Kabut Asap Batam dan Singapura Memburuk

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:09 WIB
Pemandangan kabut asap dari Marina Bay Sands (MBS) yang menghadap kawasan pusat bisnis (CBD) Singapura pada pukul 13.20 waktu setempat, Rabu (14/10). FOTO: CNA/Raydza Rahman
Pemandangan kabut asap dari Marina Bay Sands (MBS) yang menghadap kawasan pusat bisnis (CBD) Singapura pada pukul 13.20 waktu setempat, Rabu (14/10). FOTO: CNA/Raydza Rahman

batampos – Kabut asap yang menyelimuti Batam semakin pekat dan membuat kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 283 pada Rabu (14/10), sementara jarak pandang di sekitar Bandara Internasional Hang Nadim Batam menyusut hingga sekitar 1.000 meter.

Dampak kabut asap juga dirasakan di Singapura. Lonjakan konsentrasi partikel halus atau PM2.5 mendorong warga memburu masker N95 dan penjernih udara. Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan penurunan omzet akibat berkurangnya pelanggan.

Di Batam, kabut asap terlihat menyelimuti sejumlah kawasan, terutama Batam Center dan sepanjang Jalan Jenderal Sudirman menuju Batam Center. Jarak pandang yang terbatas membuat pengendara harus lebih berhati-hati. Dua penerbangan, masing-masing rute Batam–Kuala Lumpur, Malaysia, dan Batam–Pekanbaru, juga tercatat mengalami keterlambatan. Namun, belum ada konfirmasi bahwa keterlambatan tersebut berkaitan langsung dengan kabut asap.

Pemantauan kualitas udara menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Batam mencapai 190,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 08.00 WIB. Pada waktu yang sama, data ISPU yang dipantau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam menunjukkan angka 240.

Kualitas udara semakin memburuk menjelang siang. ISPU mencapai 283 pada pukul 12.00 WIB, kemudian turun ke kisaran 230 pada sore hari dan menjadi 203 pada pukul 20.00 WIB.

Sementara itu, pemantauan kualitas udara waktu nyata di kawasan Patam, Sekupang, mencatat Air Quality Index (AQI) Amerika Serikat sebesar 171 pada pukul 13.31 WIB. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 96 µg/m³ dan PM10 sebesar 104 µg/m³.

Asap Sumatra dan Kalimantan Selimuti Batam

Kepala Humas BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Kepulauan Riau merupakan gabungan sebaran asap dari Sumatra dan Kalimantan.

Menurut dia, angin bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan sekitar 3–15 kilometer per jam. Pergerakan asap mengarah ke barat laut hingga timur laut sehingga Kepulauan Riau ikut terdampak.

“Sehingga memang Kepri kena sebaran asapnya,” kata Suratman.

Dia menjelaskan, jarak pandang di Batam pada pagi hari berada di kisaran 1.400 meter. Kondisi tersebut sudah masuk kategori waspada bagi bandara dengan landasan pendek. Meski demikian, operasional penerbangan di Batam saat itu masih dinilai aman.

“Ini sudah masuk waspada bagi bandara landasan pendek, kalau untuk Batam sejauh ini masih aman,” ujarnya.

Forecaster BMKG Hang Nadim Batam, Rija Juniarti, juga melaporkan jarak pandang di sekitar bandara sempat berada di kisaran 1.000 meter pada Rabu siang.

Data pemantauan ISPU menunjukkan kualitas udara berubah sepanjang hari. Angka ISPU tercatat 164 pada tengah malam, naik menjadi 170 pada pukul 02.00 WIB, kemudian turun menjadi 130 pada pukul 06.00 WIB.

Namun, kualitas udara kembali memburuk pada pagi hari. ISPU mencapai 240 pada pukul 08.00 WIB, turun menjadi 165 pada pukul 09.00 WIB, lalu naik lagi menjadi 207 pada pukul 10.00 WIB.

PM2.5 merupakan partikel polusi berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke paru-paru. Sementara itu, PM10 mencakup partikel seperti debu dan abu yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan polutan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan dan orang yang memiliki masalah pernapasan.

Dua Penerbangan Terlambat, Jarak Pandang Menurun

Kabut asap juga terlihat di sekitar Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Pada monitor informasi penerbangan, tercatat dua penerbangan mengalami keterlambatan, yakni rute Batam–Kuala Lumpur dan Batam–Pekanbaru.

Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai penyebab keterlambatan kedua penerbangan tersebut. Karena itu, hubungan langsung antara keterlambatan dan kabut asap belum dapat dipastikan.

