batampos – Limbah batik biasanya identik dengan persoalan lingkungan. Namun, di tangan Tri Jatmiko, limbah tersebut justru diubah menjadi sumber manfaat bagi masyarakat.
Pemilik Rumah Batik Bintan itu mengolah limbah pewarna alami batik menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian warga Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari konsep Ekang Green Creative Village, yang dirancang Jatmiko dengan menggabungkan batik, budaya, pariwisata, dan pertanian dalam satu rantai ekonomi berbasis masyarakat.
Jatmiko mengatakan, konsep tersebut bermula dari proses produksi di Rumah Batik Bintan. Ia sengaja meninggalkan penggunaan pewarna sintetis dan memilih bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar.
"Daun akasia, kulit pohon mahoni, hingga buah mangrove diolah menjadi pewarna alami untuk batik," ujar Jatmiko, yang juga merupakan inisiator Ekang Green Creative Village.
Menurut dia, penggunaan pewarna alami menjadi salah satu langkah untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia di desa.
Menariknya, sisa proses pewarnaan batik tersebut tidak langsung dibuang. Limbah kemudian dicampur dengan sampah rumah tangga dan diolah menjadi kompos.
"Limbahnya tidak dibuang begitu saja, tapi diolah menjadi kompos. Kompos inilah yang kemudian dimanfaatkan kembali oleh warga untuk pupuk di lahan pertanian mereka," katanya.
Dari Limbah Menjadi Pupuk
Jatmiko menjelaskan, selama ini sebagian petani di desanya masih bergantung pada pupuk sintetis. Menurut dia, penggunaan pupuk sintetis secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi tanah dan produktivitas pertanian.
Karena itu, kompos hasil pengolahan limbah batik diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mendukung pertanian warga.
"Dengan kompos ini, kami berharap kesuburan tanah bisa pulih kembali dan hasil panen petani meningkat," ujarnya.
Bagi Jatmiko, pengolahan limbah tersebut bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia ingin membangun sebuah ekosistem ekonomi yang membuat aktivitas produksi di desa saling terhubung.
Produksi batik menghasilkan limbah yang kemudian diolah menjadi pupuk. Pupuk dimanfaatkan untuk pertanian warga, sementara aktivitas batik dan pertanian dikembangkan sebagai bagian dari potensi wisata berbasis masyarakat.
Ia berharap konsep tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi warga.
"Mudah-mudahan tahun depan bisa direplikasi desa lain yang ada di Bintan maupun Kepri," pungkasnya.
Masuk 50 Besar SDGs Academy
Konsep ekonomi sirkular yang dikembangkan Jatmiko tersebut juga mendapat perhatian di tingkat nasional.
Dari lebih dari 900 pendaftar dari seluruh Indonesia, inovasi Ekang Green Creative Village berhasil masuk 50 besar Capstone Project SDGs Academy yang digelar Sekretariat Nasional SDGs Bappenas RI.
Tim Leader Sekretariat Nasional SDGs Bappenas RI, Arifin Rudiyanto, bahkan datang langsung ke Rumah Batik Bintan di Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, untuk melihat penerapan konsep tersebut di lapangan.
Arifin menilai apa yang dilakukan Jatmiko menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular yang dapat dikembangkan dari tingkat desa.
Menurut dia, peran Bappenas tidak hanya mengoordinasikan implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), tetapi juga membantu menjembatani kebutuhan para inovator di lapangan dengan lembaga terkait.
Kebutuhan tersebut antara lain berkaitan dengan infrastruktur dasar seperti akses jalan dan air bersih.
Ke depan, Jatmiko berharap Ekang Green Creative Village dapat berkembang menjadi destinasi wisata berbasis komunitas sekaligus menjadi model yang dapat diterapkan oleh desa-desa lain di Bintan maupun Kepulauan Riau.
Dengan menghubungkan batik, pengelolaan limbah, pertanian, dan pariwisata, ia ingin menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa dapat dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya yang ada secara berkelanjutan. (*)
Editor : Jamil Qasim