batampos - Pemadaman listrik yang melanda Batam sejak Senin (12/10) membuat warga kelimpungan. Tak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini juga memicu lonjakan kebutuhan penerangan darurat. Lilin mulai sulit ditemukan dan harganya dikeluhkan naik, sementara sejumlah hotel di kawasan Marina dan Batuaji dipadati warga yang mencari tempat menginap dengan fasilitas listrik dan air.
Di sejumlah warung dan ritel modern, lilin yang biasanya mudah ditemukan mulai langka. Barang sederhana yang menjadi andalan saat listrik padam itu justru banyak diburu warga sejak pemadaman berlangsung.
Selain stok yang menipis, harga lilin juga dikeluhkan melonjak. Anita, warga Marina, Sekupang, mengaku membeli lilin dengan harga Rp5.000 per batang sebelum malam tiba. Padahal, dalam kondisi normal, lilin tersebut biasanya dijual sekitar Rp2.000 per batang.
“Biasanya Rp2.000, sekarang jadi Rp5.000 sebiji. Makanya tadi beli sebelum malam,” ujar Anita.
Menurut dia, lilin semakin sulit ditemukan saat malam semakin larut. Sejumlah warung yang sebelumnya menjual lilin dilaporkan telah kehabisan stok.
Kekhawatiran warga juga dipicu beredarnya informasi bahwa pemadaman listrik diperkirakan berlangsung lama, bahkan disebut-sebut hingga tiga hari. Meski belum mengetahui kebenaran informasi tersebut, sebagian warga memilih membeli lilin lebih awal untuk persediaan.
“Yang membuat kami khawatir itu kabar listrik bisa mati sampai tiga hari. Kami tidak tahu informasi itu benar atau tidak, makanya orang-orang mulai membeli lilin untuk persediaan,” ujar seorang warga.
Baca Juga: Blackout Batam, Kadin Kepri Desak 10 Langkah Perbaikan Listrik
Di tengah ketidakpastian pemulihan listrik, warga berupaya mencari alternatif agar tetap bisa beraktivitas. Bagi keluarga yang memiliki anak kecil atau anggota keluarga lanjut usia, rumah tanpa penerangan dan pasokan air menjadi persoalan tersendiri.
Dampak pemadaman juga merembet ke sektor perhotelan. Sejumlah hotel di kawasan Marina menjadi pilihan warga untuk menginap sementara. Beberapa hotel bahkan dilaporkan penuh karena meningkatnya kebutuhan akan tempat yang menyediakan listrik dan air.
“Di rumah sudah gelap, air juga tidak mengalir. Anak-anak susah kalau harus bertahan dalam kondisi seperti ini. Jadi kami memilih menginap di hotel dulu, sekalian mengisi daya ponsel,” kata Feni, warga yang menginap bersama keluarganya.
Fenomena serupa terlihat di kawasan Batuaji. Pantauan di lapangan sejak sore hari menunjukkan area parkir sejumlah hotel berbintang dua dan tiga dipadati kendaraan.
Sebagian kendaraan tersebut diduga milik keluarga yang memilih menginap selama pemadaman berlangsung. Hotel menjadi alternatif bagi warga untuk beristirahat, mendapatkan penerangan, menggunakan fasilitas air, sekaligus mengisi daya telepon seluler.
“Ponsel sudah hampir habis baterainya, mau mengisi daya juga sulit. Jaringan ikut hilang, jadi kami kesulitan mencari informasi tentang kapan listrik kembali menyala,” keluh seorang warga. (*)
Editor : Yofi Yuhendri