batampos — Konflik di Timur Tengah disebut mulai berdampak pada kondisi psikologis personel militer Amerika Serikat. Sejumlah anggota militer dilaporkan mengalami tekanan mental hingga menyuarakan kekecewaan terhadap kebijakan operasi militer di kawasan tersebut.
Laporan HuffPost menyebut sebagian personel militer dan pasukan cadangan mengeluhkan stres berat, rasa frustrasi, serta ketidakjelasan tujuan misi.
Beberapa di antaranya bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan karier militer.
“Saya mendengar langsung dari anggota militer, mereka mengatakan tidak ingin menjadi pion politik,” ujar seorang pasukan cadangan dalam laporan tersebut.
Laporan itu juga mengungkap adanya penurunan moral di kalangan personel, terutama karena dinilai tidak adanya narasi yang jelas terkait keterlibatan Amerika Serikat bersama Israel dalam konflik dengan Iran.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi efektivitas operasi militer di lapangan.
Sementara itu, CBS News melaporkan bahwa Pentagon telah menyiapkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran.
Langkah ini dilakukan untuk memberi pilihan strategis kepada pemerintahan Donald Trump di tengah eskalasi konflik.
Seperti diketahui, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari. Iran kemudian membalas dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Meski demikian, laporan mengenai kondisi psikologis militer tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak pemerintah Amerika Serikat. (*)
Editor : Jamil Qasim