Kabut Asap Kepung Batam, PM2.5 Tembus 90,8, Malaysia Tutup Sekolah

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 09:30 WIB
Halaman depan Batam Pos edisi 12 Oktober 2026
Halaman depan Batam Pos edisi 12 Oktober 2026

batampos – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam Kepulauan Riau (Kepri). Kualitas udara di Batam masih berada dalam kategori tidak sehat pada Minggu (11/10), dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 90,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³) berdasarkan pemantauan BMKG pukul 14.00 WIB.

Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Rayi Anggraeni, mengatakan citra satelit menunjukkan sebaran asap masih bergerak menuju wilayah Kepri. Kondisi ini membuat masyarakat perlu mewaspadai paparan polusi udara dalam beberapa hari ke depan.

“Kami pantau dari citra satelit kondisi asap masih menuju ke Kepri,” kata Rayi, Minggu (11/10).

Data IQAir pada pukul 13.00 WIB juga menunjukkan kualitas udara Batam belum sehat. Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) tercatat 141, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 51,6 µg/m³.

Perbedaan angka pemantauan BMKG dan IQAir berkaitan dengan waktu serta sistem pengukuran yang digunakan. Meski demikian, kedua data tersebut sama-sama menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap polusi udara.

PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki asma atau penyakit pernapasan lainnya.

Rayi menjelaskan, angin di wilayah Kepri bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 4–7 knot. Pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran asap di wilayah kepulauan tersebut.

BMKG memperkirakan kualitas udara yang tidak sehat berpotensi bertahan selama beberapa hari ke depan.

“Kondisi kualitas udara yang dilihat dari konsentrasi PM2.5 sampai hari ini masih masuk dalam kategori tidak sehat. Kami pantau kemungkinan masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Kondisi ini melanjutkan tingginya konsentrasi polutan yang tercatat sebelumnya. Pada Jumat (9/10), PM2.5 di Batam mencapai 99,2 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB. Bahkan, angkanya sempat berada di kisaran 125 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB, setelah tercatat sekitar 119 µg/m³ pada tengah malam.

Meski konsentrasi PM2.5 pada Minggu lebih rendah dibandingkan puncak pemantauan Jumat dini hari, penurunan tersebut belum memastikan kualitas udara kembali aman.

Warga Batuaji dan Sagulung Keluhkan Mata Perih hingga Sesak Napas

Kabut asap yang menyelimuti Batam juga mulai dikeluhkan warga, terutama di kawasan Batuaji dan Sagulung. Selain membuat mata perih, asap memicu batuk hingga sesak napas ketika warga beraktivitas di luar rumah.

Hujan yang mengguyur Batam pada Minggu siang belum menghilangkan kabut asap di sejumlah kawasan. Warga pun khawatir apabila kondisi tersebut terus berlangsung tanpa penanganan yang jelas.

Anita, warga Batuaji, mengaku membatasi aktivitas anak-anaknya di luar rumah karena asap semakin pekat.

”Anak-anak saya larang keluar rumah. Karena memang semakin pekat asap ini. Batuk-batuk, sesak napas kalau kebanyakan beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Dion, warga Sagulung. Ia berharap pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah untuk memastikan penyebab kabut asap serta menangani dampaknya terhadap masyarakat.

Warga juga meminta pemantauan kualitas udara dilakukan secara berkala dan hasilnya disampaikan secara terbuka. Informasi tersebut diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan.

Masyarakat diimbau mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika polusi meningkat, serta membatasi aktivitas fisik berat. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 dapat membantu mengurangi paparan partikel halus apabila digunakan dengan benar.

Warga yang mengalami sesak napas atau gejala pernapasan yang memburuk disarankan segera mencari pertolongan medis.

Malaysia Tutup Sekolah, Lebih dari Dua Juta Siswa Belajar dari Rumah

Dampak kabut asap lintas negara juga dirasakan Malaysia. Pemerintah negara tersebut meliburkan sekolah di sejumlah wilayah pada Jumat (9/10) setelah kualitas udara memburuk.

Menteri Pendidikan Malaysia Fadhlina Sidek menyebut kebijakan itu mencakup Johor, Melaka, Negeri Sembilan, dan Selangor, serta wilayah federal Kuala Lumpur dan Putrajaya. Distrik Rompin di Pahang juga terdampak.

Menurut data Bloomberg, penutupan sekolah tersebut menyebabkan lebih dari dua juta siswa harus mengikuti pembelajaran dari rumah.

Di Johor, Pemangku Sultan Tunku Mahkota Ismail sebelumnya memerintahkan penutupan seluruh sekolah pada 8–9 Oktober 2026. Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dari rumah selama penutupan.

Guru dan staf sekolah juga diperbolehkan bekerja dari rumah. Sementara itu, keputusan mengenai kepulangan siswa sekolah berasrama diserahkan kepada kepala sekolah dengan mempertimbangkan risiko, keselamatan, dan kesejahteraan siswa.

Departemen Pendidikan Negeri Johor mengimbau orang tua memantau kesehatan anak-anak, membatasi aktivitas luar ruangan, serta mencari pertolongan medis apabila anak mengalami batuk, sakit tenggorokan, atau sesak napas.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut memburuknya kabut asap sebagai persoalan serius karena dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Pemerintah Malaysia juga meningkatkan upaya penanganan, termasuk melalui operasi penyemaian awan untuk memicu hujan.

Malaysia turut meminta persetujuan Indonesia untuk melaksanakan operasi penyemaian awan yang melibatkan wilayah udara Indonesia. Langkah tersebut diharapkan membantu penanganan karhutla di kawasan perbatasan dan mengurangi dampak asap lintas negara.

Anwar mengatakan telah menghubungi Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk membahas persoalan tersebut. Keduanya sepakat mendukung langkah-langkah yang diperlukan dalam penanganan kebakaran dan kabut asap.

