Batampos - Sekolah Dasar (SD) Negeri 002 Seri Kuala Lobam menerapkan program inovasi Brikola atau Briket dari Limbah Kelapa dengan mengelola limbah tempurung dan sabut kelapa menjadi briket arang sebagai bahan bakar alternatif.
Kepala SD Negeri 002 Seri Kuala Lobam, Suharyanto mengatakan, program tersebut digagas karena banyak limbah kelapa di wilayah pesisir Seri Kuala Lobam yang selama ini dibakar atau dibiarkan menumpuk.
"Kami ingin anak-anak sejak dini memahami sampah atau limbah bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Lewat Brikola mereka belajar sains, kepedulian lingkungan sekaligus dasar-dasar kewirausahaan," ujarnya, Minggu (12/7/2026) kemarin.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pencuri Uang 15.000 Dolar Singapura, 2 Pelaku Masih Buron
Ia menjelaskan, inovasi Brikola diintegrasikan ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Gaya Berkelanjutan sesuai Kurikulum Merdeka.
Siswa terlibat langsung mulai dari pengumpulan limbah, pencampuran dengan perekat alami, pencetakan hingga penjemuran.
Proses ini melatih motorik, kerja sama tim, dan rasa tanggung jawab mereka terhadap lingkungan.
"Mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi belajar dari alam dan untuk alam," tambahnya.
Suharyanto menambahkan, secara lingkungan program ini mengurangi polusi akibat pembakaran limbah kelapa.
Briket yang dihasilkan memiliki kualitas pembakaran baik, tahan lama, dan minim asap.
Ke depan, ia mengatakan, pihak sekolah berencana mengembangkan Brikola sebagai produk kewirausahaan sekolah.
Hasil penjualan briket akan digunakan untuk kas sekolah dan kegiatan belajar siswa serta memberi wawasan bisnis sejak dini.
Baca Juga: Modus Baru Curanmor Jadi Perhatian Polisi, Pakai Mobil Kelabui Korban
Ia berharap, inovasi Brikola ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di wilayah pesisir atau area perkebunan kelapa.
"Kita juga terbuka untuk kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun swasta untuk pengembangan mesin pencetak dan kemasan produk yang lebih baik," pungkasnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak