batampos – Sebanyak 600 pelari dari Batam, Tanjungpinang, Tanjunguban, Lobam, dan Lagoi menjajal rute kawasan Bintan Industrial Estate (BIE) dalam ajang Tropical Night Run pada Sabtu (26/9/2026).
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, antusiasme peserta terlihat meningkat. Panitia membuka dua kategori lomba, yakni 5 kilometer (5K) dan 10 kilometer (10K), dengan rute yang mengitari area di dalam hingga luar kawasan industri.
Di antara ratusan peserta, terdapat Nicho, pelajar Tunas Bangsa. Ia berhasil menyelesaikan lomba di posisi ke-10. Bagi Nicho, Tropical Night Run menjadi event lari kedua yang diikutinya.
Cerita berbeda datang dari Syafa Nabila Saepudin, karyawan PT CCI Lobam. Baru pertama kali mengikuti lomba lari, Syafa memberanikan diri turun di kategori 5K.
"Ini pertama kali ikut event lari. Saya ikut karena sebelumnya acaranya seru, jadi penasaran ingin coba," ujar Syafa yang mencatatkan waktu 49 menit.
Untuk mempersiapkan diri, Syafa mengaku rutin berlatih sepulang kerja dengan menjajal rute yang digunakan dalam perlombaan.
Aksi unik juga ditampilkan Jaswan, pelari asal Lagoi. Di tengah gelapnya malam, ia menarik perhatian peserta lain saat mengikuti lomba 5K dengan mengenakan kostum yang menggambarkan orang dengan gangguan jiwa sambil memanggul karung sampah.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Tropical Night Run.
Menurutnya, kegiatan lari kini semakin banyak digelar dan memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat. Ia juga mengapresiasi kreativitas panitia yang membuat medali dari limbah plastik daur ulang.
"Ini menarik, plastik bekas bisa didaur ulang dan disulap menjadi medali," ujarnya.
Hasan berharap kegiatan serupa dapat terus digelar karena tidak hanya mendorong masyarakat hidup sehat, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian daerah.
Sementara itu, General Manager PT Bintan Inti Industrial Estate (BIIE), Aditya Laksamana, mengatakan Tropical Night Run bukan sekadar ajang olahraga.
"Sebagai pengelola kawasan, kami tidak hanya mengembangkan industri, tapi juga mengajak masyarakat terutama para karyawan untuk hidup sehat dengan membiasakan diri berolahraga," ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, BIIE juga menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas rekor pengumpulan bibit mangrove terbanyak dalam penyelenggaraan ajang lari.
Setiap pelari menyumbangkan 10 bibit mangrove yang akan ditanam di area konservasi mangrove BIE, Busung, dalam dua pekan mendatang.
"Salah satu program kami adalah menjaga kelestarian lingkungan terutama mangrove. Di event ini kami akan menanam lebih dari 5 ribu bibit mangrove hasil donasi dari para pelari," pungkas Aditya.(*)
Editor : Cipi Ckandina