batampos — Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau (Kepri), kembali berjalan lancar setelah sempat terdampak kabut asap dalam beberapa hari terakhir. Jarak pandang di kawasan bandara pada Minggu (18/10) masih berada di atas 3.000 meter sehingga memenuhi standar operasional penerbangan.
Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam (BIB), Annang Setia Budhi, mengatakan kondisi kabut asap pada Minggu tidak mengganggu aktivitas penerbangan. Pesawat dapat melakukan lepas landas (take-off) dan pendaratan (landing) dengan normal.
“Untuk asap, hari ini alhamdulillah tidak berdampak ke penerbangan sehingga aktivitas take-off dan landing bisa dilakukan secara lancar oleh pilot,” kata Annang di Batam, Minggu.
Annang mengaku sempat berbincang dengan pilot penerbangan Batik Air Malaysia yang khawatir terhadap kondisi kabut asap di Batam. Namun, kondisi jarak pandang saat pesawat mendarat masih normal.
“Tadi sempat saya juga tanyakan pilot dari penerbangan asal Malaysia karena khawatir dengan adanya kabut asap, namun saat landing itu masih normal. Jadi kita bisa syukuri kondisi hari ini untuk aktivitas penerbangan,” ujarnya.
Meski penerbangan kembali normal, kabut asap sebelumnya sempat memengaruhi sejumlah jadwal penerbangan di Hang Nadim. Pada Jumat (16/10), satu penerbangan perintis Susi Air rute Batam–Rengat pulang-pergi dibatalkan.
Selain itu, tiga penerbangan mengalami keterlambatan, yakni rute Palembang–Batam, Batam–Pekanbaru, dan Batam–Jakarta. Penerbangan internasional dari Kuala Lumpur, Malaysia, juga sempat terdampak sehari sebelumnya akibat penurunan jarak pandang di landasan pacu bandara.
Jarak Pandang Hang Nadim Masih di Atas 3 Kilometer
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, mengatakan jarak pandang di wilayah bandara pada Minggu masih di atas 3.000 meter. Kondisi tersebut masih memenuhi standar untuk pendaratan pesawat.
“Jarak pandang yang kita saksikan saat ini masih di atas 3.000 meter atau tiga kilometer. Itu masih dalam standar untuk penerbangan, untuk landing,” kata Ramlan.
Menurut Ramlan, asap yang menyelimuti Batam diduga berasal dari sejumlah wilayah lain, di antaranya Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan.
Hujan yang berpotensi turun dalam beberapa hari ke depan diharapkan dapat membantu mengurangi konsentrasi asap. Namun, hujan yang terjadi sejauh ini masih bersifat sporadis sehingga belum merata di seluruh wilayah.
“Kami berharap hujan yang berpotensi turun dalam beberapa hari ke depan dapat membantu mengurangi konsentrasi asap. Namun dapat dilihat hujan turun secara sporadis di sejumlah titik, jadi belum merata,” ujarnya.
Memasuki akhir Oktober, Batam dan wilayah Kepri diperkirakan mulai memasuki masa peralihan menuju musim hujan. Sementara itu, angin utara diperkirakan mulai muncul pada awal November.
Operasi Modifikasi Cuaca Belum Dilakukan di Batam
Terkait kemungkinan operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi kabut asap, Ramlan mengatakan kegiatan tersebut saat ini tidak berlangsung di Batam.
“Operasi modifikasi cuaca yang sedang berlangsung berada di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara. Untuk saat ini kita di Batam tidak ada,” katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan modifikasi cuaca membutuhkan pertimbangan kondisi atmosfer, termasuk potensi pembentukan awan yang memadai. Karena itu, operasi tersebut tidak bisa dilakukan tanpa dukungan kondisi atmosfer yang sesuai. (*)
Editor : Putut Ariyo