Dari Limbah Batik Jadi Pupuk Alami, Cara Tri Jatmiko Putar Ekonomi Desa Ekang Anculai

Slamet Nofasusanto • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 19:15 WIB
Warga melakukan aktivitas membatik dengan pewarna alami di Rumah Batik Bintan yang menjadi bagian Ekang Green Creative Village di Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.
Warga melakukan aktivitas membatik dengan pewarna alami di Rumah Batik Bintan yang menjadi bagian Ekang Green Creative Village di Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.

batampos – Di tangan Tri Jatmiko, pemilik Rumah Batik Bintan, limbah batik tidak berakhir menjadi pencemar lingkungan. Limbah tersebut justru diolah kembali menjadi pupuk untuk menyuburkan lahan pertanian warga Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan.

Inovasi tersebut menjadi bagian dari konsep ekonomi sirkular yang dibangun Jatmiko melalui Ekang Green Creative Village. Ia memadukan batik, budaya, pariwisata, dan pertanian dalam satu rantai ekonomi yang saling terhubung.

Jatmiko mengatakan, konsep tersebut bermula dari Rumah Batik Bintan. Dalam proses produksi batik, ia memilih meninggalkan pewarna sintetis dan beralih menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar.

"Daun akasia, kulit pohon mahoni, hingga buah mangrove diolah menjadi pewarna alami untuk batik," ujar Jatmiko, yang juga merupakan inisiator Ekang Green Creative Village.

Menurutnya, penggunaan pewarna alami menjadi salah satu upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia di desa.

Setelah proses membatik selesai, limbah pewarna alami tidak langsung dibuang. Limbah tersebut dicampur dengan sampah rumah tangga untuk kemudian diproses menjadi kompos.

"Limbahnya tidak dibuang begitu saja, tapi diolah menjadi kompos. Kompos inilah yang kemudian dimanfaatkan kembali oleh warga untuk pupuk di lahan pertanian mereka," kata Jatmiko.

Ia menyebut sebagian petani di desanya masih bergantung pada pupuk sintetis. Menurut dia, penggunaan pupuk sintetis dalam jangka panjang dapat membuat struktur tanah menjadi keras dan berdampak terhadap produktivitas pertanian.

Melalui pemanfaatan kompos dari limbah batik, Jatmiko berharap kesuburan tanah dapat kembali terjaga dan hasil panen petani meningkat.

Ia juga berharap konsep tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

"Mudah-mudahan tahun depan bisa direplikasi desa lain yang ada di Bintan maupun Kepri," pungkasnya.

Masuk 50 Besar Capstone Project SDGs

Inovasi berbasis ekonomi sirkular yang dikembangkan Jatmiko turut mendapat perhatian di tingkat nasional.

Dari lebih dari 900 pendaftar dari seluruh Indonesia, inovasinya berhasil masuk 50 besar Capstone Project SDGs Academy yang digelar Sekretariat Nasional SDGs Bappenas RI.

Tim Leader Sekretariat Nasional SDGs Bappenas RI, Arifin Rudiyanto, bahkan datang langsung ke Rumah Batik Bintan di Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, baru-baru ini untuk melihat implementasi program tersebut di lapangan.

Arifin menilai apa yang dijalankan Jatmiko menjadi contoh bagaimana konsep ekonomi sirkular dapat dikembangkan dari tingkat desa.

Ia menjelaskan, peran Bappenas tidak hanya mengoordinasikan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tetapi juga menjembatani kebutuhan para inovator di lapangan, seperti akses jalan dan air bersih, dengan lembaga terkait.

Arifin berharap Ekang Green Creative Village dapat berkembang menjadi destinasi wisata berbasis komunitas sekaligus menjadi model percontohan bagi desa-desa lain di Bintan dan Kepulauan Riau. (*)

Editor : Cipi Ckandina
pupuk limbah triathlon batik