Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Rekonstruksi Ungkap Detik-Detik Nelayan Bintan Dibunuh, Amizan Sempat Tinggalkan Pesan untuk Keluarga

Slamet Nofasusanto • Selasa, 6 Januari 2026 | 23:50 WIB
Rekonstruksi pembunuhan Amizan, nelayan Bintan di lokasi penemuan jasadnya di area luar rumah kosong eks pekerja PT. Antam, Kijang, Bintan Timur, Selasa (6/1/2026). F. Slamet Nofasusanto/Batam Pos
Rekonstruksi pembunuhan Amizan, nelayan Bintan di lokasi penemuan jasadnya di area luar rumah kosong eks pekerja PT. Antam, Kijang, Bintan Timur, Selasa (6/1/2026). F. Slamet Nofasusanto/Batam Pos

batampos – Polisi menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan nelayan bernama Amizan (31) di Kijang, Kecamatan Bintan Timur, Selasa (6/1/2026). Rekonstruksi berlangsung di lokasi penemuan jasad korban, yakni di area luar rumah kosong eks pekerja PT Antam.

Sebanyak tiga tersangka dihadirkan dalam rekonstruksi tersebut, masing-masing Sahril alias Cali (26), La Sahrul (23), dan Yusrin (22). Selain itu, polisi juga menghadirkan lima orang saksi.

Rekonstruksi turut disaksikan keluarga korban dan warga sekitar. Anak korban, Wulandari (14), tampak hadir dan menyaksikan langsung jalannya rekonstruksi.

Kanit I Pidum Satreskrim Polres Bintan, Iptu Yofi Akbar, mengatakan total ada 33 adegan yang diperagakan oleh para tersangka, menggambarkan rangkaian peristiwa hingga korban meninggal dunia.

“Tersangka Sahril alias Cali berperan sebagai eksekutor. Dua tersangka lain membantu melakukan penganiayaan,” ujar Yofi.

Dari hasil rekonstruksi terungkap, Amizan tewas pada adegan ke-21. Sebelumnya, ketiga tersangka membawa korban dari Taman Kota Kijang menuju rumah kosong eks pekerja PT Antam.

Di lokasi tersebut, para tersangka sempat menenggak minuman beralkohol bersama korban. Setelah itu, Sahril menikam perut Amizan. “Setelah minum, tersangka Sahril langsung menikam perut korban,” kata Yofi.

Amizan sempat berusaha melawan dan melarikan diri. Namun upaya itu digagalkan oleh La Sahrul dan Yusrin. Sahril kemudian menikam korban secara berulang hingga tewas. “Korban melawan dan sempat mau lari, tetapi dihalangi dua tersangka lainnya,” jelas Yofi.

Setelah memastikan korban meninggal dunia, Sahril memerintahkan dua tersangka lainnya untuk memindahkan jasad Amizan ke bagian samping depan rumah kosong sebelum meninggalkan lokasi kejadian.

Polisi menyebut pembunuhan ini dipicu dendam pribadi terkait utang piutang, yang diperparah oleh pengaruh alkohol. “Motifnya masalah pribadi dan dipicu minuman keras,” tambah Yofi.

Sementara itu, sebelum meninggal dunia, Amizan sempat meninggalkan pesan kepada kakaknya, Robiana (39), terkait anaknya.

“Aku serahkan anak ini (Wulan) kepada kamu. Kalau aku pulang kampung nanti, anggap saja anak ini seperti anak kamu sendiri,” kata Robiana menirukan pesan Amizan.

Sore sebelum kejadian, Amizan sempat berjalan-jalan bersama keluarga di Taman Kota Kijang. Wulandari bahkan sempat meminta uang kepada ayahnya.

“Bapak bilang tidak punya uang, cuma tinggal Rp 5 ribu. Kalau mau makan, jual saja handphone itu,” ujar Robiana.

Wulandari masih mengingat jelas momen terakhir bersama ayahnya. “Setelah itu bapak peluk kami,” ucapnya lirih, seraya menyebut masih menyimpan handphone pemberian sang ayah.

Robiana mengaku sempat melarang Amizan menemui ketiga tersangka malam itu. Namun larangan tersebut tidak dihiraukan.

“Kami sudah larang pulang saja karena sudah malam. Tapi dia bilang tidak apa-apa, itu kawan lamanya,” katanya.

Perasaan tak enak sempat menyelimuti keluarga sebelum akhirnya kabar duka datang. “Rasa tidak enak itu ternyata benar. Adik kami pergi untuk selamanya,” ujar Robiana.

Usai rekonstruksi, Wulandari tak kuasa menahan tangis. Ia berharap ketiga pelaku dijatuhi hukuman setimpal. “Saya mau mereka dihukum seberat-beratnya,” katanya. (*)

Editor : M Tahang
#pembunuhan #bintan