Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Starmer Tegas: Inggris Tak Ikut Blokade Trump di Selat Hormuz

jpg • Selasa, 14 April 2026 | 09:31 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. (Freepik)
Ilustrasi Selat Hormuz. (Freepik)

batampos — Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz mulai ditinggalkan sejumlah sekutu dekatnya. Inggris secara tegas menyatakan tidak akan terlibat, di tengah kekhawatiran kebijakan tersebut justru memperluas konflik global.

Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan London tidak akan mendukung langkah Washington. Ia menekankan Inggris tidak ingin terseret lebih jauh dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

“Kami tidak mendukung blokade ini dan tidak akan ikut terseret dalam perang,” tegas Starmer dalam wawancara dengan BBC.

Alih-alih mendukung aksi militer, Starmer menekankan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di wilayah tersebut dalam kondisi normal.

Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah memastikan akses pelayaran kembali normal demi menjaga stabilitas ekonomi global.

“Kami fokus memastikan selat itu terbuka sepenuhnya, dan upaya diplomatik akan terus kami dorong,” ujarnya.

Penolakan Inggris bukan satu-satunya. Sejumlah sekutu AS lainnya juga mulai bersikap kritis. Presiden Emmanuel Macron bahkan mengumumkan rencana konferensi bersama Inggris untuk membahas kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Macron menegaskan bahwa semua upaya diplomasi harus dimaksimalkan guna mengakhiri konflik secara permanen.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles menilai rencana blokade tersebut tidak masuk akal dan berpotensi memperburuk situasi.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mendesak agar negosiasi dengan Iran segera dilanjutkan dan jalur pelayaran dibuka secepat mungkin.

Banyak pihak menilai langkah blokade ini bukan sekadar tekanan politik, melainkan berpotensi memicu babak baru konflik berskala besar. Kebijakan tersebut juga dinilai dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, terutama di sektor energi.

Tiongkok, sebagai salah satu importir utama minyak Iran, turut mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas serta kelancaran jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz.

Diketahui, sejak konflik memanas, lalu lintas di selat tersebut masih terbatas. Iran dilaporkan hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu untuk melintas, memperketat kontrol atas jalur strategis itu.

Sementara itu, United States Central Command menyatakan akan tetap menjalankan rencana blokade terhadap pelabuhan Iran, meski mekanisme penerapannya masih belum sepenuhnya jelas.

Di tengah tarik-menarik kepentingan ini, sikap Inggris dan sejumlah negara lain menandai munculnya perbedaan pendekatan di antara sekutu Barat—antara jalur militer dan diplomasi.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik AS–Iran tidak lagi sekadar isu regional, tetapi telah berkembang menjadi ujian besar bagi solidaritas global dan stabilitas ekonomi dunia. (*)

Editor : Jamil Qasim
#Inggris Tolak #selat hormuz #blokir