Kasus Malaria Naik 69 Persen, Perubahan Iklim Jadi Perhatian Peneliti

JawaPos • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:01 WIB
Ilustrasi penanganan DBD di salah satu IGD rumah sakit di Surabaya. (Robertus Risky / Jawa Pos)
Ilustrasi penanganan DBD di salah satu IGD rumah sakit di Surabaya. (Robertus Risky / Jawa Pos)
batampos – Perubahan iklim berpotensi memperluas wilayah penyebaran malaria dan demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung perkembangbiakan nyamuk pembawa kedua penyakit tersebut.

Data yang dikutip dalam riset Monash University menunjukkan, kasus malaria di Indonesia meningkat 69 persen dalam dua tahun, dari sekitar 418.000 kasus pada 2023 menjadi 706.000 kasus pada 2025.

Sementara itu, DBD juga masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Sepanjang 2025, penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes itu tercatat menyerang sekitar 161.937 orang di Indonesia, dengan angka kejadian mencapai 57,02 kasus per 100.000 penduduk.

Studi peneliti Monash University yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menyoroti hubungan kompleks antara perubahan iklim, kondisi ekologi, epidemiologi, dan faktor sosial-ekonomi dalam penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk.

Peneliti utama dari Health and Climate Initiative Monash School of Public Health and Preventive Medicine, Dr. Toby Cumming, menjelaskan, kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat memperluas wilayah yang sesuai bagi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang biak.

Meski demikian, dampak perubahan iklim terhadap penularan penyakit tidak selalu sama di setiap wilayah. Pengaruhnya bergantung pada musim, kondisi lingkungan, serta faktor lain yang memengaruhi populasi nyamuk dan interaksi dengan manusia.

Cumming juga menyoroti perbedaan tren malaria dan DBD dalam jangka panjang. Meski pemanasan global terus berlangsung, perkembangan kedua penyakit tersebut tidak menunjukkan pola yang sama.

Associate Professor Henry Surendra dari Monash University menjelaskan, perbedaan itu tidak hanya dipengaruhi oleh iklim. Upaya pengendalian nyamuk dan pengobatan turut membantu menekan penularan malaria.

Sebaliknya, urbanisasi dapat menciptakan kondisi yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes, terutama ketika lingkungan perkotaan menyediakan tempat penampungan air yang tidak dikelola dengan baik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian DBD. Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan lingkungan, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Saat ini, Henry bersama tim peneliti dan Kementerian Kesehatan RI juga berupaya mengidentifikasi faktor iklim, lingkungan, dan demografi yang berkaitan dengan kejadian malaria dan DBD di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Kalimantan Timur.

Menurut Cumming, penurunan kasus malaria dalam periode panjang tidak berarti ancaman penyakit tersebut telah berakhir. Ia menyoroti peningkatan kasus malaria secara global serta lonjakan DBD sebagai alasan untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan.

Sejumlah pendekatan juga terus dikembangkan untuk menekan penyebaran DBD, antara lain vaksin dan pengendalian vektor menggunakan bakteri Wolbachia. Bakteri ini dimanfaatkan untuk mengurangi kemampuan nyamuk Aedes dalam menularkan virus dengue.

Selain itu, peneliti menekankan perlunya pendekatan terpadu yang mencakup pengendalian vektor, vaksinasi, perbaikan lingkungan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca.

Upaya tersebut dinilai penting karena penanganan penyakit yang ditularkan nyamuk tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Pengendalian faktor lingkungan dan perubahan iklim juga perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk melindungi masyarakat. (*)

Editor : Jamil Qasim
Naik 69 persen dbd