batampos – Seorang pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di Tanjunguban, Kabupaten Bintan, mengeluhkan lonjakan tagihan air PDAM yang mencapai Rp 771.600 pada Oktober 2026. Padahal, pemakaian airnya disebut relatif sama dibandingkan bulan sebelumnya.
Keluhan itu disampaikan Asril Taher, 73, warga Jalan Datok Syahbandar, Gang Kenangan, Tanjunguban, saat ditemui di rumahnya, Senin (12/10).
Asril mengaku terkejut ketika mengetahui tagihan air bulan Oktober melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan September 2026.
Pada September, tagihan airnya tercatat Rp 281.400 dengan pemakaian sekitar 102 meter kubik. Namun, pada Oktober, tagihannya membengkak menjadi Rp 771.600, meski pemakaian air disebut tidak mengalami peningkatan berarti.
"Tagihan sebelum-sebelumnya hanya berkisar Rp 175 ribu hingga Rp 200 ribu per bulan, tapi tagihan terakhir melonjak jadi Rp 700 ribu lebih," ujar Asril.
Menurutnya, lonjakan tagihan tersebut sulit dipahami. Sebab, aktivitas dan kebutuhan penggunaan air di rumahnya tidak mengalami perubahan signifikan.
Ia menyebut pemakaian air pada September tercatat 102 meter kubik, sedangkan pada Oktober berada di kisaran 101 hingga 103 meter kubik.
"Pemakaian relatif sama atau lebih sedikit dari bulan lalu, tapi kenapa bisa tagihannya sampai Rp 771.600," keluhnya.
Tagihan Air Hampir Tiga Kali Lipat
Berdasarkan angka tagihan yang disampaikan Asril, terdapat kenaikan sebesar Rp 490.200 dibandingkan bulan sebelumnya.
Artinya, tagihan air Oktober meningkat sekitar 174 persen dari tagihan September.
Kenaikan tersebut dirasakan sangat memberatkan Asril yang kini hanya mengandalkan penghasilan sebagai pensiunan PNS golongan II di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bintan.
Terlebih, setiap bulan ia juga harus mengeluarkan biaya listrik rata-rata Rp 350 ribu.
Jika digabungkan, tagihan air dan listrik pada Oktober mencapai sekitar Rp 1,12 juta.
"Penghasilan habis buat bayar air dan listrik saja," katanya.
Asril berharap pihak PDAM dapat memberikan penjelasan mengenai penyebab lonjakan tagihan tersebut.
Ia juga meminta agar pencatatan meteran dan perhitungan tagihan diperiksa kembali untuk memastikan tidak terjadi kesalahan.
Sudah Melapor ke PDAM
Asril mengaku telah menyampaikan keluhannya kepada pihak PDAM Tanjunguban.
Namun, hingga Senin (12/10), ia menyebut belum mendapatkan respons atau penjelasan terkait lonjakan tagihan air tersebut.
Ia berharap persoalan ini segera ditindaklanjuti agar tidak terus membebani pelanggan, khususnya masyarakat yang memiliki penghasilan terbatas.
Sementara itu, penyebab pasti lonjakan tagihan air yang dikeluhkan Asril belum dapat dipastikan. Diperlukan pemeriksaan terhadap pencatatan meter, perhitungan tarif, serta kemungkinan faktor lain yang memengaruhi besaran tagihan. (*)