batampos - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Batam masih mencapai ratusan di tengah persoalan kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam mencatat 383 kasus pada Kamis (15/10). Kelompok usia produktif menjadi penyumbang terbanyak.
Jumlah tersebut turun 22 kasus dibandingkan laporan sebelumnya yang mencapai 405 kasus. Meski menurun, gangguan pernapasan masih menjadi perhatian, terutama saat kualitas udara di Batam memburuk.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam, Melda Sari, mengatakan kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia. Warga berusia 19–59 tahun mendominasi laporan dengan 197 kasus.
“Berdasarkan kelompok usia, laporan Dinkes Batam menunjukkan warga berusia 19–59 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus ISPA terbanyak,” ujar Melda.
Selain kelompok usia produktif, kasus juga ditemukan pada anak-anak dan warga lanjut usia. Dinkes Batam mencatat 66 kasus pada balita, 51 kasus pada kelompok usia 5–9 tahun, 46 kasus pada usia 10–18 tahun, serta 23 kasus pada warga berusia di atas 60 tahun.
Berdasarkan sebaran fasilitas pelayanan kesehatan, Puskesmas Botania mencatat kasus terbanyak, yakni 41 kasus. Berikutnya, Puskesmas Sei Panas dengan 32 kasus, Baloi Permai dan Mentarau masing-masing 29 kasus, serta Lubuk Baja sebanyak 26 kasus.
Melda mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kualitas udara di lingkungan sekitar. Paparan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi warga yang memiliki penyakit tertentu.
“Kesadaran masyarakat untuk melindungi diri menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat polusi udara. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memantau kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan,” ujarnya.
Baca Juga: Udara Batam Sangat Tidak Sehat, 327 Kasus ISPA Dilaporkan dalam Sehari
Ia mengimbau masyarakat memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebelum beraktivitas di luar rumah. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menyesuaikan kegiatan dengan kondisi udara.
Saat kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan fisik berat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan riwayat asma maupun penyakit jantung dan paru-paru juga diminta lebih berhati-hati.
“Jangan menunggu sampai muncul keluhan kesehatan untuk mulai waspada. Memeriksa informasi kualitas udara sebelum beraktivitas merupakan langkah sederhana yang dapat membantu masyarakat mengambil keputusan lebih aman,” tuturnya.
Masyarakat juga diimbau segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan berat atau keluhan yang semakin memburuk. (*)
Editor : Yofi Yuhendri