batampos -– Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mendesak PT PLN melakukan evaluasi menyeluruh setelah pemadaman listrik massal atau blackout pada Senin (12/10) melumpuhkan aktivitas masyarakat dan dunia usaha di Batam. Pada saat yang sama, Polda Kepulauan Riau (Kepri) bersama tim Laboratorium Forensik (Labfor) Bareskrim Polri turun ke Gardu Induk PLN di Sei Harapan, Sekupang, untuk menyelidiki penyebab gangguan.
Amsakar menilai evaluasi diperlukan untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan dan mencegah gangguan pada satu titik jaringan berdampak luas ke berbagai wilayah.
Ia meminta PLN memastikan sistem mampu melokalisasi gangguan serta menyiapkan mekanisme pengalihan pasokan agar pemadaman tidak meluas ketika terjadi masalah pada instalasi tertentu.
“Perlu ada langkah antisipasi ke depan apabila terjadi sesuatu di luar yang kita pikirkan. Hendaknya problem itu selesai dan bisa dilokalisasi di seputaran titik itu. Jadi jangan sampai meluas di berbagai daerah,” kata Amsakar seusai rapat paripurna DPRD Kota Batam, Jumat (16/10).
Amsakar memilih tidak berspekulasi mengenai penyebab blackout yang berdampak pada ratusan ribu pelanggan tersebut. Menurutnya, penjelasan teknis harus disampaikan pihak yang berkompeten berdasarkan hasil pemeriksaan.
“Kalau kita tidak menjawab, kita bukan pada porsi yang tepat. Bisa jadi jawaban kita bias, jadi biar yang kompeten menjawab penyebabnya,” ujarnya.
Ia mengaku belum menerima informasi mengenai dugaan yang mengaitkan pemadaman dengan pengujian pusat data atau data center. Karena itu, ia meminta semua kemungkinan ditelusuri melalui proses investigasi.
“Semua hal menjadi mungkin. Karena itu, soal meng-clear-kan informasi, biar tim yang kompeten yang menjawabnya. Ada tim investigasi,” katanya.
Amsakar Minta PLN Perkuat Sistem Cadangan Listrik
Amsakar mengatakan telah berkomunikasi dengan jajaran PLN, termasuk direktur utama dan manajer operasional, untuk memantau proses pemulihan pasokan listrik pada malam kejadian.
Berdasarkan informasi yang diterimanya saat itu, pemulihan pasokan listrik telah mencapai sekitar 88 persen hingga pukul 21.30 WIB. PLN juga memperkirakan pasokan kembali normal sekitar tengah malam.
Ia mengapresiasi upaya pemulihan yang dilakukan PLN. Namun, menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memperkuat sistem kelistrikan Batam.
Evaluasi, kata dia, perlu mencakup kesiapan sistem interkoneksi dan mekanisme pengalihan pasokan ketika terjadi gangguan. Dengan demikian, sumber pasokan lain dapat segera mengambil alih sehingga pemadaman tidak berlangsung lama atau meluas ke wilayah lain.
“Kalau sempat mati satu, idealnya sudah ada mesin yang bekerja menggantikannya,” ujarnya.
Blackout Batam Ganggu Produksi dan Aktivitas Usaha
Amsakar mengakui pemadaman listrik massal turut mengganggu aktivitas masyarakat dan dunia usaha, terutama sektor produksi yang bergantung pada pasokan listrik.
Ia memperkirakan perputaran uang di pusat perbelanjaan pada hari kejadian tidak jauh berbeda dari kondisi normal. Namun, ia menegaskan perkiraan tersebut belum didukung kajian khusus dan tidak mewakili kondisi seluruh sektor usaha.
“Untuk soal produksi, barangkali cukup terganggu,” katanya.
Mengenai total kerugian yang dialami masyarakat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perusahaan, Amsakar mengaku belum memiliki kajian untuk menghitung nilainya.
Sementara itu, kalangan akademisi dan pengusaha memperkirakan kerugian akibat blackout mendekati Rp500 miliar. Nilainya bahkan berpotensi lebih besar karena gangguan pasokan listrik memengaruhi aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Amsakar juga menyinggung mekanisme kompensasi bagi pelanggan terdampak yang diatur PLN. Namun, ia belum memberikan penjelasan lebih jauh mengenai penilaian masyarakat yang menganggap kompensasi tersebut belum memadai.
Ia berencana menemui jajaran PLN Batam untuk mendapatkan penjelasan langsung, termasuk dari Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo.
“Saya ingin dapat informasi dari Pak Apu (Kwin Fo, Dirut PLN Batam, red),” ujarnya.
Menanggapi anggapan masyarakat bahwa dirinya seolah menghilang saat blackout terjadi, Amsakar membantahnya. Ia mengatakan terus memantau kondisi dan berkoordinasi dengan PLN, tetapi memilih tidak menyampaikan pernyataan kepada publik sebelum memperoleh informasi yang jelas.
“Ketika sesuatu itu belum final, tidak mungkin bagi kita membuat statement yang kemudian membuat warga kita semakin resah. Saya ingin semuanya jelas, semuanya final,” katanya.
Ia mengungkapkan rumahnya juga mengalami pemadaman listrik dan gangguan pasokan air. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa dampak blackout dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan hanya kalangan dunia usaha.
Polda Kepri dan Labfor Periksa Gardu Induk Sei Harapan
Di tengah desakan evaluasi, Polda Kepri bersama tim Labfor Bareskrim Polri mendatangi Gardu Induk PLN di Sei Harapan, Sekupang, Jumat (16/10). Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti blackout yang berdampak pada 411.219 pelanggan di Batam, Bintan, dan Tanjungpinang.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Kepri, Komisaris Besar Nona Pricillia, membenarkan kedatangan tim gabungan tersebut.
“Iya benar, kami bersama tim Labfor Mabes Polri turun ke lokasi gardu untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” kata Nona.
Sebelumnya, Kepala Polda Kepri Inspektur Jenderal Suhendri meminta PLN segera mengidentifikasi sumber gangguan. Pemeriksaan diperlukan untuk menentukan langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Suhendri juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Warga Batam, Tanjungpinang, dan Bintan diminta memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
Berdasarkan pantauan Batam Pos, kedatangan tim kepolisian diketahui dari keterangan petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk gardu induk. Petugas tersebut mengatakan sejumlah anggota kepolisian datang sekitar pukul 09.00 WIB dan meninggalkan lokasi sekitar pukul 15.30 WIB.
“Sekitar pukul 09.00 tadi orang Polda datang ke sini. Mereka baru keluar sekitar pukul 15.30 WIB,” ujar petugas keamanan itu, Jumat sore.
Petugas tersebut mengaku tidak mengetahui secara terperinci identitas seluruh anggota yang datang. Awak media juga belum diizinkan memasuki kawasan instalasi karena akses harus mendapat persetujuan.
“Untuk media belum bisa masuk. Harus ada izin. Kami mohon maaf,” katanya.
Dari luar pagar, sejumlah petugas teknis terlihat berada di dalam kawasan instalasi. Beberapa di antaranya mengenakan helm keselamatan dan berkumpul di dekat gardu listrik, sementara petugas lain berada di sekitar mobil operasional.
Namun, belum dapat dipastikan apakah aktivitas tersebut berkaitan langsung dengan penyelidikan blackout atau merupakan pekerjaan teknis rutin.
PLN Sebut Hewan Liar sebagai Dugaan Awal Penyebab Blackout
Pemadaman listrik massal pada Senin (12/10) berdampak pada 411.219 pelanggan. Meski pasokan listrik telah kembali normal setelah proses pemulihan selama berjam-jam, penyebab pasti gangguan belum diumumkan secara resmi.
Sebelumnya, PLN Batam menyebut masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sei Harapan sebagai dugaan awal pemicu gangguan. Namun, jenis hewan yang dimaksud dan bagaimana keberadaannya dapat memicu pemadaman berskala luas belum dijelaskan secara terperinci.
Manager Komunikasi dan Humas PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama, mengatakan dugaan tersebut masih harus ditelusuri lebih lanjut.
“Berdasarkan indikasi awal, gangguan diduga dipicu oleh masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan yang menyebabkan gangguan pada instalasi kelistrikan hingga berdampak pada pasokan listrik di sejumlah wilayah,” ujar Yoga dalam keterangan tertulis.
Ia menegaskan, penyebab pasti gangguan masih dalam proses penelusuran oleh tim teknis dan pihak berwenang.
“Penyebab pasti gangguan masih dalam proses penelusuran lebih lanjut oleh tim teknis dan pihak berwenang,” katanya.
PLN Batam sebelumnya juga menyatakan gardu induk dan jaringan transmisi yang terdampak telah kembali normal. Petugas teknis dan operasional tetap disiagakan untuk memantau kondisi sistem kelistrikan.
Hasil penyelidikan Polda Kepri dan Labfor Bareskrim Polri kini dinantikan untuk menjelaskan bagaimana gangguan pada satu titik instalasi dapat berdampak hingga ratusan ribu pelanggan. Temuan tersebut juga diharapkan menjadi dasar perbaikan sistem agar blackout serupa tidak kembali terjadi. (*)
Editor : Putut Ariyo