Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Stok Barang Kebutuhan Menipis di Bintan, Banyak Rak di Swalayan Kosong

Slamet Nofasusanto • Kamis, 11 Desember 2025 | 09:00 WIB
Rak-rak untuk meletakkan barang dagangan atau bahan kebutuhan masyarakat di swalayan di Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara terlihat kosong, Rabu (10/12).
Rak-rak untuk meletakkan barang dagangan atau bahan kebutuhan masyarakat di swalayan di Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara terlihat kosong, Rabu (10/12).

batampos- Stok bahan kebutuhan masyarakat di beberapa swalayan di Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara mulai menipis.

Rak-rak untuk meletak bahan kebutuhan seperti mentega, gula, sayuran bahkan buah-buahan terlihat kosong karena pasokan yang menipis.

Karyawan bagian operasional di Swalayan Pelangi, Ayu mengatakan mereka hanya menghabiskan stok barang dagangan yang ada karena kabarnya pasokan dari Batam tidak bisa masuk.

"Stok mulai menipis seperti beras, gula dan minyak makan. Kami tinggal menghabiskan stok saja," ungkapnya, Rabu (10/12).

Jika pasokan tidak segera masuk dari Batam, ia mengatakan kemungkinan besar akan ada lebih banyak rak kosong, bahkan kemungkinan tidak ada barang di awal tahun depan.

Ia mengatakan bahwa hampir semua harga bahan kebutuhan naik karena pasokan yang tersendat, contohnya bahan-bahan untuk pembuat kue yang naik rata-rata sekitar Rp 2 ribu. Harga kacang tanah juga mengalami kenaikan, tapi stoknya habis.

"Informasinya masuk minggu ini, tapi sampai saat ini belum ada," katanya.

Ia mengatakan bahwa mereka tidak menjual beras Bulog karena masyarakat lebih memilih beras merek lain seperti Gonggong.

Sayangnya, stok beras Gonggong juga sudah habis.

"Itu pun beras Gonggong sudah habis. Tidak tahu lagi nanti kita ini mau makan apa lagi," katanya.

Ia mengibaratkan bahwa jika barang ada tapi mahal, masih bisa dibeli, tapi jika barangnya tidak ada, maka tidak ada pilihan lain.

"Ibaratnya kalau pun mahal, barangnya ada tapi mahal masih bisa dibeli, tapi kalau mahal barangnya tidak ada, apa yang mau dibeli," katanya.

Baca Juga: Pengamen Tewas di Pasar Pujabahari, Lubukbaja, Batam

Salah satu pembeli, Rosti Samosir merasa kaget melihat banyak rak kosong di Swalayan Prima Indah, Tanjunguban.

"Tidak biasanya seperti ini, kosong melompong. Kaget saja. Biasanya rak-rak ini penuh, apa yang kita cari ada," katanya.

Ia lebih memilih belanja di swalayan karena lebih praktis dan bisa berbelanja kapan saja, tidak seperti di pasar tradisional yang harus pagi-pagi.

"Tapi kalau belanja di Swalayan, apa saja dapat," katanya.

Ia mengatakan, meskipun ada kenaikan harga, tapi masih terjangkau.

Ia juga menghampiri rombongan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang sedang melakukan pengecekan harga beras di swalayan tersebut, dan menunjukkan kondisi rak-rak yang kosong.

"Ini banyak rak yang kosong, cuma popmie saja yang tersedia," katanya.

Pengelola swalayan berharap kehadiran rombongan dari Bapanas bisa membantu mengatasi masalah ini.

"Kehadiran bapak ibu di sini, Insha Allah, mudah-mudahan," kata pengelola swalayan.

Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Bapanas, Akber mengatakan bahwa mereka memantau harga beras untuk memastikan tidak ada harga di atas HET.

Setelah melakukan pemantauan di dua lokasi, mereka tidak menemukan harga di atas HET.

"Harga beras di bawah HET semua," katanya.

Ia mengatakan bahwa mereka fokus memantau harga beras terlebih dahulu, namun akan melaporkan kondisi pasokan bahan kebutuhan yang menipis di Bintan kepada pimpinan.

"Kita akan laporkan kondisi yang ada di Bintan, nanti kita lihat perkembangannya," katanya.

Ia juga belum bisa menjelaskan penyebab stok bahan kebutuhan menipis, karena masih mencari informasi.

"Kami kurang tahu. Kita masih mencari informasi dulu," pungkasnya. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#stok sembako