Batampos - Dampak perang selama enam pekan, yang dimulai 28 Februari 2026 lalu, antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya merusak infrastruktur militer Iran, tetapi juga mengguncang kepemimpinan negara tersebut.
Diawali dengan tewasnya pemimpin tertingginya, Ali Khamenei. Kemudian posisinya kini digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Dari pengangkatannya hingga kini, Mojtaba belum sekali pun muncul ke publik.
Peralihan kepemimpinan di tengah serangan brutal AS dan sekutunya Israel, oleh sejumlah pengamat menilai, pemerintahan baru Iran ini dianggap lebih tertutup dan berpotensi dikendalikan oleh kelompok militer garis keras, meski dalam pernyataannya baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya kecenderungan Iran kini akan lebih moderat.
Baca Juga: Jadi Titik Temu Para Seniman Dunia, Festival Graffiti Internasional Diadakan di Nagoya City Walk
Di sisi lain, militer Iran mengalami kerusakan besar akibat lebih dari 13.000 serangan udara selama perang enam pekan. Sejumlah pejabat AS menyebut kekuatan militer Iran nyaris lumpuh. Demikian dilansir dari USA Today, Sabtu (11/4/2026).
Namun analis pertahanan menilai Iran masih memiliki kemampuan tempur. "Negara itu dalam kelemahan dan keterbatasannya kini, masih tetap melancarkan serangan menggunakan rudal jarak pendek dan menengah ke wilayah Israel serta negara tetangganya," ujarnya.
Dalam satu insiden, Iran bahkan berhasil menembak jatuh dua pesawat militer AS, menunjukkan bahwa kemampuan militernya belum sepenuhnya hilang. "Melemah tapi masih aktif," ujar seorang pengamat militer AS. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak