batampos – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanjunguban Selatan 3 di Jalan Raya Busung, Kelurahan Tanjunguban Selatan, Kecamatan Bintan Utara, telah berhenti beroperasi selama sekitar 1,5 bulan atau enam pekan. Kondisi ini berdampak pada ribuan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta puluhan pekerja dapur yang kehilangan sumber penghasilan.
Salah seorang pekerja yang terdampak, Nikmatul Solikah (49), mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sejak dapur MBG berhenti beroperasi. Perempuan yang bekerja sebagai leader bagian memasak selama delapan bulan itu mengatakan seluruh penghasilan keluarganya bergantung pada program tersebut.
"Ya Allah, saya terus terang saja, bukan mengeluh, tapi pemasukan tidak ada. Apalagi suami saya juga kerja di dapur bagian cuci ompreng. Kami pemasukannya dari sini semua," ujarnya dengan suara bergetar, Rabu (29/7).
Baca Juga: Karutan Batam Tinjau Blok Hunian, Pastikan Hak Warga Binaan Terpenuhi
Suaminya, Eliltiawan, juga bekerja di dapur MBG sebagai petugas pencuci ompreng. Saat dapur masih beroperasi, Nikmatul memperoleh upah sekitar Rp150 ribu per hari, sedangkan suaminya menerima sekitar Rp100 ribu per hari.
Kini, keduanya kehilangan pendapatan, sementara kewajiban membayar cicilan rumah tetap berjalan.
"Saya juga bingung karena masih harus membayar cicilan bank. Kalau tidak bayar, rumah saya bisa disita. Sekarang setiap malam salat, saya menangis. Ya Allah, kapan dibuka lagi, ke mana lagi saya cari uang," tuturnya sambil menahan tangis.
Akibat tidak adanya penghasilan, Nikmatul juga terpaksa menunda rencana menyekolahkan anak sulungnya ke perguruan tinggi. Untuk sementara, ia hanya membantu berjualan di kantin milik warga selama beberapa hari terakhir.
Terkendala Virtual Account BGN
Kepala SPPG Tanjunguban Selatan 3, Muhammad Arief, mengatakan dapur MBG belum kembali beroperasi sejak libur sekolah karena masih menunggu penyelesaian administrasi dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Setelah libur anak sekolah, kami juga belum beroperasi. Kami masih menunggu jawaban dari BGN," ujarnya.
Menurut Arief, kendala terjadi saat proses pergantian Person in Charge (PIC) di BGN. Akses Virtual Account (VA) yang digunakan untuk transaksi masih terhubung ke alamat surat elektronik yang bermasalah sehingga proses pencairan dana tidak dapat dilakukan.
"Ada masalah saat input email, jadi harus diurus ulang. Kalau di kami tidak ada pergantian data, hanya meminta agar VA dikirim ke email yang benar supaya kami bisa beroperasi kembali. Pengajuan sudah sejak bulan lalu, tetapi diminta menunggu karena BGN sedang melakukan pembenahan di pusat," jelasnya.
Hampir 3.000 Penerima Manfaat Belum Terlayani
Arief mengungkapkan penghentian operasional dapur MBG berdampak terhadap sekitar 2.900 penerima manfaat yang berasal dari 30 sekolah dan tiga posyandu di wilayah Bintan Utara dan Seri Kuala Lobam.
Selain itu, sebanyak 48 pekerja dapur MBG juga harus dirumahkan selama operasional dihentikan.
"Relawan lebih kasihan karena yang bekerja merupakan masyarakat ekonomi ke bawah. Bahkan ada suami istri yang seluruh penghasilannya bergantung pada dapur MBG. Selama 1,5 bulan ini mereka tidak mendapat penghasilan. Mereka mengeluh, bahkan ada yang menangis kepada kami," katanya.
Ia berharap proses pembaruan Virtual Account di BGN dapat segera diselesaikan sehingga dapur MBG Tanjunguban Selatan 3 dapat kembali beroperasi dan pelayanan kepada ribuan penerima manfaat dapat segera dipulihkan. (*)
Editor : Jamil Qasim