batampos – Pengamat pertanian dari Aliansi Petani Bersatu, Deby Syahputra, meluruskan pernyataan Menteri Pertanian terkait kekuatan crude palm oil (CPO) Indonesia yang sempat dikaitkan dengan Selat Hormuz.
Menurut Deby, pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak dimaksudkan sebagai perbandingan langsung, melainkan hanya ilustrasi untuk menggambarkan besarnya pengaruh Indonesia di pasar global.
“Pernyataan tersebut adalah gambaran betapa kuatnya posisi Indonesia dalam ekspor CPO. Jadi keliru jika dipahami sebagai perbandingan dengan Selat Hormuz,” ujarnya, Rabu (1/4).
Baca Juga: Tiga Personel TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Desak PBB Gelar Rapat Darurat Dewan Keamanan
Ia menilai narasi yang berkembang justru merupakan framing yang tidak tepat dan berpotensi menyesatkan publik. Padahal, pesan utama yang ingin disampaikan adalah besarnya daya tawar Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis dunia.
“Jangan disalahartikan, apalagi diframingkan,” tegasnya.
Deby menjelaskan, Indonesia saat ini menguasai lebih dari 60 persen pasar ekspor CPO global. Dominasi tersebut membuat Indonesia memiliki kemampuan memengaruhi stabilitas pasokan dan harga di pasar internasional.
“Dalam kondisi ekstrem, jika ekspor dihentikan, industri di berbagai negara seperti Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa bisa terdampak signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kekuatan tersebut seharusnya dimanfaatkan secara strategis melalui kebijakan hilirisasi. Dengan demikian, CPO tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah seperti margarin, oleokimia, hingga produk perawatan tubuh.
Baca Juga: Wamen ESDM Pastikan Stok BBM di Kepri Aman, Distribusi ke Pulau-Pulau Diawasi
“Pemerintah saat ini juga sedang mengarah pada hilirisasi agar nilai tambah bisa dinikmati di dalam negeri,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa dominasi Indonesia di sektor kelapa sawit merupakan aset strategis nasional.
Dengan pengelolaan yang tepat, komoditas ini diyakini tidak hanya menjadi penopang ekspor, tetapi juga motor penggerak industrialisasi berbasis sumber daya alam.
“Kekuatan sawit kita sangat besar, terutama untuk memperkuat kemandirian bangsa,” ujarnya. (*)
Editor : M Tahang