batampos - China telah mengumumkan peraturan baru yang mengubah dunia digital.
Regulasi dunia digital ini mewajibkan influencer memiliki gelar akademis untuk membahas topik - topik seperti kesehatan, hukum, keuangan, dan pendidikan.
Kebijakan ini membuat platform seperti Douyin, Weibo, dan Bilibili harus memverifikasi kredensial influencer yang membahas topik tersebut.
Platform yang tidak mematuhi aturan ini dikenakan denda 100.000 yuan.
Cyberspace Administration of China (CAC) mengumumkan aturan ini sebagai bagian dari upaya untuk memerangi misinformasi dan meningkatkan standar konten di berbagai platform digital.
Peraturan ini mewajibkan para influencer atau pembuat konten untuk memiliki gelar universitas yang relevan, lisensi, atau pelatihan bersertifikat.
Bukti tersebut harus disertakan sebelum memposting konten.
CAC mengeluarkan pedoman tambahan, dikutip dari Gulf Good News:
- Mengungkap ketika konten mencakup materi yang dihasilkan oleh AI.
- Menghindari promosi layanan medis atau produk pendidikan yang disamarkan sebagai nasihat.
- Memastikan bahwa semua klaim ilmiah didukung dengan data yang dapat diverifikasi atau melalui sumber resmi yang terakreditasi.
Aturan ini muncul dari banyaknya keluhan tentang influencer yang tidak terlatih.
"Hampir 30% pengguna yang disurvei telah menemukan klaim influencer yang menipu atau berlebihan, terutama dalam konten terkait kesehatan," tulis studi yang dikutip oleh regulator dan Asosiasi Konsumen China, dikutip dari Greek Reporter, Selasa (28/10).
Publik memuji langkah ini sebagai upaya untuk melindungi warga dari misinformasi, penipuan, dan klaim palsu.
Namun, para kritikus menyuarakan kekhawatiran bahwa aturan ini dapat membatasi kebebasan berekspresi dan mengurangi keragaman suara di dunia maya.(*)
Editor : Juliana Belence