batampos — Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Batam pada Rabu (14/10/2026). Kualitas udara memburuk dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 190,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) berdasarkan pembaruan pukul 08.00 WIB. Kondisi tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Kabut asap terlihat menebal sejak pagi hingga siang hari. Dampaknya paling kentara di sekitar Bandara Internasional Hang Nadim Batam, dengan jarak pandang yang dilaporkan menurun hingga sekitar 1.400 meter.
Kepala Humas BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Batam merupakan bagian dari sebaran asap yang berasal dari Sumatera dan Kalimantan.
Menurut Suratman, angin bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan sekitar 3–15 kilometer per jam. Pergerakan asap mengarah ke barat laut hingga timur laut sehingga wilayah Kepulauan Riau ikut terdampak.
“Sehingga memang Kepri kena sebaran asapnya,” kata Suratman.
Di Bandara Hang Nadim, jarak pandang sekitar 1.400 meter telah masuk kategori waspada untuk bandara dengan landasan pendek. Meski demikian, kondisi tersebut masih dinilai aman untuk operasional penerbangan di Batam berdasarkan keterangan Suratman.
“Ini sudah masuk waspada bagi bandara landasan pendek, kalau untuk Batam sejauh ini masih aman,” ujarnya.
Kabut asap yang semakin pekat juga terlihat di kawasan bandara. Berdasarkan pantauan pada monitor informasi penerbangan, terdapat dua penerbangan yang mengalami keterlambatan, yakni rute Batam–Kuala Lumpur, Malaysia, dan Batam–Pekanbaru.
Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai penyebab keterlambatan kedua penerbangan tersebut. Karena itu, keterlambatan tersebut belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan kabut asap atau penurunan jarak pandang.
Konsentrasi PM2.5 sebesar 190,1 µg/m³ menjadi indikator memburuknya kualitas udara Batam pada Rabu pagi. Paparan partikulat halus pada tingkat tinggi perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung.
Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap masih pekat. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus dan pantau informasi kualitas udara serta imbauan resmi dari instansi terkait. (*)
Editor : Putut Ariyo