batampos – Puluhan karung limbah minyak hitam seberat sekitar dua ton ditemukan terdampar di pesisir Pantai Belakang Desa Mapur, Bintan. Limbah diduga sudah dua pekan berada di lokasi sebelum dibersihkan warga bersama aparat.
Camat Bintan Pesisir, Assun Ani, mengatakan temuan itu baru diketahui dan langsung ditindaklanjuti dengan aksi gotong royong pada Senin (16/2).
“Baru diketahui dan langsung kita laksanakan gotong-royong membersihkan pantai,” ujarnya, Rabu (18/2).
Menurutnya, karung-karung limbah ditemukan di sepanjang pesisir Pantai Belakang Mapur hingga Pantai Songseng. Kawasan tersebut tidak berpenghuni dan langsung menghadap laut lepas, sehingga limbah diduga terbawa arus.
Perangkat desa bersama personel TNI dan masyarakat setempat turun langsung melakukan pembersihan. Hingga kini sekitar 50 karung limbah minyak hitam berhasil dikumpulkan dengan perkiraan total berat mencapai dua ton.
“Namun masih banyak karung limbah yang berserakan di pesisir Pantai Belakang Pulau Mapur sampai ke Pantai Songseng,” katanya.
Proses pembersihan dan pemindahan limbah terkendala cuaca buruk. Saat ini wilayah tersebut masih berada dalam musim utara dengan gelombang dan angin cukup kuat.
“Kita mau mobilisasi masyarakat ke pantai belakang sedikit kesulitan karena cuaca masih musim utara,” jelasnya.
Pihak kecamatan telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bintan untuk menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk mekanisme pemindahan dan pengolahan limbah.
Kepala DLH Bintan, Niken Wulandari, membenarkan pihaknya telah menerima laporan terkait temuan limbah tersebut.
“Mereka sudah melaksanakan gotong-royong dan mengumpulkan karung-karung di satu lokasi,” ujarnya.
Menurutnya, karena lokasi cukup jauh dan akses terbatas, dibutuhkan armada khusus untuk mengangkut limbah ke gudang pengelola limbah B3 di Tanjunguban.
“Untuk pengangkutan, kami masih berkoordinasi dengan DLH Kepri dan kementerian terkait,” pungkasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim