Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Rafflesia Hasseltii: Cantik, Langka, dan Parasit dari Hutan Anambas

Ihsan Imaduddin • Sabtu, 6 Desember 2025 | 18:00 WIB

Dari pendakian melelahkan hingga suara sungai yang menyejukkan, beginilah upaya melihat langsung bunga langka di tengah hutan Anambas.

***

Petugas Anambas Foundation menunjukkan bunga Raflesia yang mekar pada Agustus silam.
Petugas Anambas Foundation menunjukkan bunga Raflesia yang mekar pada Agustus silam.

Kabupaten Kepulauan Anambas selama ini dikenal sebagai daerah maritim dengan lautnya yang indah.

Namun, siapa sangka, wilayah ini juga menjadi rumah bagi salah satu bunga paling langka dan misterius di dunia, Rafflesia hasseltii.

Keberadaan bunga raksasa tak berdaun dan berbatang ini membuat Anambas masuk dalam peta penting konservasi flora langka Indonesia.

Pada Jumat (5/12) pagi, Batam Pos berkesempatan mengunjungi Bukit Tabir di Pulau Siantan. Bukit ini merupakan kawasan konservasi hutan yang menjadi tempat tumbuhnya Rafflesia di Anambas.

Lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga, namun akses menuju titik habitat bunga tetap menantang.

Perjalanan dimulai dari kaki bukit, ditemani dua pendamping, Yugha, petugas dari Anambas Foundation, dan Frengky Tanjung, warga lokal yang sudah hafal seluk beluk jalur hutan. Dari awal, mereka mengingatkan perjalanan akan cukup menguras tenaga.

Pendakian memakan waktu sekitar 45 menit. Jalur yang dilalui tidak hanya menanjak, tetapi juga sempit dan licin. Akar-akar pohon melintang di tanah, memaksa kami menjaga keseimbangan setiap langkah.

Sementara itu, semak belukar sesekali menutup jalan, mengharuskan kami membuka jalur dengan tangan.

Selain jalur yang naik turun, ranting pohon yang berserakan juga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, di balik itu semua, hutan di Bukit Tabir menyimpan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Suara desiran sungai yang mengalir di sisi bawah bukit menyejukkan hati dan pikiran, seperti memberikan energi baru setiap kali langkah terasa berat.

Udara lembap khas hutan tropis terasa menempel di kulit. Aroma tanah basah bercampur dengan bau dedaunan yang luruh.

Sesekali terdengar suara burung yang menembus lebatnya pepohonan, membuat perjalanan terasa lebih hidup.

Setiba di lokasi pertama, kami langsung mencari tanda-tanda bunga Rafflesia yang mekar.

Namun apa yang kami temukan justru berbeda dari harapan, bunga belum mekar. Yang terlihat hanya tonjolan bulat berwarna cokelat kehitaman di pangkal akar, aula yang disebut dengan knop, atau bakal bunga Rafflesia.

“Biasa masuk musim penghujan begini, dia mekar. Tapi kalau dilihat, akhir Januari,” kata Yugha sambil menunjuk knop yang masih tertutup rapat.

Kami melanjutkan perjalanan ke titik berikutnya. Total ada empat titik yang dikunjungi, namun semuanya menunjukkan kondisi serupa.

Knop memang terlihat, tetapi belum ada yang benar-benar terbuka menjadi bunga raksasa berwarna merah jingga seperti yang sering kita lihat di foto.

Menurut Yugha, kondisi ini masih tergolong wajar. Rafflesia bukan bunga yang mudah diprediksi. Ia bisa mekar tiba-tiba, namun bisa juga membusuk sebelum sempat membuka diri.

“Bunga ini pertama kali ditemukan pada tahun 2023 oleh peneliti dari Institut Pertanian Bogor,” jelasnya.

Sejak saat itu, Anambas Foundation bersama pemerintah daerah rutin mengamati perkembangan Rafflesia.

Sepanjang tahun 2025, pengamatan dilakukan hampir setiap minggu. Mereka mencatat kondisi fisik lingkungan seperti suhu dan kelembaban, serta kondisi biologis seperti keberadaan pohon inang.

Jenis pohon yang tumbuh di sekitar habitat Rafflesia didominasi pohon karet dan jengkol.

Menurut Yugha, keberadaan pepohonan tersebut bisa memengaruhi kelembaban tanah, yang sangat penting bagi siklus hidup Rafflesia.

Di sekitar habitat, beberapa satwa hutan seperti monyet ekor panjang, burung srigunting, hingga baning cokel juga sering dijumpai, menandakan ekosistem yang masih terjaga.

“Ya, sebagai bunga yang cantik dan dilindungi dalam undang-undang Indonesia, bunga Rafflesia ternyata bersifat parasit. Mereka mencuri nutrisi dari inang mereka, yang umumnya dari tumbuhan liana jenis Tetrastigma,” kata Yugha. Tanpa inang tersebut, Rafflesia mustahil bertahan hidup.

Sepanjang tahun ini, Rafflesia hasseltii di Bukit Tabir tercatat mekar pada periode Juni hingga Agustus.

Masa ini dianggap sebagai puncak aktivitas Rafflesia di Anambas. Cuaca, kata Yugha, menjadi faktor yang banyak memengaruhi.

“Knop atau bakal bunga paling banyak kami temui di bulan Juni, sedangkan bunga mekar paling banyak di bulan Agustus saat mulai masuk bulan hujan. Waktu itu ada tiga bunga mekar hampir bersamaan. Meskipun hanya tiga, itu jumlah yang cukup banyak untuk bunga yang sangat langka ini," jelasnya.

Menurut Yugha, momen menyaksikan bunga Rafflesia mekar langsung di habitatnya adalah pengalaman yang sulit dilupakan.

“Ini pengalaman yang sangat mengharukan untuk berjumpa dengan bunga langka seperti ini di tengah dunia yang hancur ini,” tambahnya dengan nada lirih.

Keberadaan Rafflesia di Anambas bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar.

Habitatnya harus dijaga agar tidak rusak oleh aktivitas manusia. Pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan, dan jalur wisata harus diatur agar tidak mengganggu perkembangan knop.

Kini, Bukit Tabir perlahan mulai dikenal sebagai salah satu titik konservasi Rafflesia di Indonesia.

Kehadirannya menambah daftar kekayaan biodiversitas Anambas yang selama ini lebih dikenal lewat lautnya.

Bila dikelola dengan bijak, kawasan ini bisa menjadi pusat edukasi alam bagi pengunjung dari berbagai daerah.

Perjalanan pulang terasa lebih ringan, meski lelah masih terasa di kaki. Hutan seolah memberikan pelajaran bahwa keindahan tidak selalu mudah dijangkau, seperti bunga Rafflesia yang menunggu waktu tepat untuk menunjukkan dirinya. Dan bagi Anambas, bunga itu adalah anugerah yang harus dirawat bersama. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#Rafflesia hasseltii