Kampus Indonesia Mulai Buka Jurusan AI, Tak Lagi Sekadar Mata Kuliah

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 20:01 WIB
Ilustrasi pendidikan AI. (Pinterest)
Ilustrasi pendidikan AI. (Pinterest)

batampos – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mendapat posisi baru dalam pendidikan tinggi Indonesia. Sejumlah perguruan tinggi mulai membuka program khusus AI, tidak lagi sekadar menjadikannya sebagai mata kuliah atau bagian dari ilmu komputer.

Perkembangan tersebut sejalan dengan semakin luasnya pemanfaatan AI di berbagai sektor, mulai dari keuangan, kesehatan, manufaktur, pendidikan, hukum, komunikasi hingga ekonomi kreatif.

Kemunculan teknologi Generative AI, AI Agent, dan otomatisasi juga mendorong lahirnya model bisnis serta profesi baru. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap talenta AI semakin meningkat.

Sejumlah profesi seperti AI Engineer, Machine Learning Engineer, AI Product Specialist, dan AI Consultant mulai banyak dibutuhkan. Kemampuan memahami AI juga semakin relevan bagi pekerja di luar bidang teknologi.

Karena itu, pendidikan AI tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan teknis. Mahasiswa juga perlu memahami cara kerja, penerapan, evaluasi, serta aspek etika dalam penggunaan AI.

Perguruan tinggi dituntut membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi lintas disiplin, serta pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri.

Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan talenta AI, terutama didukung bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi digital. Namun, tantangannya adalah memastikan kompetensi lulusan tetap sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Salah satu perguruan tinggi yang mengambil langkah tersebut adalah Binus University. Kampus ini memperluas Program Artificial Intelligence ke berbagai lokasi kampus.

Rektor Binus University, Nelly, mengatakan perluasan Program Artificial Intelligence merupakan bagian dari komitmen mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.

"Kami ingin memastikan semakin banyak generasi muda Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk menguasai teknologi masa depan, sehingga mereka mampu menjadi inovator yang memberikan dampak positif bagi masyarakat," ujar Nelly di Jakarta, dikutip Sabtu (8/8).

Dari Matematika hingga IoT dan Bisnis

Kurikulum AI mencakup berbagai bidang, mulai dari matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, Internet of Things (IoT), robotika, hingga etika AI, komunikasi, dan bisnis.

Pembelajaran juga dilengkapi dengan proyek serta kolaborasi bersama industri agar mahasiswa mendapatkan pengalaman yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Dekan School of Computer Science Binus University, Derwin Suhartono, mengatakan cara pandang terhadap AI perlu berubah.

Menurut dia, pertanyaan penting saat ini bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan apakah generasi muda memiliki kompetensi untuk bekerja berdampingan dengan AI.

"Yang perlu dipersiapkan bukan hanya kemampuan menggunakan berbagai tools AI, tetapi juga kemampuan memahami cara kerjanya, mengevaluasi hasilnya, mengembangkan solusi berbasis AI, serta menerapkannya secara bertanggung jawab untuk menjawab berbagai tantangan di masyarakat maupun industri," jelas Derwin.

Ia menilai AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia saat ini.

Munculnya program pendidikan khusus AI menunjukkan teknologi mulai memengaruhi arah pendidikan tinggi di Indonesia.

Bagi calon mahasiswa, jurusan AI membuka jalur baru untuk mempelajari teknologi yang semakin berperan dalam dunia kerja. Program tersebut sekaligus menjadi salah satu pilihan untuk mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri di tengah perkembangan ekonomi digital. (*)

Editor : Jamil Qasim
Kampus Indonesia Buka Jurusan AI