batampos – Kepungan jerebu kiriman yang menyelimuti Kota Batam menjadi tantangan bagi sektor pariwisata. Namun, kondisi tersebut tak serta-merta memadamkan optimisme pemerintah daerah terhadap daya tarik Batam sebagai destinasi wisata. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang telah menembus 1,14 juta orang dan wisatawan domestik sekitar 1,5 juta orang menjadi modal untuk menjaga geliat industri pariwisata.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardi Winata mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Batam masih menjadi salah satu tujuan utama wisatawan mancanegara di Indonesia. Dengan jumlah kunjungan mencapai 1.147.373 orang, Batam menempati posisi ketiga nasional.
Sementara itu, kunjungan wisatawan domestik diperkirakan telah mencapai 1,5 juta orang. Menurut Ardi, capaian tersebut menunjukkan Batam tetap memiliki daya tarik di tengah berbagai tantangan, mulai dari efisiensi perjalanan hingga kondisi lingkungan yang belakangan diwarnai jerebu kiriman.
Besarnya jumlah kunjungan itu juga menjadi peluang bagi pelaku usaha, seperti hotel, restoran, biro perjalanan, dan pengelola destinasi wisata, untuk terus mengembangkan layanan serta memperluas pasar.
“Batam terus bergerak. Bukan saya yang mengatakan Batam hebat, tetapi data (dari BPS) yang menunjukkan itu,” ujar Ardi saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (16/10).
Optimisme tersebut turut menjadi modal bagi penyelenggaraan ASTINDO Travel Fair 2026 di Mega Mall Batam Centre pada 30 Oktober hingga 1 November mendatang. Pameran yang digelar Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) itu menjadi pelaksanaan perdana di Provinsi Kepulauan Riau sejak organisasi tersebut menggelar musyawarah daerah pertamanya pada 2024.
Ajang tersebut diharapkan mempertemukan wisatawan dengan berbagai pilihan paket perjalanan sekaligus mendorong transaksi industri pariwisata. Kehadirannya juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk wisata Batam dan destinasi lain di Kepulauan Riau.
Perkuat Akses dan Atraksi Wisata
Ardi menjelaskan, pengembangan Batam sebagai kota pariwisata bertumpu pada tiga aspek utama, yakni aksesibilitas, amenitas, dan atraksi.
Dari sisi aksesibilitas, Batam dinilai memiliki dukungan transportasi yang memadai untuk menunjang mobilitas wisatawan. Sementara amenitas mencakup ketersediaan hotel, restoran, serta berbagai fasilitas pendukung, mulai dari layanan standar hingga premium.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian agar wisatawan merasa nyaman selama berada di Batam. Dukungan kepolisian, termasuk pengamanan objek vital dan kegiatan pariwisata, menjadi bagian dari upaya menjaga kenyamanan pengunjung.
Adapun dari sisi atraksi, Pemko Batam berupaya memperkuat daya tarik wisata melalui beragam kegiatan dan agenda. Selain mendatangkan pengunjung, kegiatan tersebut diharapkan mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan sehingga berdampak pada belanja dan perputaran ekonomi lokal.
Pengembangan ini juga sejalan dengan upaya menjadikan Batam sebagai destinasi Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Segmen tersebut menyasar wisatawan bisnis, peserta konferensi, serta pengunjung berbagai pertemuan dan pameran.
Dengan memperkuat aksesibilitas, fasilitas, keamanan, dan agenda wisata, Pemko Batam berharap sektor pariwisata tetap tumbuh di tengah tantangan jerebu kiriman. Capaian kunjungan yang telah mencapai jutaan orang menjadi modal untuk memperluas pasar sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. (*)