Di jalan raya, jarak pandang yang terbatas berpotensi menyulitkan pengendara melihat kendaraan lain maupun kondisi jalan di depan. Pengendara perlu mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan menggunakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan.

Kasus ISPA di Batam Capai 327 dalam Sehari

Memburuknya kualitas udara turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat 327 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dari laporan sejumlah puskesmas pada 10 Oktober 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batam, Melda Sari, mengatakan angka tersebut merupakan jumlah kasus yang dilaporkan sejumlah puskesmas.

“Untuk tanggal 10 Oktober dari sejumlah puskesmas di Batam tercatat ada 327 kasus ISPA,” ujar Melda, Minggu (11/10).

Berdasarkan kelompok usia, warga berusia 19–59 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 145 kasus atau sekitar 44,3 persen dari total laporan. Kelompok usia 5–9 tahun dan 10–18 tahun masing-masing mencatat 55 kasus.

Sementara itu, balita di bawah lima tahun tercatat sebanyak 50 kasus, sedangkan warga berusia di atas 60 tahun sebanyak 22 kasus.

Data harian menunjukkan jumlah kasus ISPA berfluktuasi sepanjang Oktober. Pada 1 Oktober tercatat 480 kasus, turun menjadi 345 kasus pada 2 Oktober dan 339 kasus pada 3 Oktober. Jumlahnya kembali meningkat menjadi 473 kasus pada 5 Oktober.

Selanjutnya, tercatat 438 kasus pada 6 Oktober dan 412 kasus pada 7 Oktober. Angka tersebut naik menjadi 419 kasus pada 8 Oktober, sebelum turun menjadi 318 kasus pada 9 Oktober. Pada 10 Oktober, laporan kembali meningkat menjadi 327 kasus.

Meski demikian, data kasus ISPA tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus disebabkan kabut asap. Hubungan antara paparan polusi dan keluhan kesehatan perlu dilihat berdasarkan pemeriksaan medis serta data epidemiologis.

Melda mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi polutan meningkat. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker sebagai salah satu langkah perlindungan.

“Kami mengimbau jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan,” katanya.

Masyarakat juga diminta menjaga asupan cairan dan pola makan. Jika mengalami gejala gangguan pernapasan, warga disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Warga Minta Pemerintah Bertindak

Keluhan terhadap kabut asap disampaikan warga di sejumlah wilayah, termasuk Batuaji. Sebagian warga mengaku khawatir karena anak-anak mulai mengalami batuk dan gangguan pernapasan. Aktivitas di luar rumah juga dinilai semakin berisiko ketika udara dipenuhi asap.

Thomson, warga Batuaji, meminta pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan tersebut. Menurut dia, penanganan tidak seharusnya berhenti pada imbauan penggunaan masker, tetapi juga perlu menyasar sumber penyebab kabut asap.

“Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi asap ini. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban karena kondisi udara yang semakin buruk,” ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi tersebut turut berdampak terhadap kegiatan belajar anak-anak. Sejumlah anak disebut sudah lama tidak mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah dan harus belajar dari rumah.

Desakan agar persoalan kualitas udara mendapat perhatian serius juga disampaikan perwakilan tokoh lintas agama di Batam. Melalui gerakan Lintas Agama Peduli Iklim, para relawan turun ke jalan membagikan masker di enam titik strategis pada Selasa (13/10).

Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lukman Rifai, mengatakan perlindungan kesehatan dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

“Menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab kita bersama. Perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang untuk bersatu dalam aksi kemanusiaan,” ujarnya.

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Kota Batam, Pendeta Otnil Harefa, juga menekankan pentingnya mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan melalui langkah konkret.

Warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera menyampaikan langkah penanganan yang jelas dan terukur. Sebab, dampak kabut asap tidak hanya menyangkut kenyamanan beraktivitas, tetapi juga kesehatan masyarakat, keselamatan pengendara, dan keberlangsungan pendidikan anak-anak.

Warga Singapura Berburu Masker N95

Dampak memburuknya kualitas udara juga dirasakan warga Singapura. Mengutip Channel News Asia (CNA), pembacaan PM2.5 di wilayah barat Singapura mencapai 288 pada Rabu sore. Angka tersebut dilaporkan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2015.

Konsentrasi PM2.5 mulai meningkat sejak tengah hari. Di wilayah barat, pembacaannya bertahan di atas 230 sejak pukul 15.00 hingga 20.00 waktu setempat. Di kawasan tengah, angkanya juga berada di atas 200 pada rentang waktu yang sama.

Lonjakan polusi membuat warga mencari masker N95 dan penjernih udara. Sejumlah warga mendapati persediaan masker di apotek dan toko daring telah habis. Pada saat yang sama, pelaku usaha yang mengandalkan pelanggan di area terbuka mengeluhkan penurunan omzet.

Dampak kabut asap dirasakan berbagai kalangan, mulai dari pengemudi layanan antar makanan hingga pekerja kantoran. Bagi pekerja lapangan, kualitas udara yang memburuk menjadi risiko yang sulit dihindari karena berkaitan langsung dengan penghasilan.

Lim, seorang pengemudi layanan antar makanan Grab berusia 45 tahun yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, mengaku mengalami iritasi tenggorokan dan mata berair akibat paparan kabut asap.

“Tenggorokan saya terasa gatal dan mata saya berair. Mengenakan masker saat berkendara dengan helm di tengah cuaca panas juga sangat tidak nyaman,” ujarnya.

Lim rata-rata menghabiskan sekitar 10 jam sehari untuk mengantarkan makanan. Namun, dia mengaku tidak bisa berhenti bekerja meskipun kualitas udara memburuk karena tidak memperoleh penghasilan jika berdiam di rumah.

“Saya tidak bisa berhenti mengantarkan makanan karena saya tidak dibayar jika berdiam di rumah. Saya hanya perlu tetap mengantarkan makanan di tengah kabut asap ini,” katanya.

Dampak serupa dirasakan pedagang kaki lima dan restoran yang memiliki area makan terbuka. Sejumlah pelaku usaha menyebut omzet mereka turun hingga 60 persen sejak kabut asap melanda. Mereka khawatir kehilangan lebih banyak pelanggan jika kondisi tersebut terus berlanjut.

Pakar Ingatkan Pentingnya Memantau PM2.5

Guru Besar sekaligus Provost’s Chair di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan National University of Singapore (NUS), Rajasekhar Balasubramanian, mengatakan pembacaan PM2.5 per jam berguna untuk menilai tingkat polusi partikel halus pada waktu tertentu. Informasi tersebut penting ketika masyarakat mempertimbangkan aktivitas berat di luar ruangan.

“Indeks Standar Polutan (Pollutant Standards Index/PSI) memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kualitas udara secara keseluruhan. Kedua indikator tersebut perlu dipertimbangkan bersama dengan imbauan kesehatan resmi sebelum memutuskan untuk berolahraga di luar ruangan,” ujarnya.

PM2.5 menunjukkan konsentrasi partikel halus di udara, sedangkan PSI merupakan indeks kualitas udara yang dihitung berdasarkan konsentrasi polutan dalam periode tertentu.

Menurut Balasubramanian, langkah antisipasi terhadap kabut asap perlu mempertimbangkan perubahan pembacaan PM2.5 dari waktu ke waktu dan persebarannya di berbagai wilayah. Pemantauan tersebut membantu mendeteksi penurunan kualitas udara sehingga langkah perlindungan dapat dilakukan lebih cepat.

Stok Masker N95 di Singapura Menipis

Tingginya pembacaan PM2.5 membuat sejumlah warga Singapura bergegas mencari masker N95 di apotek pada Rabu sore. Namun, sebagian harus pulang tanpa membawa masker karena persediaan telah habis.

Kelvin Leong, 39, yang bekerja sebagai staf administrasi pendukung bisnis, termasuk warga yang gagal mendapatkan masker tersebut.

“Saya dan manajer kantor pergi ke gerai Guardian dan Watsons terdekat. Salah seorang staf penjualan mengatakan, ‘Anda orang ke-100 yang menanyakan masker. Maaf, stok kami sudah habis’,” tuturnya.

Dia menambahkan, masker N95 juga telah habis terjual di toko daring.

Pemerintah Singapura mempercepat distribusi masker N95 bagi warga rentan melalui sejumlah titik pengambilan, termasuk balai komunitas dan mesin penjual otomatis di beberapa pusat transportasi umum. Namun, National Environment Agency (NEA) mengingatkan bahwa masker tersebut mungkin belum tersedia secara langsung di semua lokasi.

Di Batam, masyarakat berharap pemerintah bersama instansi terkait segera menyampaikan langkah penanganan yang jelas dan terukur. Ketika kabut asap semakin mengganggu aktivitas, warga membutuhkan kepastian bahwa persoalan kualitas udara ditangani secara serius.

Dampaknya bukan hanya menyangkut kenyamanan beraktivitas, tetapi juga kesehatan warga, keselamatan pengendara, serta keberlangsungan pendidikan anak-anak. (*)

Editor : Putut Ariyo
PM2.5 Kabut Asap Batam ISPU Batam Polusi Udara Singapura Kasus ISPA Batam