batampos - Krisis pasokan bahan bakar jet mulai menghantui industri penerbangan di Inggris dan Uni Eropa. Ini memicu kekhawatiran akan gelombang pembatalan penerbangan dalam waktu dekat.
bandara - bandara di kawasan memperingatkan bahwa stok avtur bisa menipis drastis jika gangguan distribusi global terus berlanjut.
Gangguan terjadi akibat tertutupnya Selat Hormuz, sehingga distribusi energi ke Eropa terganggu besar - besaran.
Kondisi disebut berpotensi menjadi krisis sistemik yang bisa melumpuhkan sektor penerbangan, terutama menjelang musim liburan musim panas.
Beberapa maskapai telah membatalkan dan mengurangi jadwal penerbangan. Scandinavian Airlines (SAS) membatalkan sekitar 1.000 penerbangan.
Baca Juga: Barcelona Menang Telak 4-1 atas Espanyol, Jarak dengan Real Madrid Makin Melebar
Ryanair mempertimbangkan pemangkasan rute hingga 10%. Maskapai kecil di Inggris bahkan sudah menghentikan layanan tertentu.
pembatalan massal di seluruh Eropa disebut tak terhindarkan, jika kondisi terus berlanjut. Harga bahan bakar avtur melonjak dua kali lipat dalam waktu singkat.
Harga menembus sekitar $150 - $200 per barel. Kenaikan tersebut membuat biaya operasional maskapai melonjak.
Akhirnya berdampak pada kenaikan harga tiket, pengurangan frekuensi penerbangan, dan penutupan rute yang tidak menguntungkan.
Eropa sangat bergantung pada impor energi. Lebih dari 50 - 60% bahan bakar berasal dari Timur Tengah. Sekitar 20% pasokan global beradal dari kawasan Teluk.
Inggris dinilai relatif lebih stabil dibanding sebagian negara Uni Eropa karena fleksibilitas pasokan pasca Brexit.
Namun, risiko tetap ada dan pemerintah terus memantau situasi secara ketat. Industri penerbangan sendiri merupakan pilar penting ekonomi Eropa, sehingga gangguan besar bisa berdampak luas.(*)
Editor : Juliana Belence