batampos - Khaleda Zia tokoh politik paling berpengaruh di Bangladesh dan Perdana Menteri perempuan pertama meninggal dunia pada Selasa (30/12) pagi waktu setempat. Ia wafat pada usia 80 tahun.
Kabar ini diumumkan oleh Partai Nasionalis Bangladesh (BNP). Khaleda tutup usia usai melawan penyakit berkepanjangan.
Ia meninggal di Evercare Hospital di Dhaka. Kondisinya memburuk akibat masalah kesehatan, termasuk infeksi paru - paru, komplikasi hati, diabetes, serta gangguan jantung dan dada.
Profil Singkat dan Karier Politik
Khaleda Khanam Putul lahir pada 15 agustus 1945 di Japlaiguri, Bengal, India. Zia mencatat sejarah sebagai PM perempuan pertama Bangladesh dan menjadi salah satu pemimpin dominan di negara itu.
Memimpin pemerintahan setelah kemenangan BNP dalam pemilu 1991. Berhasil mengembalikan sistem pemerintahan parlementer yang sempat dibatasi di era sebelumnya.
Zia kembali memimpin negara untuk periode kedua pada 2001 -2006. Selama masa jabatannya, ia fokus pada pembangunan ekonomi, pendidikan, dan stabilisasi negara pasca reformasi.
Zia adalah pemimpin partai Bangladesh Nationalist Party (BNP) sejak 1984. Partai tersebut didirikan oleh suaminya, Ziaur Rahman, mantan Presiden Bangladesh.
Setelah kematian suaminya dalam sebuah kudeta militer pada 1981, Zia terjun penuh ke dunia politik dan memimpin partai tersebut.
Selama kariernya, Khaleda Zia mengalami penahanan berkali - kali di bawah rezim otoriter pada tahun 1980-an saat menentang pemerintahan yang berkuasa.
Dalam politik Bangladesh ada rivalitas antara Khaleda Zia dan Sheikh Hasina, pemimpin partai Awami league yang pernah berkali - kali menjadi PM.
Rivalitas panjang ini disebut sebagai "Battle of Begums" yang membentuk banyak dinamika politik di negara itu selama puluhan tahun.
Meskipun kesehatannya menurun, pencalonan dalam pemilihan umum yang dijadwalkan Februari 2026 diajukan atas namanya dengan Tarique Rahman.
Khaleda Zia dipandang sebagai tokoh sentral politik Bangladesh. Perdana Menteri perempuan pertama Bangladesh dan figur politik besar meninggalkan sejarah penting dalam lanskap politik negara itu.(*)
Editor : Juliana Belence