Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Lomba Makan Kerupuk, Camilan Legendaris, Simbol Kesederhanaan dalam Merayakan Kemerdekaan

Yusnadi BP • Selasa, 19 Agustus 2025 | 18:00 WIB

 

Camilan kerupuk adalah makanan rakyat. Lomba makan kerupuk digelar pada bulan Agustus, bukan hanya untuk hiburan, Namun mengajarkan nilai perjuangan, kesabaran, kerja keras dan kebersamaan serta kesederhanaan.

***

Anak-anak mengikuti lomba makan kerupuk di Kampung Kenanga Batu 2 Tanjungpinang.
Anak-anak mengikuti lomba makan kerupuk di Kampung Kenanga Batu 2 Tanjungpinang.

Tawa pecah setiap kali lomba makan kerupuk digelar di sudut-sudut kampung, hingga lapangan terbuka. Dengan mulut terbuka lebar, dagu menengadah dan kerupuk yang bergoyang diikat tali rafia, para peserta lomba berusaha menjadi nomor satu dalam perlombaan.

Di setiap bulan Agustus, lomba makan kerupuk kembali mengikat kebersamaan. Dari anak-anak hingga orang dewasa, semua larut dalam tawa. Kerupuk yang sederhana itu pun menjelma menjadi simbol: kemerdekaan dirayakan bukan dengan kemewahan, melainkan dengan sukacita bersama.

Lomba makan kerupuk, seolah menjadi ikon dan tradisi budaya yang tidak pernah absen dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya pada bulan Agustus.

Cara bermainnya nyaris tidak berubah dari masa ke masa. Kerupuk digantung menggunakan tali di sebuah tambang atau bambu. Posisinya diatur menggantung setinggi wajah peserta lomba.

Tanpa menggunakan tangan, peserta berlomba melahap kerupuk yang seringkali bergoyang ditiup angin atau ditarik-tarik panitia. Hal itu tentunya memancing gelak tawa dari siapa pun yang menyaksikannya.

Meskipun terkesan sederhana, lomba makan kerupuk menyimpan sejarah dan makna mendalam. Tradisi ini mulai populer sejak era 1950-an. Saat Indonesia masih berjuang bangkit dari keterbatasan usai lepas dari belenggu penjajahan kolonial.

Kerupuk adalah camilan legendaris. Makanan murah meriah yang akrab di lidah rakyat kecil. Dipilih sebagai simbol kesederhanaan hidup, juga pengingat akan masa sulit di mana rakyat harus berjuang untuk mendapatkan makanan pra kemerdekaan.

Selain itu, lebih dari sekadar perlombaan, lomba makan kerupuk yang memupuk kebersamaan dan kesederhanaan itu, telah menjadi warisan budaya kemerdekaan yang hidup di tengah masyarakat.

Tidak hanya menghadirkan keriangan saat mengikuti lomba makan kerupuk, tetapi ada pesan moral bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini, lahir dari kesederhanaan, perjuangan dan persatuan rakyat.

Baca Juga: Mau Nonton Pacu Laut di Belakang Padang, Penambang Pancung Panen Rezeki

Peneliti Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dedi Arman, menjelaskan lomba makan kerupuk adalah lomba yang berikatan erat dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Kerupuk itu makanan rakyat. Lomba makan kerupuk dibuat bukan hanya untuk hiburan, tapi juga mengajarkan nilai perjuangan, kesabaran, kerja keras, dan kebersamaan," katanya, Senin (18/8).

Menurut catatannya, perlombaan ini pertama digelar pada 1950an. Tujuannya untuk mengingat bahwa rakyat Indonesia pernah berada di masa sulit yang ditandai dengan rakyat yang memakan kerupuk.

Meski lomba kerupuk adalah hiburan di masa sekarang, namun hal ini juga sebagai simbol persatuan agar masa sulit zaman silam, tidak terulang lagi.

"Kerupuk juga makanan yang identik dengan rakyat dikarenakan harganya yang murah," jelas Dedi.

Suasana meriah dan gembira juga mewarnai peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia di berbagai daerah. Termasuk di Kampung Kenanga Batu 2 Tanjungpinang.

Masyarakat Kampung Kenanga dengan kesederhanaan, turut menggelar lomba makan kerupuk untuk anak-anak maupun orang dewasa. Selain lomba makan kerupuk, ada juga lomba khas lainnya seperti balap karung, tarik tambang, hingga panjat pinang. Semuanya berpadu menjadi perayaan yang penuh tawa gembira, keringat dan kebersamaan.

“Anak kami juga ikut. Seru sekali, apalagi lihat perjuangan anak-anak berebut dan menggigit kerupuk,” ujar Raja Rita, warga Kampung Kenanga.

Menurutnya, perlombaan sederhana namun meriah ini, masyarakat Kampung Kenanga dan kampung-kampung lainnya di Tanjungpinang membuktikan bahwa, kemerdekaan dirayakan bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kebahagiaan dan kebersamaan.

“Intinya bukan soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita semua bisa tertawa bersama dan merasakan semangat persatuan dalam memperingati kemerdekaan,” kata guru Sekolah Dasar (SD) di Tanjungpinang ini. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#lomba makan kerupuk