Batampos- Nelayan Bintan menolak rencana aktivitas sedimentasi di Perairan Numbing, Bintan. Mereka khawatir kegiatan sedimentasi pasir laut akan menghilangkan mata pencaharian karena wilayah tersebut merupakan lokasi tangkap nelayan.
"Kalau di situ diganggu, di mana lagi kami mencari makan. Kalau mereka jadi beraktivitas di sana, mata pencaharian kami bakal hilang," ungkap nelayan Bintan, Ksiyan yang akrab disapa Tok Itam, Senin (27/7/2026).
Menurut Tok Itam, Laut Numbing menjadi tempat mencari ikan bagi nelayan Bintan, Batam, Tanjungpinang hingga Lingga baik saat musim utara maupun selatan.
"Di situ tempat kerja nelayan, di situlah nelayan mencari makan," ujarnya.
Baca Juga: AKBP Farouk Jabat Wakapolresta Tanjungpinang, Fokus Benahi Pembinaan Internal
Ia menyebut, hasil tangkapan terbesar nelayan ada di Laut Numbing.
Dalam 15 hari melaut, ia mengatakan, penghasilan kotor nelayan bisa puluhan juta, bahkan satu malam bisa mencapai belasan juta.
"Orang-orang Lingga juga melautnya di situ. Di Lingga pernah dikeruk pasir, makanya dia orang lari ke sini, tempat mereka sudah tidak banyak ikan," katanya.
Maka dari itu, ia memilih bertahan dan menolak aktivitas sedimentasi dilakukan di Laut Numbing, Bintan.
Baca Juga: Batam Gagal Masuk 10 Kota Paling Maju di Sumatera, Pemko Akui Pengangguran Jadi Kendala Utama
"Kalau memang terjadi, kita mau kerja apa lagi," pungkasnya.
Koordinator Aliansi Masyarakat Nelayan Pesisir Bintan, Rudi Herdiawan mengatakan, lokasi yang ditetapkan sebagai sedimentasi merupakan wilayah tangkap nelayan.
Ia khawatir, lumpur hasil penyedotan atau pengerukan pasir laut akan membuat air keruh dan menutup karang.
"Kalau sudah tertutup lumpur, ikan bakal lari ke tempat lain yang bisa buat mereka bertelur," ujarnya.
Menurutnya, dampak kegiatan itu akan mengenai nelayan jaring, bubu hingga rumpon yang melaut hingga 20 hingga 30 mill dari lokasi aktivitas.
"Ini sudah bukan mau menyehatkan karang lagi tapi tambang pasir laut," pungkasnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak