Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Paus Leo Sahkan Carlo Acutis Sebagai Santo, Jadi Santo Pertama Gereja Katolik di Abad Modern

Chahaya Simanjuntak • Minggu, 7 September 2025 | 21:19 WIB

UPACARA kanonisasi Carlo Acutis menjadi Santo Umat Katolik, yang dipimpin Paus Leo XIV di Vatikan, Minggu (7/9/2025)
UPACARA kanonisasi Carlo Acutis menjadi Santo Umat Katolik, yang dipimpin Paus Leo XIV di Vatikan, Minggu (7/9/2025)

Batampos - Pemimpin umat Katolik, Paus Leo XIV sahkan Carlo Acutis, pemuda Italia asal London, Inggris menjadi Santo, di lapangan Santo Petrus di Vatikan, Minggu (7/9/2025) waktu Vatikan. Ini menjadikannya sebagai Santo pertama yang dikanonisasi di abad modern.

Paus Leo XIV menyatakan, Acutis sebagai santo milenial pertama Gereja Katolik dalam misa terbuka di Lapangan Santo Petrus yang dipadati umat dari berbagai belahan dunia.

Acutis wafat karena leukemia pada usia 15 tahun, di 2006 lalu. Semasa hidup, ia membangun situs web untuk menyebarkan ajaran Katolik, hingga dijuluki “Influencer Tuhan”. Ia dikanonisasi bersama Pier Giorgio Frassati, aktivis muda Katolik lainnya yang wafat seabad lalu.

Baca Juga: Gereja Katolik Miliki Paus Baru Yakni Leo XIV, Ternyata Pernah Berkunjung ke Indonesia

Dalam pidatonya, Paus Leo XIV mengatakan,  keduanya menciptakan “mahakarya” dari hidup mereka dengan mendedikasikannya untuk Tuhan. Satu jam sebelum misa dimulai, Lapangan Santo Petrus sudah penuh dengan para peziarah, banyak di antaranya kaum muda milenial Italia.

"Kegagalan terbesar dalam hidup adalah menyia-nyiakannya di luar rencana Tuhan," ujar Paus dalam homilinya.

"Para santo baru ini adalah undangan bagi kita semua, terutama kaum muda, untuk tidak menyia-nyiakan hidup, melainkan mengarahkannya ke atas dan menjadikannya mahakarya," tambahnya lagi.

Vatikan menyebut 36 kardinal, 270 uskup, dan ratusan imam turut mendaftar untuk merayakan misa bersama Paus Leo XIV, menunjukkan besarnya daya tarik para santo baru itu bagi hierarki Katolik maupun umat.

Upacara kanonisasi ini sejatinya dijadwalkan awal tahun ini, namun ditunda setelah wafatnya Paus Fransiskus pada April lalu. Fransiskus sendiri yang sangat mendorong proses kanonisasi Acutis, yakin bahwa Gereja membutuhkan sosok sepertinya untuk menarik kaum muda Katolik sekaligus merespons janji dan tantangan era digital.

Selama setahun terakhir, lebih dari satu juta orang telah mengunjungi kota Assisi di Italia tengah, tempat jasad Acutis yang ditutupi cetakan lilin menyerupai dirinya dan mengenakan jaket olahraga biru, jins, serta sepatu, dipamerkan dalam peti kaca di Gereja Santa Maria Maggiore, tempat Paus Fransiskus juga dimakamkan.

Sementara Jantung Acutis, disimpan dalam relung emas di Katedral San Rufino, sementara potongan jaringan dari perikardium (selaput jantung) telah berkeliling dunia menjelang kanonisasinya.

Ibunya, Antonia Salzano, juga berkeliling dunia menyampaikan kisah hidup putranya kepada komunitas Katolik, sambil membawa helai rambut Carlo sebagai kenang-kenangan.

Acutis lahir pada 3 Mei 1991 di London dari keluarga kaya yang tidak terlalu taat beragama. Tak lama setelah lahir, keluarganya pindah ke Milan, dan ia menikmati masa kecil yang bahagia, meski semakin lama menunjukkan devosi mendalam terhadap iman Katolik.

Semasa hidup, Acutis sangat tertarik pada ilmu komputer dan sejak kecil sudah membaca buku-buku pemograman tingkat perguruan tinggi. Ia dikenal sebagai anak jenius ketika membuat situs web untuk organisasi Katolik, termasuk situs yang mendata mukjizat. Ia juga gemar bermain PlayStation, meski membatasi diri hanya satu jam per minggu. Bagian dari kedisiplinannya ini disambut baik oleh hierarki Gereja Katolik yang sering mengkritik masyarakat modern yang terlalu bergantung pada teknologi.

Pada Oktober 2006, di usia 15 tahun, Carlo sakit dengan diagnosa leukemia akut. Hanya dalam beberapa hari, ia wafat. Ia dimakamkan di Assisi, kota yang identik dengan Santo Fransiskus.

Salzano, seperti dikutip dari The Guardian mengungkapkan, keluarga mereka sebenarnya tidak terlalu religius, namun Carlo sejak kecil menunjukkan devosi mendalam. “Ia pergi ke misa dan berdoa rosario setiap hari,” ujarnya.

Bahkan, semasa hidup, putranya tersebut sangat tidak bisa melihat orang kesusahan dan menderita. Kami tinggal di pusat Milan, di gedung yang dikelilingi pengemis. Ia ingin membantu mereka, berbicara dengan mereka, memberi makanan dan selimut," kenang Salzano.

Meski demikian, Salzano menyebut Carlo tetap anak biasa. Bermain dengan teman atau berolahraga. "Carlo itu kutu buku internet, tapi ia punya pengendalian diri untuk menggunakan teknologi demi kebaikan, tidak diperbudak olehnya," kata sang ibu.

Gerakan yang terbentuk di sekitar Carlo terlihat sejak hari kematiannya, ketika banyak orang sakit parah mulai berdoa kepadanya untuk kesembuhan. Pemakamannya dihadiri banyak orang yang pernah ia tolong, termasuk para imigran dan anak-anak korban perundungan.

Baca Juga: Menyaksikan Drama Bulan Merah 8 September 2025, Kuasa Ilahi dan Visual Langka di Panggung Raksasa Langit Malam

Ibunya mengklaim, sejak pemakaman itulah mukjizat Carlo mulai terjadi. Tahun lalu, Paus Fransiskus yang telah wafat mengaitkan dua mukjizat pada Carlo. Mukjizat pertama, menurut Vatikan, adalah kesembuhan seorang anak laki-laki di Brasil dari penyakit langka bawaan yang menyerang pankreasnya. Mukjizat kedua, kesembuhan seorang mahasiswa di Florence dari pendarahan otak akibat cedera, setelah ibunya berdoa di makam Carlo di Assisi.

Cepatnya proses kanonisasi Carlo, dibandingkan Frassati, menunjukkan betapa Gereja bersemangat menarik lebih banyak kaum muda.

Sementara itu, Frassati hidup antara tahun 1901 hingga 1925, wafat karena polio di usia 24. Ia lahir dari keluarga terpandang di Turin, namun dikenal karena pengabdian membantu kaum miskin dan perbuatan amal sembari menyebarkan iman kepada teman-temannya. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#vatikan #Paus Leo XIV #Carlo Acutis #Berita internasional #Santo Milenial Pertama #Carlo Acutis Dikanonisasi #katolik #umat katolik