batampos - Penutupan Warung Nasi Pariaman Singapura meninggalkan duka mendalam bagi banyak warga.
Usaha kuliner legendaris yang telah berdiri sejak 1948 di kawasan Kampong Glam itu bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari kenangan lintas generasi masyarakat Singapura.
Berlokasi di kawasan Kampong Glam, Masjid Sultan di 783 North Bridge Road.
Warung Nasi Pariaman menjadi bagian penting dari pemandangan kuliner kota Singapura sejak berdiri tahun 1948 oleh Haji Isrin asal Pariaman, Sumatra Barat.
Penutupan tersebut mengejutkan banyak pelanggan tetap dan penggemar kuliner.
Bahkan Pelaksana Tugas Menteri Urusan Masyarakat Muslim, Faishal Ibrahim, turun tangan dengan mengunjungi keluarga pemilik Warung Nasi Pariaman.
Ia turut menyampaikan apresiasi atas kontribusi warung dalam memperkaya pengalaman kuliner masyarakat Singapura.
"Bagi banyak keluarga, termasuk keluarga saya, kunjungan ke Kampong Glam sejak lama selalu disertai dengan makan disini. Nilai tempat seperti pariaman benar - benar tak ternilai dalam masyarakat kita," tulis postingan di Instagram Pelaksana Tugas Menteri Urusan Masyarakat Muslim, Faishal Ibrahim, @muhammadfaishalibrahim, Rabu (28/1).
Menteri Singapura tersebut juga meminta rekan - rekannya dari berbagai instansi pemerintah untuk bekerja sama dengan pemilik warung guna memahami bentuk bantuan apa yang dapat diberikan.
Warung Nasi Pariaman sangat melekat di hati masyarakat Singapura dan wisatawan mancanegara. Restoran satu ini telah menjadi bagian dari kenangan bersama keluarga dan komunitas.
Warung Nasi Pariaman menjadi salah satu ikon kuliner yang telah bertahan puluhan tahun di tengah perubahan yang terjadi di kawasan Kampong Glam.
Respon langsung dari Faishal Ibrahim mendorong keterlibatan pemerintah dalam mencari opsi bantuan.
Pemerintah Singapura melihat tempat ini bukan sekadar bisnis, tetapi bagian berharga dari kehidupan masyarakat setempat.(*)
Editor : Juliana Belence