batampos – Harapan tercapainya terobosan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali pupus. Negosiasi intens yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Delegasi Amerika Serikat memilih kembali ke negaranya setelah perundingan tak mampu menjembatani perbedaan mendasar antara kedua pihak.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa pembicaraan telah mencapai titik buntu, terutama terkait isu strategis yang menjadi fokus utama Washington.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Bayangi Ekonomi Batam
AS menuntut komitmen tegas dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun teknologi pendukungnya. Namun, tuntutan tersebut tidak mendapat respons sesuai harapan.
Perbedaan sikap ini menjadi faktor utama gagalnya kesepakatan, meski pembicaraan telah berlangsung panjang dan intens.
Iran Kritik Tuntutan AS
Dari pihak Teheran, sikap Washington dinilai terlalu menekan. Media Iran menyebut tuntutan yang diajukan AS tidak realistis dan menjadi penyebab utama kebuntuan negosiasi.
Meski demikian, jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup. Kedua pihak masih membuka peluang melanjutkan pembahasan di tingkat teknis melalui pertukaran dokumen.
Baca Juga: Perang Iran–AS Bayangi Inflasi Batam, BPS Minta Waspada
Pertemuan di Islamabad menjadi salah satu momen langka dalam hubungan kedua negara, yang jarang melakukan kontak langsung sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Namun, momentum tersebut gagal dimanfaatkan untuk menghasilkan kesepakatan konkret.
Kebuntuan diplomasi ini berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
Ketidakpastian di kawasan ini dikhawatirkan terus mendorong volatilitas harga minyak dan memperbesar tekanan ekonomi global.
Pengamanan Ketat Warnai Perundingan
Selama proses negosiasi, Islamabad berada dalam pengamanan ekstra ketat. Ribuan aparat dikerahkan untuk menjaga stabilitas selama pertemuan berlangsung.
Meski belum membuahkan hasil, peran Pakistan sebagai mediator dinilai membuka ruang dialog yang sebelumnya tertutup.
Namun hingga kini, jalan menuju kesepakatan masih panjang dan penuh tantangan. (*)
Editor : M Tahang