Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Siklon Senyar: Kejadian Alam Paling Mematikan di Indonesia, Namun Faktor Manusia Memperburuk Dampak Bencana

Chahaya Simanjuntak • Senin, 8 Desember 2025 | 15:15 WIB

TANGKAPAN Layar dari banjir Bandang dan Tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Batangtoru, Tapsel, Sumatera Utara, Selasa (25/11/2025)
TANGKAPAN Layar dari banjir Bandang dan Tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Batangtoru, Tapsel, Sumatera Utara, Selasa (25/11/2025)

Batampos - Indonesia mencatat, setidaknya 940 korban jiwa yang tewas dalam bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sementara Thailand mencatat sekitar 276 korban tewas, dan Malaysia melaporkan tiga warganya tewas. Kejadian alam ini akibat dari Siklon Senyar.

Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra setelah terbentuknya Siklon Senyar menjadi salah satu kejadian alam paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena siklon tropis yang terbentuk di Selat Malaka itu memicu hujan lebat dan aliran air besar yang menyebabkan kerusakan luas.

Siklon Senyar tercatat sebagai fenomena cuaca yang sangat jarang terjadi di sekitar khatulistiwa. Para ahli meteorologi menyebutkan, terbentuknya siklon ini sebagai indikasi perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu akibat pemanasan global.

Baca Juga: Kepri Diminta Tetap Waspada Dampak Tak Langsung Siklon Senyar

Meski hujan ekstrem menjadi pemicu langsung, para peneliti menegaskan, faktor manusia memperburuk dampak bencana. Deforestasi, kerusakan daerah aliran sungai, dan perubahan fungsi lahan dalam skala besar menyebabkan tanah tidak mampu lagi menyerap air secara optimal.

Dalam satu dekade terakhir, wilayah terdampak dilaporkan kehilangan jutaan hektare tutupan hutan. Aktivitas perkebunan, tambang, dan penggunaan lahan yang tidak sesuai fungsi disebut merusak kawasan penyangga alami yang seharusnya menahan banjir dan longsor.

Pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada, Dwikorita menyebutkan,  degradasi lingkungan di hulu sungai sebagai salah satu penyebab utama cepatnya aliran air menuju permukiman. Tanah yang gundul membuat limpasan hujan mengalir deras dan memicu longsor di berbagai titik.

Baca Juga: Warga Kute Siantan Keluhkan Internet Lemah, Ini Komentar Bupati Aneng

BMKG mengonfirmasi telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi siklon delapan hari sebelum bencana terjadi. Namun kondisi ekologi yang telah rusak membuat mitigasi alamiah tidak lagi optimal untuk menahan dampaknya.

Organisasi lingkungan seperti Walhi menilai kejadian ini sebagai bencana ekologis yang diakibatkan oleh kebijakan penggunaan lahan yang longgar. Mereka menyoroti lemahnya pengawasan terhadap izin perkebunan dan aktivitas tambang di wilayah rawan.

Pemerintah daerah di sejumlah provinsi di Sumatra kini tengah berfokus pada upaya evakuasi dan pemulihan infrastruktur dasar. Ribuan warga dilaporkan mengungsi, sementara proses pencarian korban masih berlangsung. Hingga kini, status bencana di Sumatera belum menjadi fokus perhatian secara nasional, meski efeknya sudah sangat meluas ke dunia internasional.

Para ahli memperkirakan kejadian serupa berpotensi terulang jika kerusakan lingkungan tidak segera diperbaiki. Rehabilitasi hutan, perlindungan daerah aliran sungai, dan pengetatan regulasi lahan dinilai menjadi kunci pencegahan bencana di masa depan.

Hingga kini, pemerintah pusat belum merilis angka kerugian secara keseluruhan, namun penilaian awal menunjukkan kebutuhan pemulihan infrastruktur dan lingkungan akan mencapai jumlah yang sangat besar. (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Siklon Senyar #Analisis #Sumatera Flooding