“Persoalan kabut asap memang mengkhawatirkan dan saya telah menghubungi Presiden Prabowo dan beliau setuju mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” kata Anwar, Kamis (8/10).

Malaysia juga mendorong pembahasan khusus di tingkat ASEAN. Anwar memerintahkan Menteri Luar Negeri Malaysia menghubungi Sekretariat ASEAN untuk menggelar kembali pertemuan tingkat menteri lingkungan hidup guna membahas penanganan kabut asap.

Singapura Pantau Kabut Asap, Formula 1 Tetap Berjalan

Singapura turut meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara yang dikaitkan dengan kebakaran hutan di Indonesia.

Meski demikian, penyelenggaraan Formula 1 Grand Prix Singapura di Marina Bay Street Circuit tetap dijadwalkan berlangsung sesuai rencana.

Direktur Eksekutif Singapore GP Pte Ltd Adam Firth mengatakan, hingga Jumat (9/10), belum ada rencana untuk mengubah rangkaian kegiatan hiburan dalam penyelenggaraan balapan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan setelah Federasi Otomotif Internasional (FIA) mengeluarkan pernyataan pada Kamis (8/10) mengenai kemungkinan pembatasan aktivitas luar ruangan, termasuk kegiatan hiburan, apabila kondisi kabut asap semakin memburuk.

“Bertentangan dengan laporan media baru-baru ini, saat ini tidak ada rencana mengubah aktivitas hiburan kami di ajang Formula 1 Grand Prix Singapore,” kata Firth dalam keterangan tertulis, Jumat.

Ia menegaskan, penyelenggara terus memantau kondisi cuaca dan kualitas lingkungan sebagai bagian dari prosedur operasional acara.

“Jika ada perubahan kami akan menyampaikannya melalui saluran resmi kami secara tepat waktu,” ujarnya.

Dewan Pariwisata Singapura juga memantau tingkat polusi dan menyampaikan informasi terkini mengenai perkembangan kabut asap kepada masyarakat.

Indonesia Kerahkan 60 Ribu Personel untuk Tangani Karhutla

Di Indonesia, pemerintah memperkuat upaya pemadaman karhutla di Sumatra dan Kalimantan. Upaya tersebut dilakukan di tengah dampak asap yang turut dirasakan negara-negara tetangga.

Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mengatakan, Indonesia telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan untuk menjelaskan langkah penanganan karhutla. Komunikasi itu menindaklanjuti pembicaraan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Anwar Ibrahim.

Arrmanatha menyebut pemerintah telah mengerahkan lebih dari 60.000 personel serta 48 helikopter dan pesawat untuk mendukung operasi pemadaman, termasuk melalui pengeboman air (water bombing) dan modifikasi cuaca.

“Ya kita sudah berkomunikasi dengan (Malaysia, red.), dari saya sudah berbicara juga dengan Menlu Malaysia, dan juga kita sudah jelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia seperti kita sudah menerjunkan lebih dari 60.000 personel, kita telah menerjunkan juga 48 helikopter dan pesawat untuk melakukan water bombing dan pengalihan cuaca,” kata Arrmanatha saat ditemui di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (10/10).

Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, mengatakan karhutla di Sumatra dan Kalimantan masih menjadi tantangan bagi pemerintah. Ia berharap hujan yang diperkirakan turun dapat membantu meredakan kebakaran.

“Harapan kita (karhutla, red.) ini segera akan reda, karena juga diperkirakan cuaca akan ada hujan,” ujarnya.

Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya menyatakan tidak menerima nota protes dari negara-negara tetangga terkait kabut asap. Juru Bicara I Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan, negara-negara di kawasan tetap berkoordinasi dengan Indonesia dan menawarkan bantuan jika diperlukan.

“Kami tidak menerima nota protes dari negara-negara di kawasan maupun negara-negara tetangga,” kata Yvonne pada pertengahan September.

Dukungan penanganan karhutla juga datang dari sejumlah negara. Kementerian Perhubungan RI mencatat sedikitnya delapan negara membantu pemadaman kebakaran di Indonesia dengan mengirimkan puluhan pesawat. Negara-negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Australia, Jepang, Rusia, Ukraina, dan Kanada.

Di dalam negeri, pemerintah juga mengerahkan personel untuk memadamkan api serta menindak pihak-pihak yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan.

Kementerian Kehutanan RI mencatat hampir 95.000 hektare lahan terbakar di Indonesia pada Juli. Hingga akhir bulan tersebut, total luas lahan terbakar secara nasional mencapai sekitar 202.000 hektare.

Dampak karhutla juga tercermin dari laporan sekitar 175.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Agustus di berbagai wilayah terdampak.

Kabut Asap Kepri Perlu Diwaspadai dalam Beberapa Hari ke Depan

Bagi masyarakat Kepri, pergerakan asap menuju wilayah ini membuat pemantauan kualitas udara menjadi penting. Penurunan konsentrasi PM2.5 pada satu waktu belum cukup untuk memastikan kondisi kembali aman selama paparan polusi masih berlangsung.

Masyarakat perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika polusi meningkat, serta melindungi kelompok rentan dari paparan asap.

Di sisi lain, penutupan sekolah di Malaysia dan peningkatan kewaspadaan di Singapura memperlihatkan bahwa dampak karhutla dapat melampaui batas negara.

Penanganan kabut asap tidak hanya bergantung pada pemadaman kebakaran, tetapi juga pada upaya pencegahan karhutla, perlindungan kesehatan masyarakat, pemantauan kualitas udara, dan kerja sama regional untuk mengurangi dampak polusi lintas negara. (*)

Editor : Putut Ariyo
kualitas udara batam karhutla kabut asap malaysia