangi kabut asap di sejumlah kawasan. Asap yang masih terlihat pekat membuat masyarakat mempertanyakan sumber pencemaran serta langkah yang akan dilakukan untuk memulihkan kualitas udara di Batam.

Baca Juga: Asap Karhutla Selimuti Batam, 412 Kasus ISPA Tercatat dalam Sehari

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kondisi tersebut. Selain mengidentifikasi sumber asap, warga juga meminta pemantauan kualitas udara dilakukan secara terbuka agar masyarakat mengetahui tingkat pencemaran dan dapat menentukan langkah perlindungan yang tepat.

Jika kualitas udara buruk berlangsung terus-menerus, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan berisiko mengalami masalah kesehatan. Warga yang mengalami mata perih, batuk, atau sesak napas diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus keluar rumah.Warga berharap kabut asap tidak dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi.

 Pemerintah dan instansi terkait diminta segera memeriksa kualitas udara, mengidentifikasi sumber asap, serta menyampaikan hasil pemantauan kepada masyarakat. Langkah cepat dinilai penting agar warga tidak terus dibayangi kekhawatiran terhadap dampak kabut asap yang semakin pekat. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
kualitas udara pencemaran udara Sagulung batuaji kabut asap