batampos - Pemadaman listrik massal atau blackout melanda Kota Batam selama lebih dari 14 jam pada Senin (12/10). Gangguan yang berdampak luas terhadap sistem kelistrikan Batam–Bintan itu diduga dipicu masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan.
Sekretaris Perusahaan PLN Batam, Rudi Antono, mengatakan gangguan mulai terjadi pada Senin (12/10) pukul 06.37 WIB. Berdasarkan indikasi awal, gangguan diduga dipicu masuknya hewan liar ke area gardu induk tersebut.
“Masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan sehingga memicu terjadinya gangguan pada sistem kelistrikan,” kata Rudi dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10).
PLN Batam menyatakan tengah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan penyebab gangguan.
Meski demikian, perusahaan belum menjelaskan jenis hewan yang dimaksud, bagaimana hewan tersebut bisa memasuki area gardu induk, maupun mekanisme gangguan yang berdampak luas terhadap sistem kelistrikan Batam–Bintan.
Gangguan ini memunculkan pertanyaan mengenai keandalan sistem pengamanan dan perlindungan infrastruktur kelistrikan. Sebab, gangguan di satu gardu induk dilaporkan berdampak luas terhadap pasokan listrik.
PLN Batam perlu memaparkan hasil investigasi, termasuk kemungkinan adanya kelemahan dalam sistem pengamanan gardu induk serta langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Penjelasan tersebut penting agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai penyebab gangguan dan upaya perbaikan yang akan dilakukan.
Di tengah pemulihan, Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai pesan berantai mengenai pemadaman selama tiga hari berturut-turut dan pembatasan nyala listrik hanya enam jam.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Batam, Rudi Panjaitan, mengatakan informasi tersebut telah dibantah PLN Batam.
“Warga kami imbau tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Pastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi dan jangan langsung meneruskan pesan berantai yang belum terverifikasi,” kata Rudi, Selasa (13/10). (*)
Editor : Yofi Yuhendri